My Business School Journey: Part 5

Sambungan dari Part 4

Proses penyusunan aplikasi beasiswa LPDP sebenarnya sekaligus jadi momen buat gue untuk refleksi dan bertanya kembali sama diri gue, “Apa bener sekolah bisnis merupakan hal yang ingin gue ingin lakukan selama kurang lebih 2 tahun ke depan? Yakin akan meninggalkan semua ini dan mulai petualangan baru di rimba yang hampir gak gue kenal sama sekali?”

Walaupun gue merasa mantap dan akhirnya bisa menyusun rancangan studi yang solid, selama masa-masa penantian, gue sempat merasa pesimis dengan peluang gue untuk bisa tembus beasiswa. Man! Thousands of people are looking for the exact same thing! Latar belakang pendidikan teknik gue juga sempat menjadi kekhawatiran tersendiri karena gak terlalu linear dengan ilmu bisnis yang akan gue pelajari nanti. Tentunya rancangan studi lanjut di bidang teknik akan lebih mudah buat untuk disetujui oleh pihak pemberi beasiswa. Terlebih, saat gue melamar beasiswa LPDP, gue belum dapat kampus sama sekali.

Oleh karena pertimbangan-pertimbangan di atas, gue akhirnya sengaja lamar beasiswa LPDP di batch IV 2015 yang merupakan batch terakhir pada tahun itu. Jadi kalau misalnya gue gagal di batch IV, gue masih punya kesempatan satu kali lagi di batch I 2016. Di kesempatan ke dua, gue akan lamar beasiswa ke dalam negeri dengan tujuan ITB atau UI. Begitu pikiran gue waktu itu.

Kelulusan gue di batch IV 2015 merupakan hal yang gak gue sangka-sangka. Gue waktu itu masih santai-santai karena beranggapan kalau gue sepertinya gak lulus dan harus daftar sekali lagi di batch I 2016. Sesaat setelah pengumuman, gue langsung intens mencari sekolah. LPDP tidak mencarikan sekolah untuk para penerima beasiswa. Jadi, gue yang waktu itu belum punya sekolah dan melamar beasiswa hanya dengan modal konsep, akhirnya harus pontang-panting cari sekolah. Sempat terpikir untuk memakai jasa agen pendidikan untuk membantu gue dalam mendaftar ke sekolah-sekolah bisnis. Tapi, lagi-lagi, tinggal di Cilegon membawa hambatan tersendiri buat gue karena sama sekali tidak ada jasa agen pendidikan semacam IDP di sini.

Ada satu hal yang belakangan baru gue sadari, harusnya sembari menyusun aplikasi beasiswa, gue sambil proses melengkapi berkas dan melamar ke sekolah bisnis. Rasa pesimis gue waktu itu akhirnya membuat gue menunda untuk melengkapi syarat-syarat penting untuk melamar sekolah, salah satunya adalah skor tes bahasa Inggris. “Lumayan kan uangnya, kalau gak lulus beasiswa ini, gue gak perlu ambil tes TOEFL iBT atau IELTS segala”. Begitu isi pikiran gue pada waktu itu.

Waktu pengumuman kelulusan beasiswa tiba, gue sebenarnya udah pegang skor GMAT yang merupakan hasil tes resmi di UI Salemba. Sayangnya, skor gue waktu itu masih kurang memuaskan. I am caught off guard. Skor TOEFL atau IELTS belum ada dan skor GMAT masih di bawah target membawa masalah tersendiri karena itu artinya, gue harus menunda pendaftaran ke sekolah-sekolah sampai syarat-syarat tersebut lengkap.

Hal ini kemudian masih harus ditambah berat dengan rangkaian tugas pra-PK (Pra Persiapan Keberangkatan) dari LPDP yang membawa beraneka ragam tugas individu maupun kelompok. Beban ekstra juga harus gue jalani karena saat itu gue menjadi ketua dari salah satu kelompok.

overload

Karena begitu banyak yang harus gue kerjakan, akhirnya jadwal gue banyak yang keteteran. Awal Januari mau ambil tes IELTS, ternyata dimana-mana udah pada penuh. Beruntung di British Council saat itu masih buka sehingga langsung gue comot jadwal tes untuk Januari 2016 sementara tes GMAT ke 2 gue jadwalkan di awal Februari 2016.

Gue saat itu bahkan udah gak sempat belajar lagi untuk tes IELTS dan GMAT karena sebagian besar waktu gue habis di kantor, selain itu ada tugas-tugas dari LPDP serta amanah sebagai ketua kelompok yang harus gue jalanin. Sempat berkali-kali gue terpikir untuk mengundurkan diri dari posisi ketua kelompok tapi akhirnya urung karena sudah kepalang basah. Sekalian aja gue nyebur dan berenang.

Entah bagaimana, akhirnya gue berhasil melewati tes IELTS dengan skor yang jauh di atas ekspektasi gue. Padahal, gue udah sempat bikin rencana cadangan, jaga-jaga kalau harus mengulang tes IELTS karena skor yang belum memuaskan. Setelah tes GMAT yang ke 2 kalinya, skor gue juga naik 40 poin dibanding skor yang pertama. Ajaib. Gue juga gak ngerti kenapa bisa begitu. Pokoknya yang gue tau, skor gue udah lumayan memadai untuk mulai pendaftaran. Ini masih jauh dari akhir, ini baru awal dari perjuangan gue.

Permasalahan baru lagi-lagi muncul. Awal Februari, ternyata beberapa sekolah di Amerika sudah mulai menutup pintu untuk pendaftar internasional. Jadwal PK gue yang jatuh di bulan Februari juga gak membantu. Sempat terpikir untuk tukar jadwal PK, tapi Februari tetap pilihan terbaik yang gue punya. Saat-saat itu merupakan titik kritis dalam perjalanan gue menuju sekolah bisnis. Do anything wrong, and the whole thing will be blown up!

===

Part-part sebelumnya:

===

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s