Part 7: Kelley, Weatherhead dan Manchester

Sambungan dari Part 6

Untuk memenuhi syarat pendaftaran sekolah bisnis, selain skor IELTS, GMAT, resume, transkrip nilai waktu S1, ijazah, dan lainnya, salah satu persyaratan yang wajib dikumpulkan adalah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan esai yang diajukan oleh sekolah yang akan kita daftar.

Pertanyaan-pertanyaan esai ini, buat gue, cukup sulit untuk dijawab. Pertama, gue gak terbiasa merangkai kata dalam bahasa Inggris. Merangkai kata dalam bahasa Indonesia aja gue masih belepotan. Kedua, gue gak terbiasa menulis esai. Ketiga, pertanyaan-pertanyaannya udah kayak pertanyaan dari calon mertua. Susah cuy. Tapi ya namanya usaha. Mau gak mau harus dipelajari.

Ada beberapa sekolah yang jadi incaran gue. Karena gak mungkin mengerjakan persyaratan untuk semua sekolah sekaligus, gue harus buat prioritas berdasarkan deadline yang paling mepet. Setelah corat-coret di whiteboard, akhirnya tersusunlah jadwal gue untuk mengerjakan esai. Kelley Business School dari Indiana University jadi universitas yang pertama kali gue daftar karena deadline pendaftarannya paling cepat, yakni pada tanggal 1 Maret 2016.

Seperti segala sesuatu yang pertama kali dikerjakan, gue tentunya harus banyak belajar supaya dapat menghasilkan esai-esai yang berkualitas internasional. Waktu cari petunjuk tentang teknis mengerjakan esai, gue dapat informasi bahwa sebisa mungkin esai untuk sekolah yang benar-benar jadi incaran kita itu dikerjakan belakangan. Kenapa? Karena esai yang pertama kita hasilkan itu kualitasnya busuk banget. Esai kedua akan lebih baik dibanding esai pertama, dan esai ketiga akan lebih baik dibanding esai kedua.

Kelley Business School merupakan sekolah yang benar-benar jadi incaran gue. Gue sangat tertarik dengan kurikulum di Kelley Business School, terutama dengan mayor Business Analytics yang mereka tawarkan, sejak pertama kali gue mendengarkan presentasi dari Admissions Director sekolah tersebut di sebuah acara MBA Tour di Jakarta. Gue yang waktu itu gak ada pilihan, akhirnya dengan berat hati harus mendedikasikan rangkaian esai pertama gue untuk Kelley.

Singkat cerita, saran yang gue baca waktu itu ternyata benar. Waktu sekarang gue baca-baca lagi, esai yang berhasil gue rangkai waktu itu jadinya konyol banget. Secara keseluruhan, karena berkejaran dengan deadline pendaftaran, aplikasi yang gue susun untuk Kelley termasuk dalam kategori lemah. Gak heran, sekitar sebulan sejak pendaftaran, gue dapat surel dari Kelley yang isinya penolakan. I’m dinged without an interview.

Rangkaian esai kedua yang gue buat adalah 2 buah esai untuk Weatherhead School of Management dari Case Western University. Sekolah ini memiliki daya tarik tersendiri yakni fokus pada inovasi dan bisnis sebagai agen perubahan untuk dunia yang lebih baik. Esai-esai yang gue rangkai kali ini sudah lebih baik. Beberapa rangkaian bagus yang gue buat di untuk Weatherhead akhirnya gue daur ulang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan esai dari Manchester Business School.

Pendaftaran yang gue buat untuk Weatherhead akhirnya berbuah sebuah panggilan wawancara lewat Skype. Karena perbedaan waktu yang hampir 12 jam antara Amerika dengan Indonesia, jadwal wawancara mereka yang paling pagi di sana sama dengan malam hari di Indonesia. Dengan asumsi bahwa wawancara akan dilakukan dengan video call lewat Skype, gue sempat berpikir bahwa pencahayaan di kamar kost gue keliatannya akan kurang memadai kalau wawancara dilakukan pada malam hari. Akhirnya gue memutuskan untuk melangsungkan wawancara Skype di kantor.

Malam itu, gue menanti-nantikan jam 19.30 WIB dengan berdebar. Gue udah menyiapkan jawaban-jawaban dari pertanyaan yang kemungkinan akan ditanyakan selama wawancara supaya gue gak aiueo waktu disuruh menjelaskan. This is it. The last chance for my American dream. Ketika waktu sudah hampir menunjukkan pukul 19.30, gue udah duduk rapih di sebuah ruangan rapat dengan setelan blazer hitam, kemeja putih, dasi, dan celana bahan hitam.

