My Business School Journey: Part 3.3

Sambungan dari Part 3.2

Awal 2015, gue mulai menyusun rencana tahunan. Salah satu rencana gue saat itu adalah mengenal lebih lanjut mengenai syarat-syarat mendaftar beasiswa LPDP dan syarat-syarat mendaftar sekolah bisnis.

Syarat-syarat pendaftaran beasiswa LPDP dengan mudah bisa gue akses lewat di sini. Untuk sekolah bisnis, umumnya pendaftaran dilakukan secara online dengan mengumpulkan jawaban pertanyaan essay, transkrip S1 dalam bahasa Inggris, skor TOEFL iBT atau IELTS, serta skor GMAT.

Nah, persyaratan terakhir bernama GMAT itu sama sekali asing buat gue. Setelah gue telusuri lebih lanjut, ternyata GMAT merupakan singkatan dari (Graduate Management Admission Test). Hampir semua sekolah bisnis mensyaratkan skor GMAT ini karena merupakan indikator yang cukup kuat untuk memperkirakan performa pemilik skor selama menempuh studi.

Pertanyaan-pertanyaan selanjutnya kemudian timbul. Format tesnya seperti apa? Soal-soal yang diujikan apa aja? Berapa lama durasi tesnya? Berapa biaya tesnya? Dan banyak lagi pertanyaan lainnya. Gue sempat berpikir untuk belajar secara mandiri mengenai GMAT ini. Tapi karena banyak hal yang sangat asing buat gue, akhirnya gue memutuskan untuk ambil les GMAT di Jakarta, tepatnya daerah Cikini.

Tinggal di Cilegon membawa tantangan tersendiri buat gue. Jarak yang cukup jauh membuat gue harus menginap di rumah teman gue atau di rumah bibi gue supaya bisa mengejar jadwal les yang mulai pagi-pagi. Gue sempat menginap di kost temen gue dan tidur di lantai dengan alas tikar waktu awal-awal les karena gue masih belum paham naik KRL. Setelah diajari dan akhirnya paham, gue memilih untuk menginap di rumah bibi gue.

Waktu ambil les, akhirnya gue baru mengerti bahwa secara umum GMAT dibagi menjadi 4 bagian yakni Analytical Writing Asessment (AWA), Integrated Reasoning (IR), Quantitative (Quant) yang terdiri dari problem solving dan data sufficiency, dan Verbal yang terdiri dari Reading Comprehension (RC), Sentence Correction (SC), dan Critical Reasoning (CR). Lebih detail mengenai GMAT bisa dibaca di sini.

Kalau penasaran dengan contoh soal GMAT, silakan klik link di bawah ini:

Selama ini gue cukup pede dengan kemampuan bahasa Inggris yang gue punya. Tapi seketika semua itu berubah ketika negara api menyerang GMAT menyerang. Hari pertama, di samping gue duduk seseorang yang merupakan lulusan S1 Akuntansi dari Amerika. Ketika menjelang makan siang, kami masuk ke pembahasan soal RC. Gue yang waktu itu udah kelaperan, dipaksa untuk menghadapi soal-soal RC yang bikin gue tambah laper. Waktu baca, gue banyak blank, gak paham sepenuhnya mengenai apa yang gue baca. Gue jawab sekenanya. Ketika tiba waktunya untuk memeriksa jawaban, orang disamping gue bener semua. Sementara gue? Gue bahkan sampe gak berani ngelirik lembar jawaban gue yang isinya salah semua itu.

Setelah makan siang, kami lanjut lagi belajar mengenai soal-soal GMAT. Kali ini kami membahas soal SC. Dari dulu, grammar merupakan kelemahan utama gue. Banyak kali, gue mengandalkan feeling untuk menjawab soal-soal grammar. Biasanya feeling gue lumayan tepat. Tapi, karena soal-soal verbal di GMAT yang jauh lebih susah dari soal TOEFL dan IELTS, gue tiba-tiba harus berhadapan dengan realita bahwa gue hanya bisa menjawab 2 dari 10 soal SC dengan benar. Hidup bisa sekeras ini ternyata.

Sampai akhir masa les, gue masih berjuang untuk bisa mengerjakan soal-soal verbal dengan baik. Karena verbal merupakan bagian terakhir dari GMAT, maka tantangannya berlipat ganda. Selain harus memiliki kemampuan yang mumpuni, kita juga dituntut untuk memiliki stamina pikiran yang luar biasa karena harus bisa mempertahankan fokus setelah berjibaku dengan soal-soal sebelumnya selama kurang lebih 2,5 jam.

