My Business School Journey: Part 3.2

Sambungan dari Part 3.1

Beberapa saat setelah gue nolak tawaran dari manajer, gue dipanggil oleh kepala departemen untuk ngobrol di sebuah ruangan meeting. Dengan ditemani seorang teman yang bertindak sebagai penerjemah bahasa Korea, beliau kembali menyampaikan bahwa program beasiswa ini merupakan kesempatan yang sangat bagus untuk pengembangan karir gue. Sayang, lagi-lagi dengan berat hati gue harus menolak tawaran itu.

Beberapa orang mungkin menganggap gue sinting karena menolak tawaran yang sangat bagus itu. Mama termasuk orang yang menyayangkan keputusan gue untuk menolak tawaran untuk hidup enak serta terjamin. Gaji lebih dari cukup, disekolahin ke luar negeri, dan peluang karir yang sangat cerah begitu kembali dari luar negeri. Gak ada alasan buat gue untuk gak setuju dengan pendapat manajer, kepala departemen, dan mama gue. Memang mereka benar. Hanya saja, gue memilih untuk pegang sesuatu yang gue tau lebih benar: Bahwa Tuhan tau apa yang terbaik untuk hidup gue.

Bulan Oktober 2014, gue dapat kabar yang cukup mengejutkan. Salah satu teman gue sebentar lagi akan resign melanjutkan studi ke Australia. Gue banyak bertanya kepada dia tentang cara melamar beasiswa yang dia peroleh. Lewat dia, gue jadi tau tentang program beasiswa LPDP dari kementerian keuangan, sebuah program beasiswa yang kemudian mengantarkan gue mewujudkan angan-angan untuk sekolah bisnis di luar negeri.

Desember 2014, manajer kami mengadakan evaluasi kinerja masing-masing anggotanya selama setahun. Dia mengusahakan agar penilaian yang diberikan merupakan penilaian yang objektif. Kami dipanggil satu per satu ke dalam ruangan untuk menunjukkan rangkuman pekerjaan kami selama setahun. Sebuah usaha yang cukup baik.

Gue berdebar-debar menantikan giliran gue untuk masuk ke ruangan meeting. Setiap kali ada yang baru saja selesai, gue langsung menanyakan apa saja yang dibicarakan di dalam, bagaimana suasananya, seperti apa penilaian yang diberikan, dan sebagainya.

Singkat cerita, akhirnya tibalah giliran gue untuk masuk ke ruangan untuk menghadap sang manajer.

M: “Oh, Yoto! Come, sit down”
Gue: *cengar-cengir karena gugup lalu mengambil posisi di kursi yang telah disediakan
M: “Actually, you don’t need this evaluation”
Gue: “Huh? Why?”
M: “Because you are the best team member. You are very creative and innovative. I do not have any negative feedback for you”

Dia masih berbicara mengenai beberapa hal termasuk beasiswa yang gue lewatkan serta beberapa hal lain yang gak terlalu gue ingat. Gue saat itu lebih banyak diam sambil sesekali mengangguk-anggukkan kepala. Kurang lebih 10 menit kemudian, gue udah keluar dari sana.

Ada sebuah rasa yang mengganjal di dalam hati gue ketika gue dapat komentar semacam itu. Masalah utamanya adalah, gue gak merasa sudah berusaha dan bekerja dengan baik. Banyak juga kelakuan aneh-aneh yang gue buat di kantor.

Beberapa hal malah buat gue sedih dengan penilaian tahunan itu. Salah satunya adalah saat teman-teman gue yang loyalitas, kedisiplinan, serta semangat kerjanya sangat jauh di atas gue, malah minim apresiasi. Menurut gue, memberikan apresiasi atas kerja keras sama pentingnya dengan apresiasi atas hasil pekerjaan. Memang gue sudah berhasil mengembangkan sebuah terobosan yang cukup signifikan dengan menciptakan sebuah sistem pelaporan otomatis, tapi itu gak membuat gue otomatis jadi lebih baik dibanding yang lain. Terlalu banyak aspek yang luput dari penilaian.

Seorang teman bahkan cerita sama gue kalau dia langsung mencari tempat untuk menangis setelah keluar dari ruangan karena dia dibanding-bandingkan dengan gue dan disuruh mencontoh gue. Sore itu, seperti biasa yang gue lakukan saat pulang kerja, gue jalan sendirian ke parkiran motor dengan banyak hal di pikiran gue.

Everyone is a genius. But, if you judge a fish on its ability to climb a tree, it will live its whole life believing it is stupid – Albert Einstein

fish climb a tree

Kutipan pernyataan dari Albert Einstein serta gambar ilustrasi di atas menurut gue cukup menggambarkan apa yang gue yakini. Kalau kita ikan, kekuatan kita tentunya berenang begitu gesit di dalam air, atau kalau kita gajah maka tenaga luar biasalah kekuatan utama kita. Keberhasilan orang lain tentu baik untuk diamati, tapi tidak untuk ditiru mentah-mentah. Lebih baik berfokus sama kekuatan kita, lalu kembangkan kekuatan itu jadi sesuatu yang luar biasa. Jadilah perenang paling cepat, jadilah pemilik tenaga paling besar, jadilah pelari paling cepat, jadilah yang terbaik.

===

Pemikiran-pemikiran lain:

===

Iklan

2 respons untuk ‘My Business School Journey: Part 3.2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s