My Business School Journey: Part 3.1

Sambungan dari Part 2

Siang itu, di sekitar akhir 2014, manajer gue tiba-tiba manggil dan mengisyaratkan gue untuk ikutin dia jalan. Gue langsung curiga. Sepengetahuan gue, baru kali itu dia bertindak seperti itu. Gue akhirnya ikutin dia menuruni tangga dan berjalan ke luar gedung kantor sambil menebak-nebak apa yang akan dibicarakan nanti.

Yoto, what do you think about this company?“, tiba-tiba ia melontarkan pertanyaan seperti itu. Gue lalu menjawab sekenanya dengan mengatakan bahwa menurut gue perusahaan kita merupakan perusahaan yang besar namun masih banyak hal yang harus diperbaiki sehingga kita bisa jadi lebih baik lagi.

“Interesting! “. Dia lalu menjabarkan bahwa perusahaan pusat kami di Korea Selatan punya program tahunan untuk mengirimkan karyawan-karyawan dari anak perusahaan di berbagai belahan dunia untuk sekolah lagi. Menurut bos gue, ada beberapa orang yang direkomendasikan, salah satunya adalah gue.

Gue lalu bercerita bahwa orangtua gue akan sangat mendukung supaya gue lanjut sekolah lagi. Gue bertanya apa program sekolah yang ditawarkan termasuk studi di bidang bisnis? Ternyata enggak. Program yang ditawarkan adalah program magister teknik di salah satu kampus top di Korea Selatan (belakangan gue baru tau kalau ternyata kampus itu termasuk 10 kampus terbaik di Asia). Gaji pokok akan tetap dikasih + akan dikasih uang saku selama kuliah di sana. Ada masa ikatan dinas yang harus dijalani kalau gue ambil program ini, yaitu 6 tahun.

Dia kemudian mengajak gue masuk kembali ke kantor dan menunjukkan pilihan topik penelitian yang bisa gue ambil. Gue dikasih waktu satu hari untuk berpikir apakah akan menerima atau menolak tawaran itu. Siang itu bener-bener gak terasa nyata buat gue.

Beberapa saat setelah mendapat tawaran itu, gue mencoba menenangkan diri tapi gak berhasil. Akhirnya, gue cabut dari ruangan kantor lalu turun ke lantai bawah untuk telepon papa. Gue ceritakan apa yang barusan terjadi. Papa cuma bilang kalau pilihan ada di tangan gue. Apapun yang gue pilih maka papa akan dukung.

decision making

source: google.com

Waktu pulang kerja, gue cerita di beberapa grup pemuda gereja dan minta dukungan doa supaya gue bisa mengambil keputusan dengan bijak. Gak lama kemudian, seorang teman menyapa lewat chat. Gue bilang sama dia kalau gue lagi bingung, harus ambil keputusan seperti apa. Kalau dari gue, sebenernya gue gak mau ambil S2 di bidang metalurgi lagi. Gue udah memantapkan hati mau belajar lebih lanjut tentang bisnis. Tapi gue juga mikir, ini merupakan kesempatan yang sangat langka, terlalu sayang untuk disia-siakan begitu aja. Gimana kalau ternyata gue salah? Gimana kalau ternyata gue menyesal nantinya? Itu kan maunya gue, maunya Tuhan kayak apa sebenernya buat hidup gue?

Dia lalu cerita tentang pengalaman hidupnya. Dia bilang, intinya kalau memang Tuhan pengen kamu melangkah ke arah sana, Tuhan juga pasti akan kasih kamu keberanian untuk melangkah. Gue saat itu langsung teringat sebuah kisah yaitu kisah Daud vs Goliat (David vs Goliath). Kisah ini merupakan kisah yang sangat terkenal karena bercerita tentang Tuhan yang menyertai Daud sehingga ia yang begitu kecil dapat mengalahkan Goliat yang begitu besar hanya dengan sebuah ketapel.

Satu hal yang menginspirasi gue saat itu bukan perkara dia menang atau tidak, tapi lebih ke kisah pengambilan keputusan yang Daud lakukan. Menurut sejarah, Daud pada saat itu datang ke medan perang sebenarnya bukan untuk berperang tapi hanya untuk mengantarkan makanan kepada abang-abangnya yang sedang berjuang di medan perang. Waktu ia tiba di sana, Goliat sedang mengejek-ejek bangsa Israel. Singkat cerita, timbullah keberanian dalam hati Daud untuk melawan raksasa itu dan akhirnya menang. Memang ternyata benar kata teman gue, kalau Tuhan menghendaki kita melangkah ke sana, Tuhan akan berikan keberanian untuk melangkah. Where there is a vision, there is provision. Ketika Tuhan memberikan visi, Tuhan juga akan memperlengkapi kita sehingga kita dapat menjalaninya dengan baik.

Berdasarkan pemahaman itu, gue lalu mencoba untuk refleksi. Timbulkah keberanian dalam hati gue untuk ambil kesempatan ini? Ternyata enggak. Keberanian yang timbul malah keberanian untuk menolak tawaran beasiswa itu. Keesokan harinya, gue menghadap manajer gue lalu mengatakan bahwa gue sangat berterima kasih atas beasiswa yang telah ditawarkan. Gue sangat senang bisa terpilih jadi salah satu kandidat. Tapi, gue memutuskan untuk menolak tawaran tersebut. Dia lantas bertanya tentang alasannya dan berkata bahwa kalau menurut pepatah orang Korea ada 7 kesempatan besar yang bisa datang ke hidup seseorang. Menurut dia, tawaran beasiswa ini merupakan salah satu dari kesempatan besar itu.

Karena gue gak mungkin menjelaskan panjang lebar tentang Daud lawan Goliat, akhirnya gue cuma jelaskan salah satu alasan. Gue bilang kalau gue lebih memilih masa depan yang punya banyak opsi dibanding masa depan yang sudah jelas arahnya akan kemana. Gue masih mau coba banyak hal selama gue masih muda. Singkat cerita, akhirnya dia mengerti dan menghargai keputusan gue.

Beberapa saat setelah gue bilang begitu, hati gue terasa begitu damai. Sama sekali gak ada penyesalan. Gue merasa mantap dengan pilihan gue. Memang setelah nolak tawaran itu, gue masih belum tau harus melangkah ke mana. Yang gue tau cuma, toh Tuhan udah tuntun gue sejauh ini. Terserah mau jadi apa ke depannya.

===

Pemikiran-pemikiran lain:

Iklan

2 respons untuk ‘My Business School Journey: Part 3.1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s