Kisah 1: Mencintai Apa Adanya Dalam Sebuah Hubungan

love unconditionally

Baru-baru ini gue mengalami beberapa kejadian yang memberikan pemahaman bahwa sebenarnya konsep mencintai apa adanya itu aplikasinya sangat luas.

Kejadian-kejadian itu juga membuat gue memutuskan untuk buat blog baru khusus untuk berbagi pemikiran-pemikiran semacam ini (guelagimikir.wordpress.com) dengan harapan bisa jadi media akumulasi pembelajaran pribadi dan barangkali juga berguna buat orang lain yang baca.

Secara garis besar, gue akan bahas 3 kisah yang terkait dengan konsep mencintai apa adanya versi gue:

  1. Kisah 1: Mencintai Apa Adanya Dalam Pacaran
  2. Kisah 2: Mencintai Apa Adanya Dalam Pertemanan
  3. Kisah 3: Mencintai Apa Adanya dan Hubungannya dengan Dunia Pendidikan

Kenapa dibagi jadi 3? Karena gue pikir kisah-kisah ini akan terlalu panjang kalau dijadikan satu tulisan.

Nah, langsung aja, kita lompat ke kisah mencintai apa adanya dalam pacaran.

Kisah 1:

Ada salah satu orang teman yang udah lumayan lama gue kenal. Gue udah lupa persisnya kapan, intinya dia kasih kabar lewat BBM kalau lagi ada masalah dengan hubungannya dengan pacarnya. Malam itu gue akhirnya memutuskan untuk ambil waktu dan ngobrol panjang lebar lewat telepon sama dia, dengan niat meringankan beban yang sepertinya terasa sangat berat.

Inti dari kisah malam itu adalah, ternyata mereka adalah dua orang yang sangat berbeda. Si cowok adalah tipe super cool, sementara temen gue adalah tipe yang kurang cocok kalau dicuekin melulu karena ga menggambarkan keseriusan si cowok dalam menjalani hubungan.

Gak ada yang salah dengan menjadi laki-laki seperti ini atau perempuan seperti itu.

Hubungan yang sehat adalah ketika masing-masing bebas jadi dirinya sendiri, ga ada yang perlu berkorban untuk puasin ego salah satu

Gue berkata sama dia bahwa sebenernya gak ada yang salah dengan dua hal ini. Ada tipe-tipe perempuan tertentu yang justru suka banget sama pacar yang gak kasih perhatian berlebih, ada juga tipe laki-laki yang suka banget kasih perhatian ke pacarnya. Gak ada yang salah dengan menjadi laki-laki seperti ini atau perempuan seperti itu. Gue kembali mengutip salah satu perkataan temen gue bahwa sebuah hubungan yang sehat adalah ketika masing-masing bebas jadi dirinya sendiri, ga ada yang perlu berkorban untuk puasin ego salah satu. Ketika ada salah satu yang harus terus-terusan berkorban padahal masalah sebenarnya sudah dikomunikasikan, sudah diomongkan, tapi tetap gak ada perubahan, ya artinya hubungan itu sudah ga sehat.

Selang beberapa hari setelah malam itu, singkat cerita, mereka mengambil keputusan untuk “break” untuk memikirkan ulang semuanya karena mereka sadar bahwa mereka adalah dua individu yang bertolak belakang secara karakter. Pada satu titik memang sebuah hubungan akan berhadapan dengan momen-momen seperti ini, di mana kita harus memikirkan semuanya baik-baik.

Beberapa hari setelah “break”, ternyata mereka putus. Salah satu hal yang membuat gue sedih adalah ketika keluar kata-kata, “Aku berusaha jadi terbaik tapi akhirnya aku ga akan pernah bisa. Dan mungkin buat saiapapun juga ga akan bisa.. Aku berusaha sabar kok kayak sia2. Aku mau minta sama Tuhan tapi aku ngerasa aku ga pantas.”

Semua orang berhak dicintai apa adanya

Gue tetep kasih support dan berkata sama dia bahwa semua orang berhak dicintai apa adanya. Yang terjadi dalam hubungan mereka sebenarnya bukan karena ada yang kurang berusaha untuk jadi yang terbaik, mereka cuma belum ketemu aja sama orang yang tepat.

Di titik ini, gue akhirnya benar-benar paham bahwa sebenarnya penting banget kita punya pemahaman yang kuat bahwa kita layak untuk diterima apa adanya terlepas dari segala kelemahan yang kita miliki, bahwa segala sesuatu ada waktu dan masanya termasuk masa senang dan sedih, dan bahwa Tuhan sayang sama kita walaupun begini begitu. Kasih sayang Tuhan terbukti dengan umur yang ditambahkan tiap hari, kesempatan yang diberi tiap hari untuk terus memperbaiki diri.

glm wp

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s