Part 8: Memilih Kampus

Sambungan dari Part 7

Gak terasa sekarang sudah sekitar sebulan sejak gue dinyatakan diterima di dua kampus yang jadi incaran gue yakni di Weatherhead School of Management (selanjutnya gue sebut Weatherhead) serta di Alliance Manchester Business School (selanjutnya gue sebut AMBS). Ngomong-ngomong, gak terasa juga sekarang sudah mau masuk pertengahan 2016. Waktu bergulir begitu cepat.

Sebelum dapat pengumuman dari Weatherhead dan sebelum gue ngelamar AMBS, sebenernya gue udah selesai memasukkan berkas di University of Adelaide. Gue memang sengaja ngelamar sekolah ini sebagai safety net (jaring pengaman) karena gue masih belum bisa prediksi apa gue bakal diterima di Weatherhead dan apakah nanti lamaran gue ke AMBS bakal berhasil atau enggak. Kalau gue gak masuk di ke dua sekolah ini, paling gak gue udah lagi proses di Adelaide dan tinggal tunggu pengumuman. Gue gak akan bahas banyak tentang sekolah ini karena memang pengambilan keputusan gue hampir tidak melibatkan Adelaide di dalamnya.

Waktu pengumuman dari Weatherhead udah keluar dan lagi nunggu pengumuman dari AMBS, gue ngejalanin sesi wawancara via Skype dengan Admissions Director dari University of Adelaide. Waktu itu, tanggal 6 Mei 2016, gue ngejalanin wawancara di rumah karena lagi libur panjang. Karena sebelumnya udah mastiin bahwa wawancara akan berlangsung dalam video call, akhirnya gue terpaksa pakai kemeja, dasi, dan blazer di tengah udara yang panas. Sengaja gue arahkan kamera depan HP gue ke setengah badan aja karena gue males pake celana rapih-rapih, tambah mirip lemper nanti. Akhirnya jadilah gue wawancara waktu itu pakai kemeja, dasi, blazer, dan .. celana pendek. Papa dan mama sempat bercandaain, “Gimana kalo tiba-tiba disuruh berdiri sama profesornya? Ntar keliatan dong celana pendek kamu?” Elah, ngapain juga dia suruh berdiri? Wkwk.

Sekitar sebulan setelah admission offer dari Weatherhead dan AMBS, akhirnya kemaren gue dapat kabar dari Adelaide kalau gue diterima di sana. Komplit sudah. Total 3 universitas dari 3 benua yang berbeda udah menyatakan tawarannya pada gue.

Sebelum sampai pada 3 pilihan kampus ini, gue memang sebelumnya sudah buat beberapa rencana, bagaimana kalau lamaran gue berhasil, bagaimana kalau lamaran gue gagal, rencana cadangannya seperti apa, dan lain sebagainya. Gue udah melakukan riset yang cukup mendalam mengenai 3 kampus ini dan riset yang gue lakukan sangat membantu sebagai bahan pertimbangan gue untuk mengambil keputusan.

Ada beberapa kriteria yang jadi fokus gue dalam mengambil keputusan:

  1. Perbandingan peringkat University of Manchester vs Case Western University vs University of Adelaide
  2. Perbandingan peringkat AMBS vs Weatherhead vs Adelaide
  3. Peringkat spesialisasi AMBS, Weatherhead, dan Adeliade jika dibandingkan dengan sekolah bisnis ternama lainnya
  4. Perbandingan lingkungan
  5. Perbandingan kurikulum
  6. Manfaat-manfaat lain

Untuk perbandingan peringkat universitas dan sekolah bisnis, gue pakai perbandingan dari berbagai sumber meliputi QS World University Ranking, QS Ranking by Subject, QS MBA ranking, Times Higher Education, dan Financial Times. Hasilnya, AMBS konsisten lebih unggul dibanding Weatherhead dan Adelaide. Untuk kriteria spesialisasi, berdasarkan peringkat QS MBA ranking tahun 2014, AMBS bahkan mengungguli sekolah bisnis di University of Cambridge dan University of Oxford dalam spesialiasi operations management.

Selain ranking, satu hal yang menurut gue sangat penting adalah kurikulum. Gue sangat suka pendekatan learning by doing dan original thinking yang diterapkan oleh AMBS. It suits me very well. Gue dari dulu memang senang coba-coba hal baru. Bikin ini, bikin itu, sampai akhirnya tanpa sadar kemampuan gue meningkat. Dari waktu gue belajar tentang bisnis dan manajemen di Coursera, gue udah lumayan banyak menyerap konsep-konsep menarik, hanya saja gue belum bisa menerapkan sebagian besar konsep itu karena kesempatan yang terbatas. Belajar sambil terjun langsung menurut gue akan lebih susah namun sekaligus memberikan peningkatan kemampuan yang lebih cepat. Selain itu, gue juga mengamini pentingnya pemikiran orisinal dalam memecahkan sebuah masalah. Di era transformasi cepat seperti sekarang, kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan serta kemampuan menciptakan terobosan-terobosan baru akan jadi aset yang sangat berharga.

Di lain pihak, kurikulum dari Weatherhead juga sangat menarik. Sekolah ini mengambil pendekatan desain dalam seni lalu meleburkan konsep-konsepnya ke dalam dunia bisnis. Hasil dari peleburan ini kemudian melahirkan pionir-pionir dalam design thinking dan design for business innovation. Kombinasi yang sangat unik ini menjadi menarik karena gue sangat suka sesuatu yang liar dan mendobrak aturan seperti ini. Gue udah bisa membayangkan berbagai hal yang bisa gue kembangkan setelah gue belajar tentang konsep-konsep ini.

Waktu mempertimbangkan antara AMBS dan Weatherhead, gue inget lagi dengan pelajaran yang pernah gue ambil dulu di kelas kreativitas.

little-C big-C

Hubungan Little-C dengan Big-C

Dr. Cyndi Burnett dan Dr. John F Cabra dari State University of New York menjelaskan bahwa, secara garis besar, kreativitas bisa dibagi menjadi dua yaitu Little-C dan Big-CLittle-C berkaitan dengan ide-ide kecil yang memperkaya hidup kita, misal membuat resep baru dan sebagainya. Big-C adalah sesuatu yang langka dan berkaitan dengan terobosan yang signifikan.

Little-C dan Big-C memiliki satu kesamaan: sama-sama butuh bahan bakar berupa pengetahuan. Kita tentu tidak akan bisa membuat resep baru kalau kita tidak punya pengetahuan tentang rasa dari bawang, rasa dari daging, rasa dari sayuran, dan sebagainya. Kita juga tentu tidak akan bisa membuat format laporan baru kalau sebelumnya kita tidak mengetahui cara mengoperasikan komputer.

Oke, lalu apa hubungannya dengan AMBS vs Weatherhead? Menurut gue, pemikiran-pemikiran inovatif, lompatan ke Big-C, nanti juga akan terjadi secara alami seiring dengan berjalannya waktu dan naiknya pemahaman gue tentang dunia bisnis. AMBS jadi kendaraan yang ideal buat gue karena pengalaman praktis akan berjalan beriringan dengan berkembangnya konsep-konsep inovatif, sama seperti waktu gue otak-atik Excel dengan tujuan senang-senang dan akhirnya menghasilkan lompatan ke Big-C dengan mengembangkan berbagai platform yang belum pernah ada sebelumnya.

So, I’ll be going to Manchester!

mbs logo

-bersambung ke part 9-

===

Part-part sebelumnya:

===

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s