Settled or Unsettled Life?

Tulisan ini dibuat berdasarkan pemikiran gue di tahun 2015. Saat menulis ini, gue sedang berhadapan dengan 2 pilihan yang akan menentukan jalan hidup gue ke depan. Terima atau tolak beasiswa ke luar negeri? Pilih hidup yang settled atau unsettled?

Klik di sini untuk tau hasil dari keputusan yang gue ambil.

Belakangan gue sakit. Total 1,5 minggu gue habiskan hanya untuk makan dan tidur tanpa aktivitas penting yang gue kerjakan. Tapi seperti biasa, selalu ada keindahan yang bisa dinikmati dalam setiap hal, bahkan dalam jatuh sakit sekalipun. Karena sakit, gue akhirnya mendapat waktu untuk berpikir lebih dalam tentang beberapa hal.

Menurut gue, masa muda harus diisi dengan banyak hal bermanfaat dan hal ‘gila’, karena masa muda cuma sekali. Setelah bergelut dalam perjalanan panjang utuk menemukan kepingan diri gue dan apa yang ingin gue lakukan ke depannya. Gue akhirnya perlahan mulai merancangkan dan mendoakan tentang apa yang ingin gue lakukan dan apa yang sebaiknya gue hindari selama gue masih muda.

Gue sangat mensyukuri keadaan gue sekarang, sebuah keadaan di mana begitu banyak hal berjalan dengan mulus dan berbagai tawaran bagus berdatangan. Gue gak akan cerita terlalu jelas tentang tawaran-tawaran ini untuk mengurangi potensi salah paham. Hal yang mau gue ceritakan di sini adalah, tawaran-tawaran ini (kalau gue terima) punya potensi untuk menghadirkan perubahan besar di hidup gue. Sayangnya perubahan yang akan dihadirkan oleh tawaran ini kurang lebih bertentangan dengan apa yang ada di kepala gue tentang menikmati masa muda dengan melakukan hal ‘gila’.

young and crazy
Courtesy of: pinterest.com

Kalau semua berjalan lancar, gue mau lanjut S2 di bidang bisnis dan manajemen sembari melebarkan sayap dalam pergaulan bisnis internasional, gue mau mendirikan perusahaan startup gue sendiri dan menerapkan konsep-konsep inovatif yang ada di kepala gue, gue mau berkarya buat Indonesia dan bikin perbedaan. Gue tau ini sama sekali tidak mudah. Gue bahkan siap untuk malu, gagal, dan bangkrut demi mewujudkan  angan-angan ini.

Buat yang belum terlalu familiar dengan istilah settle, settle adalah sebuah kondisi dimana lu memilih untuk tidak banyak melakukan berbagai perubahan yang drastis terhadap kondisi lu yang sekarang. Memutuskan untuk hidup settle artinya memutuskan untuk hidup menetap dan tidak melakukan banyak perubahan.

Belakangan gue merasa seperti sedang menjalani sebuah fase baru. Sebuah fase dalam hidup dimana gue harus memilih untuk tetap fokus pada apa yang menjadi angan-angan gue, atau memutuskan untuk menerima berbagai tawaran menggiurkan lalu hidup settle. Buat gue saat ini, kata settle atau menetap terdengar seperti sebuah kata yang menakutkan. Seolah gue harus mengakhiri perjalanan petualangan gue, bahkan sebelum gue memulainya. Gue gak siap mental untuk settle, gue masih belum ingin settle. Gue masih ingin eksplorasi berbagai kemungkinan buat masa depan gue. Gue pikir akan tiba saatnya dimana gue memutuskan untuk hidup settle, tapi gue tau saatnya bukan sekarang.

ScreenHunter_06 Jun. 28 20.23
Courtesy of: wanderlustingmillenial.blog.com

Beberapa kesempatan yang sangat bagus sudah gue tolak dengan berat hati. Gue pikir, ya sudah, memang ini harga yang harus gue bayar untuk sebuah cita-cita. Ada tawaran yang gue tolak karena alasan integritas. Walaupun sebenarnya gue sendiri merasa pendirian gue belum terlalu kuat, bahkan masih banyak ruang kosong di hidup gue di mana integritas tidak hadir, tapi pelajaran besar ini makin mengingatkan gue bahwa selalu ada harga yang harus dibayar untuk setiap cita-cita dan keputusan. Kalau dalam ekonomi, namanya opportunity cost. Sebuah harga yang harus dibayar ketika mengambil sebuah pilihan.

ScreenHunter_06 Jun. 28 20.28
Courtesy of: economistjourneytolife.blogspot.com

Gue sudah siap kalau ke depannya gue gak akan dapat tawaran semacam ini lagi karena semua sudah gue pertimbangkan dengan sangat matang. Gue bahkan sampai gak enak dengan orang-orang yang menawarkan kesempatan-kesempatan itu. Gue juga sempat berdiskusi panjang dengan mama gue yang menyayangkan keputusan-keputusan gue untuk menolak kesempatan hidup enak dan masa depan terjamin.

ScreenHunter_06 Jun. 28 20.31
Courtesy of: liveluvcreate.com

Tapi siapa sangka bahwa kesempatan bagus bisa datang berkali-kali? Beberapa waktu yang lalu, datang lagi sebuah tawaran yang sangat bagus. Sebuah tawaran untuk kuliah di luar negeri dari kantor tempat gue bekerja. Gue sempat membayangkan tawaran ini datang kepada orang lain yang lebih pantas, kepada orang lain yang saat ini sangat menginginkan masa depan yang pasti dan terjamin.

Gue akhirnya memutuskan untuk menolak tawaran tersebut dan merekomendasikan orang lain untuk mendapatkannya. Menurut gue, mereka lebih pantas. Sementara gue? Gue cuma manusia yang merasa tertantang untuk menaklukkan ketidakpastian, yang merasa hidupnya lebih hidup ketika bergulat dengan keterbatasan. Gue cuma manusia yang berpikir kalau duit itu cukup sampai di taraf cukup, gak perlu berlebihan karena bisa counterproductive.

Courtesy of: newyorker.com
Courtesy of: newyorker.com

Mungkin suatu saat, saat gue baca lagi apa yang jadi pemikiran gue pada hari ini, gue akan menyesal sedalam-dalamnya karena melewatkan banyak kesempatan.

Atau

Mungkin justru gue bersyukur sebesar-besarnya dan merayakan kehidupan manis yang gue cita-citakan setelah mengorbankan berbagai kesempatan berharga dan bertahan dengan prinsip yang gue yakini saat ini.

Well, only God knows..

Klik di sini untuk baca hasil dari keputusan yang gue ambil

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s