Sebuah panggilan Skype tiba-tiba masuk. Julie DiBiasio. Gue langsung menganggkat panggilan tersebut. Tapi tiba-tiba gue bingung karena ternyata panggilan tersebut bukan merupakan video call seperti ekspektasi gue, melainkan panggilan suara biasa, tanpa gambar sama sekali. Setelah berminggu-minggu kemudian, gue baru sadar kalau itu kesalahan gue sendiri karena gue salah pencet, makanya jadi telepon biasa, bukan video call.

J: Hello, good morning!
G: Good morning! (padahal gue pengen bilang, cuy, di sini dah malem. wkwk)
J: How are you?
G: I am fine, thank you. How are you?
J: I’m doing just fine! Could you tell me your first name, please?
G: Yes. My first name is Yohanes (sambil mikir, lah ini orang nelpon gue tapi kok kagak tau nama gue? Buat verifikasi mungkin yak)
J: Okay, Yohanes, this wouldn’t take so long. I will ask you a couple of questions. Are you ready?
G: Yes, absolutely!

Percakapan kami kemudian berlangsung dengan tanya jawab. Semua berjalan lancar dan singkat. Sekitar 10 menit sejak dimulai, dia menyatakan kalau gak ada lagi pertanyaan untuk gue lalu gue dipersilakan untuk bertanya kepada dia. Gue waktu itu tanya-tanya tentang cuaca, tentang sebuah klub sosial bernama Net Impact, lalu bertanya kira-kira kapan keputusan mereka mengenai pendaftaran gue bisa diketahui. Dia berkata bahwa pengumuman akan dilakukan tanggal 9 Mei 2016 tapi ia akan mengusahakan pengumuman bisa keluar lebih cepat.

Sekolah selanjutnya yang gue pertimbangkan sebenarnya adalah Rotterdam School of Management dari Erasmus University. Gue bahkan udah mulai mengisi berkas-berkas ke dalam sistem pendaftaran online yang mereka miliki ketika akhirnya gue memutuskan untuk menunda pendaftaran. Ada beberapa hal yang ingin gue diskusikan lebih lanjut sebelum akhirnya memutuskan untuk melengkapi berkas-berkas lamaran gue ke sekolah ini.

Gue udah sempat janjian untuk ketemuan tanggal 30 April 2016 di lobby hotel Shangri-La dengan salah satu perwakilan sekolah tersebut. Naasnya, pada hari H, orang tersebut ga menampakkan batang hidungnya. Gue yakin kalau gue gak salah tempat dan gue datang sesuai jam yang ditentukan. Gue coba kontak nomor telepon yang dia berikan, tapi gak diangkat. SMS gue pun gak dibalas. Karena kebelet, sebelum gue memutuskan untuk cabut dari sana, gue akhirnya memutuskan untuk ke toilet terlebih dahulu. Muka orang tersebut akhirnya nampak sewaktu gue lagi dalam perjalanan ke toilet. Dia sedang duduk di sebuah sofa dan mengobrol dengan seseorang di salah satu sudut ruangan lobby. Wah, kacau ni orang. Gue celingak-celinguk dari tadi, rupanya dia lagi asik ngobrol sama orang lain. Akhirnya gue pergi dari situ dengan kecewa dan sejenak bersyukur karena gue belum jadi mendaftar ke sekolah itu. Gue sampai sekarang gak habis pikir sama kelakuan orang tersebut.

Fokus gue langsung beralih ke sekolah lain yaitu Alliance Manchester Business School (AMBS) dari University of Manchester. Berbeda dengan pengalaman-pengalaman gue yang sebelumnya, respon dari AMBS sangat cepat. Gak perlu menunggu terlalu lama, undangan wawancara dari AMBS sudah di tangan. Wawancara waktu itu berlangsung di lobby Intercontinental MidPlaza Jakarta pada tanggal 26 April 2016. Selain percakapan yang bertujuan untuk menggali lebih dalam tentang kepribadian dan kemampuan gue, kami juga ngobrol banyak hal termasuk kondisi pasar baja. Secara keseluruhan, gue sangat senang bisa ngobrol panjang dengan perwakilan dari AMBS. Hal yang paling gue suka dari AMBS adalah porsi praktik yang sangat besar serta proyek non-profit yang memberikan kesempatan kepada kami untuk memberikan dampak positif bagi orang lain.