Gue fokus mempelajari GMAT sampai sekitar awal bulan Agustus 2015. Setelah itu gue mulai mempersiapkan berbagai persyaratan untuk mendaftar LPDP termasuk ambil TOEFL ITP di UI Depok. Waktu itu gue milih tes di sana karena berdekatan jadwalnya dengan acara education fair di Jakarta. Gue masih berkutat dengan persyaratan LPDP sampai pertengahan Oktober 2015. Setelah selesai mengumpulkan berkas, gue dapat surel dari LPDP yang menyatakan bahwa berkas gue sudah tersimpan dalam sistem.

notifikasi submit pendaftaran LPDP

Selanjutnya, gue menunggu sekitar sebulan sebelum akhirnya keluar hasil seleksi dokumen di bulan November.

hasil seleksi dokumen LPDP

jadwal seleksi substantif

Ada beberapa orang yang harus menyediakan waktu selama 2 hari untuk melewati 3 tahapan selesi substantif yang meliputi penulisan esai, LGD, dan wawancara. Jadwal sudah diatur oleh LPDP. Gue termasuk beruntung karena dapat jadwal seleksi cuma 1 hari untuk menyelesaikan 3 tahapan tersebut.

Waktu hari H seleksi, gue datang kepagian. Jadwal gue harusnya setelah makan siang, tapi karena gak mau ambil resiko, akhirnya gue datang sekitar jam 11 di UNJ. Karena gak terlalu familiar dengan UNJ, walaupun udah tanya-tanya orang, gue masih nyasar. Gue bahkan sempat dicegat satpam saat gue masuk ke sebuah ruangan. “Lho, pak, mau ke mana? Bagaimana caranya bisa sampai di sini?” tanya seorang satpam itu ke gue. “Oh, gak tau pak. Saya cuma coba-coba masuk aja. Habisnya tadi saya tanya orang, diarahkan ke sini”. Wkwkwk, konyol banget deh.

Akhirnya setelah menemukan gedung serta ruangan yang benar, gue merasa tenang. Gue sempat ngobrol dengan beberapa orang pelamar beasiswa mengenai rencana studi, negara tujuan dan sebagainya.

Setelah makan siang, akhirnya gue dipanggil untuk menjalani proses penulisan esai yang disambung dengan LGD. Waktu itu gue dihadapkan dengan 2 pilihan topik. Gue akhirnya memilih topik mengenai pendidikan dan hubungannya dengan persaingan. Gue lebih memilih topik ini karena pilihan topik yang satu lagi lebih berat menurut gue, yaitu membahas mengenai nasionalisme yang mulai memudar. Beruntung, gue pernah nulis sebuah pemikiran yang menggambarkan sebagian kegelisahan gue mengenai pendidikan. Gue mengingat-ingat kembali tulisan yang pernah gue buat itu dan menjadikannya kerangka utama untuk mengembangkan esai.

Tahapan seleksi selanjutnya adalah LGD (Leaderless Group Discussion). Seperti namanya, di tahapan ini kita diberikan sebuah bahan bacaan berupa isu nasional yang selama beberapa bulan belakangan santer dibicarakan lalu mendiskusikannya. Waktu itu, kami mendapatkan topik mengenai permasalahan asap yang sampai mengganggu negara tetangga. Kami berdisuksi mengenai penyebabnya, serta langkah-langkah penanggulangannya. Diskusi kami berjalan cukup lancar dan konstruktif.

Tahapan selanjutnya adalah wawancara. Jeda waktu antara LGD dan wawancara ini cukup lama yakni sekitar 4 jam. Selama kurun waktu 4 jam tersebut, gue gak henti-hentinya menghela napas untuk mengusir ketegangan. Gue mencoba memfokuskan pikiran untuk menghapal rencana studi serta melatih kembali jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan umum yang kemungkinan besar ditanyakan.

Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore ketika gue akhirnya dapat giliran untuk wawancara. Gue dipanggil untuk menaiki tangga dan menuju ke sebuah meja wawancara. Di ruangan tersebut ternyata gak cuma gue yang akan di wawancara, ada beberapa meja lain sesuai dengan bidang keilmuan. Yang melamar bidang teknik akan menuju ke meja yang berbeda dengan yang dituju oleh pelamar beasiswa bidang ekonomi.

