My Business School Journey: Part 2

Sambungan dari Part 1

Waktu kuliah, selama tingkat 1 dan tingkat 2, gue bisa dibilang amburadul. Euforia diterima di ITB dan disebut-sebut sebagai putra terbaik bangsa ternyata gak berlangsung lama. Karena baru merasa bebas dari rezim semi militer yang biasa ditegakkan papa di rumah, waktu kuliah akhirnya gue sok bertindak semaunya. ABG banget pokoknya. Gue sempat keranjingan chatting waktu itu dan, sebagai akibatnya, sampai semester 4 IPK gue masih 2 koma sekian.

Keadaan mulai berbalik waktu 2 orang teman sejurusan mendapatkan beasiswa penuh dari salah satu perusahaan tambang besar di Indonesia dan setelah lulus dijamin langsung masuk kerja. Waktu itu gue bahkan gak memenuhi syarat untuk mendaftar karena IPK harus minimal 3. Kejadian itu jadi semacam wake up call untuk gue yang sudah terlalu lama santai.

Gue lantas putar otak dan teringat dengan program berbasis Macro Visual Basic di Excel yang diperagakan oleh salah satu dosen gue, Pak Zulfiadi Zulhan. Beliau merupakan alumni berprestasi dari RWTH Aachen dan beliau sempat memenangkan penghargaan Ludwig von Bogdandy yang merupakan penghargaan bergengsi di bidang besi baja. RWTH Aachen juga merupakan almamater dari mantan presiden kita, B.J. Habibie.

Gue masih ingat jelas bagaimana gue terpana saat hanya dengan beberapa sentuhan, sebuah titik di diagram ternary bisa muncul begitu saja, saat sebuah diagram keseimbangan fasa teoritis bisa terbentuk secara otomatis, dan banyak lagi program-program canggih yang beliau buat. It literally blew up my mind.

Suatu kali, seusai kuliah, gue menghampiri beliau dan menanyakan apakah beliau sempat belajar secara formal tentang pemrograman menggunakan Microsoft Excel. Beliau menjawab bahwa dia hanya mempelajari semua itu secara otodidak.

Gue melihat Excel merupakan alat yang bisa membantu gue untuk meningkatkan IPK. Karena IPK gue waktu itu jelek, artinya selain gue harus dapat nilai bagus di mata kuliah baru semester depan, gue juga harus mengulang beberapa mata kuliah. Supaya bisa mencapai target IPK, gue harus bisa hitung jadi berapa IPK gue kalau gue ulang mata kuliah ini, sebanyak sekian SKS, lalu nilainya berubah dari ini ke ini. Lalu gue juga harus bisa hitung berapa target IP gue per semester selanjutnya dan berapa nilai yang harus gue peroleh per mata kuliah supaya bisa mencapai target itu. Ribet pokoknya kalau mau hitung manual.

Karena gue punya gambaran jelas tentang apa yang mau gue buat, akhirnya mulailah gue mengerjakan program pertama gue di Excel. Berbekal ingatan yang karatan tentang fungsi-fungsi Excel, ubek-ubek informasi di internet, dan kegagalan berulang kali, singkat cerita, jadilah 2 program Excel pertama gue yang gue beri nama IPK Targeter dan IP Counter.

Kedua program ini akhirnya jadi tonggak sejarah baru buat gue. Pertama, karena sejak menggunakan dua program itu, IPK gue menanjak naik. Kedua, karena sejak saat itu gue mulai mengembangkan program-program yang jauh lebih rumit.

Waktu gue di Korea Selatan, gue sempat bikin program permainan yang membantu gue dan teman-teman untuk bisa hapal berbagai macam klausa di ISO 9001:2008, waktu keranjingan belajar online gue kembangin kuadran prioritas otomatis dan pengatur jadwal otomatis sehingga gue berasa punya asisten pribadi yang nyodorin gue hari ini harus ngapain, serta beberapa proyek gila yaitu pembuat laporan otomatis dan puisi otomatis.

Automatic Poetry

Salah satu contoh puisi yang dihasilkan secara otomatis dengan menggunakan analisa pola kalimat menggunakan Microsoft Excel

Pembuat laporan otomatis yang gue terapkan di kantor telah berhasil menghemat ribuan jam kerja dalam setahun. Gue melihat peluang untuk membangun program semacam itu karena tipe data yang dianalisa begitu-begitu aja, dan cara analisa datanya pun sebenarnya begitu-begitu aja. Kenapa gak lempar semua logika untuk menerjemahkan data mentah itu ke dalam Excel dan biarkan dia menghasilkan laporan buat kita? Jadi ibarat kita lembar ayam mentah, beras, dan bumbu-bumbu lainnya lalu tinggal klik satu tombol, keluar-keluar udah jadi bubur ayam. Kalau bisa begitu, ngapain capek-capek masak bubur dulu, lalu masak ayamnya dulu, baru kemudian dicampur dengan bumbu lain baru jadi bubur ayam kan?

Inovasi ini akhirnya mengantarkan gue menerima penghargaan dari kantor dan berbagai macam tawaran seperti yang pernah gue kisahkan di sini. Tawaran-tawaran yang datang begitu menggiurkan sehingga gue sempat minta pertimbangan dari orang tua serta tukar pikiran dengan beberapa teman.

Lebih lanjut tentang proses pengambilan keputusan gue waktu berhadapan dengan tawaran-tawaran luar biasa serta hubungan inovasi di kantor dengan aplikasi beasiswa gue akan dibahas di Part 3.

===

Pemikiran-pemikiran lain:

Iklan

2 respons untuk ‘My Business School Journey: Part 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s