Gue langsung merasa cocok dengan AMBS karena gue dari dulu mengamini bahwa belajar lewat terjun langsung lalu terus-terusan memperbaiki kesalahan yang pernah kita buat merupakan cara belajar yang paling cepat dan transformatif. Hal ini udah gue buktikan lewat proses belajar Excel yang gue lakukan. Awal-awal belajar, gue banyak melakukan kesalahan mendasar dalam menggunakan formula. Lewat belajar dari kesalahan, gue akhirnya menguasai berbagai jenis formula yang kemudian gue gabung-gabungkan jadi berbagai formula kompleks. Dengan sedikit hembusan imajinasi, formula-formula kompleks ini kemudian secara perlahan menunjukkan sejauh mana mereka bisa dikembangkan menjadi berbagai hal-hal ‘gila’. Karena hal itu, gue mulai mendambakan bisa sekolah di AMBS. Semakin gue tau lebih banyak, semakin gue kagum sama berbagai hal yang mereka rancangkan dalam kurikulum. Bahkan, saat ini AMBS serta beberapa fakultas lain di University of Manchester lagi berbenah dan membangun fasilitas-fasilitas baru. Artinya, sekolah ini aktif bertumbuh ke arah yang lebih baik.

28 April 2016, seperti biasanya, sekitar jam 4.30 gue udah bangun. Setelah benar-benar sadar, jam 5, gue menyalakan laptop lalu cek kotak masuk elektronik gue. Pandangan gue terpaku pada satu surel yang berjudul Weatherhead – Your Admissions Decision. What? Kok udah keluar aja pengumuman dari Weatherhead di tanggal segini? Begitu gue klik, rupanya bener. Pengumuman. Tapi isi pengumumannya gak langsung tertera di badan suratnya, gue harus klik satu link baru kemudian pengumuman itu keluar. Gue baca pengumuman itu secepatnya. Begitu yakin bahwa maksud surat itu memang benar-benar menyatakan bahwa gue diterima di Weatherhead, gue langsung menyambar HP gue lalu telepon ke rumah untuk ngasih kabar.
3 business schools

Setelah pengumuman dari Weatherhead keluar, artinya gue tinggal tunggu pengumuman dari Manchester. Sesuai dengan percakapan terakhir yang gue lakukan dengan perwakilan dari Manchester, tanggal 5 Mei adalah hari dimana mereka memberikan keputusan mengenai pendaftaran gue. Beruntung, saat itu bertepatan dengan libur nasional di Indonesia, jadi waktu itu gue menanti-nantikan pengumuman bersama dengan keluarga gue di Lampung.

Gue sempat menanti-nantikan pengumuman tersebut lewat kotak masuk elektronik gue sampai sekitar jam 11 malam tapi pengumuman tersebut tak kunjung datang. Akhirnya gue memutuskan untuk tidur, barangkali besok baru ada kabarnya. Orang tua gue waktu itu udah membesarkan hati gue, barangkali gue gak lulus karena gak datang-datang juga pengumumannya. Gapapa, yang penting udah dapat sekolah di Amerika. Begitu kata mereka pada waktu itu.

Pagi-pagi, jam 4.30, gue bangun lalu langsung cek HP. Ternyata pengumuman sudah keluar. Gue dinyatakan lulus. It feels so good to finally end a battle with victory. Akhirnya penantian dan kerja keras gue berbuah manis.

Kalau gue refleksikan lagi ke belakang, ada beberapa persimpangan besar yang harus gue ambil sebelum akhirnya bisa tiba di titik ini. Dari awal karir, gue diarahkan untuk ke Krakatau Posco. 3,5 tahun yang lalu, gue sama sekali gak tau apa yang akan terjadi ke depan. 2 tahun sejak gue mulai kerja di sana, gue ditawarkan beasiswa ke Korea Selatan oleh kantor dan gue memutuskan untuk menolak tawaran itu. Gue bahkan sempat buat sebuah tulisan yang mempertanyakan, apakah gue akan menyesal karena melewatkan begitu banyak kesempatan berharga. Sejauh ini gue beruntung. Gue sama sekali gak salah ambil keputusan.

Hari ini gue bersyukur sebesar-besarnya dan merayakan kehidupan manis yang gue cita-citakan karena langkah demi langkah, gue dapat tuntunan harus berjalan ke arah mana. I hope that kind of guidance would happen in your life too 🙂

===

Part-part sebelumnya:

===

Iklan

Satu respons untuk “Part 7: Kelley, Weatherhead dan Manchester

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s