My Business School Journey: Part 1

Percaya atau tidak. Silakan.
100% kisah nyata, tanpa rekayasa

footprint.
Kisah perjalanan gue menuju sekolah bisnis bermula pada tahun 2012. Saat itu bahkan belum terlintas sama sekali di pikiran gue untuk sekolah lagi di bidang bisnis. Dulu yang sempat ada malah keinginan untuk ambil S2 di bidang metalurgi karena gue S1 Teknik Metalurgi. Keinginan ini berujung pada upaya melamar beasiswa dari pemerintah Australia bernama beasiswa ADS sesaat setelah gue lulus kuliah. Upaya ini akhirnya tidak membuahkan hasil seperti yang gue harapkan pada waktu itu.

Setelah berjibaku melamar kerja sana sini dan melewati peristiwa ini, akhirnya gue dinyatakan diterima di sebuah perusahaan baja terbesar di Asia Tenggara. Keluarga gue adalah saksi bahwa jauh sebelum gue melamar ke sana dan akhirnya diterima, gue dikasih tau lewat salah satu hamba-Nya kalau bakal terjadi sesuatu yang besar dalam hidup gue dalam waktu 6 bulan ke depan. Sesuatu yang gak pernah timbul dalam hati dan terpikirkan oleh gue.

Ternyata persis 6 bulan setelah janji itu, gue udah berada di Korea Selatan untuk menjalani pelatihan kerja. Sebuah negeri yang bahkan sama sekali gak pernah timbul dalam hati dan sama sekali gak pernah terpikir untuk gue injaki. Bingung? Heran? Sama! Sampai sekarang gue masih terheran-heran. Who could tell exactly what will happen in the next 6 months? Bahkan, waktu gue nulis draft kisah ini di kapal, anak kecil di sebelah gue tiba-tiba nyanyi balonku ada lima. Sesuatu yang gak bisa gue prediksi 1 detik sebelumnya. A Superior Being is in play, shaping my life’s story.

visa-korea-gue

Buat gue, bekerja di perusahaan yang sekarang merupakan langkah yang hanya didasarkan pada kepercayaan bahwa Tuhan tau yang terbaik untuk gue. Jujur, sempat terpikir masalah gaji awal yang sangat jauh dibanding teman-teman yang bekerja di sektor pertambangan. Namun, gue belajar untuk mengesampingkan hal itu dan memutuskan untuk melangkah walau gue gak bisa liat jelas ke depan akan seperti apa.

Waktu awal bekerja di perusahaan yang sekarang, keinginan gue untuk kuliah lagi di bidang metalurgi masih kuat. Waktu tau bahwa ke depan akan ada kesempatan bagi orang-orang terpilih untuk dikuliahkan di salah satu universitas ternama di Korea Selatan, sempat keluar pemikiran kalau gue dapat kesempatan itu, gue akan sambut dengan senang hati. Sempat terpikir juga untuk berkiprah sebagai seorang global engineer yang berkeliling ke berbagai negara untuk menerapkan keahlian gue.

Seiring dengan berjalannya waktu, gue yang saat itu sedang mencari jati diri akhirnya mulai meragukan semua pemikiran gue. Banyak waktu yang gue habiskan untuk bertanya-tanya. Gue harus melangkah ke mana setelah ini? Apa gue yakin kalau gue akan menekuni bidang metalurgi seumur hidup? Kelebihan gue apa sebenarnya? Gue sebenarnya orang seperti apa? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan membingungkan lainnya yang berputar-putar di kepala gue.

Gue memutuskan untuk terus melangkah, mencoba menikmati pekerjaan sembari belajar banyak hal untuk menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan gue. Salah satu hal yang gue syukuri dalam perjalanan gue selama 3 tahun ke belakang adalah kesempatan untuk belajar banyak hal secara gratis di Coursera. Gue tau tentang Coursera dari teman kantor. Dia menjelaskan waktu itu bahwa Coursera adalah website dimana kita bisa belajar mengenai berbagai hal keren dari berbagai universitas top dunia secara gratis. Malamnya, gue langsung buat akun di Coursera dan ambil kelas ini itu.

Belajar di Coursera membuat gue mampu memandang dunia dari sudut pandang yang sama sekali baru. Gue jadi mampu melihat hubungan banyak hal yang terjadi di sekeliling gue dari sudut pandang ilmu ekonomi, manajemen, bisnis, pemasaran, psikologi, dan lain sebagainya. Memang, pemahaman gue jauh dari sempurna tapi justru pemahaman yang belum sempurna itu membuat gue sangat bergairah untuk bisa belajar dan gali lebih dalam tentang hal-hal tersebut. Gue mulai menyadari bahwa ketika gue belajar tentang bisnis, gue merasa senang. Sebuah rasa yang jarang gue rasakan waktu belajar tentang hal lain.

Sejak saat itu gue memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di bidang bisnis kalau memang keadaan memungkinkan. Hal tersebut juga sempat gue nyatakan dalam korespondensi gue dengan Prof. Christian Terwiesch dari Wharton School of Management, University of Pennsylvania (berbagi peringkat dengan Harvard dan Stanford sebagai sekolah bisnis nomor 1 di Amerika).

wharton intro to ops mgmt

wharton intro to ops mgmt 2

Klik tombol di bawah ini untuk baca kisah selanjutnya
vvvvvv 

===
Pemikiran-pemikiran lain:

Iklan

2 respons untuk ‘My Business School Journey: Part 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s