Saat gue menghampiri meja wawancara, hanya ada satu orang pewawancara di sana. Beliau mempersilakan gue untuk duduk sembari menjelaskan bahwa pewawancara yang lain sedang mengambil kopi. Gak lama kemudian, 2 orang lain datang, jadi total 3 orang yang mewawancarai gue pada saat itu.

Gue merasa rileks waktu wawancara. Karena sudah melakukan riset yang cukup mendalam, gue dapat menjawab dengan lancar pertanyaan-pertanyaan mengenai rencana studi, apa guna studi gue untuk Indonesia, dan pertanyaan-pertanyaan lain seputar perkuliahan yang akan gue jalani.

Rencana studi yang gue buat yaitu mengenai pengembangan sistem pelaporan otomatis dalam skala antar departemen serta hubungannya dengan inovasi dalam sebuah perusahaan. Menurut data dari kementerian perindustrian, sekitar 70% industri manufaktur di Indonesia punya daya saing lemah dan sangat lemah. Kunci utama daya saing sebuah usaha adalah efisiensi dan kecepatan. Gue mencoba menjelaskan secara sederhana mengenai keberhasilan gue mempercepat proses analisa manufaktur hingga 98 kali lebih cepat dengan mengembangkan sebuah sistem pelaporan otomatis. Gue melihat peluang sistem ini bisa ditarik ke skala yang lebih luas yakni skala antar departemen dalam sebuah bisnis. Dengan dikembangkannya sistem ini ke skala antar departemen, arus informasi bisa mengalir jauh lebih cepat. Tidak diperlukan lagi rapat untuk meminta data dari departemen lain. Apa yang dulu dicapai dalam waktu 3-4 hari, bisa dicapai dalam waktu 5 menit.

Belum sempat gue menjelaskan tentang Samsung yang berhasil jadi raksasa smartphone karena bergerak dengan inovasi yang sangat cepat, serta potensi sistem gue yang memungkinkan orang-orang marketing bisa langsung paham rangkuman kondisi yang terjadi di level operasional perusahaan, HRD bisa menyesuaikan kebijakan dengan berkaca pada informasi mengenai kondisi pasar terkini, serta banyak konsep-konsep lainnya, gue udah dipotong dan disodori pertanyaan lain. Keliatannya mereka sudah cukup menangkap garis besar dari inovasi yang gue tawarkan karena mereka sempat menyamakan apa yang mau gue kerjakan dengan pencapaian seorang iluwan Indonesia yang berhasil memecahkan persamaan Helmhotz dan menjadikan proses perhitungan persamaan tersebut menjadi 100 kali lebih cepat.

Yang banyak bertanya adalah bapak dosen di tengah dan bapak dosen di kanan gue. Hampir tidak ada pertanyaan mereka yang di luar prediksi gue kecuali pertanyaan mengenai apa itu integritas dan jelaskan contohnya seperti apa. Wawancara gue saat itu kurang lebih 80% bahasa Indonesia, sisanya bahasa Inggris. Gue juga gak ngerti kenapa, padahal waktu baca-baca kisah dari orang lain, bisa sampai 100% bahasa inggris.

Sampai akhir wawancara, seorang ibu di sebelah kiri gue sama sekali gak melontarkan pertanyaan. Di akhir, ibu tersebut hanya memberikan masukan mengenai hal yang harus gue lakukan untuk mengembangkan diri lebih lanjut terutama soal kontrol emosi. Waktu beliau berbicara seperti itu, barulah gue sadar kalau ternyata dari tadi beliau lagi membaca karakter gue lewat jawaban-jawaban yang gue lontarkan. Ternyata beliau adalah seorang psikolog. Gue yang tadinya sudah mau beranjak pergi dari sana, akhirnya kembali duduk untuk mendengarkan pertanyaan beliau.

Seorang bapak dosen di tengah berpesan sama gue, “Setelah lulus, akan banyak tawaran-tawaran luar biasa mendatangi kamu. Jangan lupa pulang dan mengabdi kepada Indonesia ya?”

“I will keep my integrity, sir. I will keep my integrity.”

===

Pemikiran-pemikiran lain:

===

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s