Bicara Cinta

bicara

source: balitapedia.com

Cinta bukan lagi hal asing bagi kita semua. Setiap orang mungkin punya definisi masing-masing mengenai cinta. Tiap orang juga punya cara unik untuk mengekspresikan dan membahasakan cinta. Orang tua gue misalnya, mereka punya cara unik untuk mengekspresikan cinta lewat masakan dan omelan. Walaupun sepintas sama sekali ga terlihat spesial, buat gue itu bahasa cinta dari mereka.

Dulu gue sempat berpegang erat pada satu definisi cinta. Definisi gue berasal dari sebuah harapan agar semua orang yang gue kenal bisa memiliki hidup yang terbaik. Kalau gue bisa bantu mereka untuk mewujudkan hidup yang terbaik, itu bahkan lebih baik lagi.

Harapan ini kemudian gue bahasakan lewat banyak aspek hidup gue, termasuk dalam hubungan dengan lawan jenis. Gue sempat berada di satu titik dimana gue harus mengambil keputusan sulit karena harus berhadapan dengan situasi yang bertabrakan dengan harapan ini. Gue berpikir bahwa gue, dengan segala keadaan gue waktu itu, bukan merupakan alternatif terbaik bagi seseorang. Akhirnya dengan berat hati, gue mengambil keputusan untuk mengakhiri dan merelakan pergi.

Gue masih bertahan dengan bahasa cinta seperti itu sampai akhirnya sebuah diskusi dengan seorang teman membuka pikiran gue. Waktu itu gue menyampaikan kepada teman gue kalau gue pernah melepas seseorang pergi karena gue pengen hal terbaik terjadi dalam hidupnya. Gue kasihan kalau dia harus menderita karena gue. Padahal bisa aja kami bertahan. Tapi menurut gue, itu bukan hal terbaik yang bisa terjadi dalam hidupnya.

Teman gue menanggapi dan berkata kalau bahasa cinta seperti itu salah dan egois. Memangnya orang lain ga boleh menderita? Memangnya cuma lo doang yang boleh menderita untuk orang lain, sedangkan orang lain ga boleh menderita buat lo? Itu egois namanya. Dalam pernikahanpun nanti keduanya harus saling berkorban kan?

Gue tercenung cukup lama untuk memikirkan argumen temen gue itu. Gue mendapati kebenaran dalam perkataannya. Iya ya? Kan dalam pernikahan nanti harus saling berkorban, bukan cuma gue doang yang berkorban. Bukankah kadang justru hal terbaik terjadi setelah melewati berbagai penderitaan? Bukankah gue sendiri berjuang mati-matian untuk mendapatkan kursi di sekolah bisnis? Kenapa orang lain ga boleh berjuang untuk gue?

source: staymarriedblog.com

source: staymarriedblog.com

Kejadian lainnya yang membuat gue lebih memahami cinta adalah ketika gue dan beberapa orang teman sedang menjalani persiapan jadi pembaca ayat firman Tuhan untuk sebuah kebaktian pemuda di GKI Maulana Yusuf. Seorang hamba Tuhan menjelaskan bahwa kami harus terlebih dulu paham apa yang akan gue baca sehingga, lewat intonasi dan pemenggalan dalam perkataan gue, jemaat yang hadir juga bisa lebih memahami apa yang mereka baca.

Beliau saat itu menanyakan sebuah hal mengenai apa yang akan kami baca, “Coba jelaskan, kenapa Tuhan membiarkan Adam dan Hawa makan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat? Kenapa Tuhan kasih manusia kehendak bebas untuk menentukan tindakannya?”. Kami yang waktu itu berada dalam sebuah ruangan mencoba menjawab secara bergiliran tapi belum ada yang memuaskan. Akhirnya beliau menjelaskan, “Karena Tuhan ingin manusia mencintai Dia dengan tulus. Cinta tidak bisa hadir dalam keterpaksaaan.”

Sepenggal kalimat itu, “cinta tidak bisa hadir dalam keterpaksaan”, membuka pikiran gue mengenai banyak hal. Seperti kunci yang membuka pintu dan di balik pintu itu ditemukan banyak hal menarik, seperti itulah makna perkataan itu buat gue.

Sampai sekarangpun gue masih berupaya memahami cinta. Kenapa cinta itu begini atau begitu. Gue yakin yang namanya definisi itu harus terus dicari dan diuji. Yang hari ini benar, belum tentu besok masih benar. Sama seperti apa yang dulu gue anggap bahasa cinta yang benar, ternyata merupakan manifestasi yang kurang tepat.

Semoga berguna.

glm wp

Iklan

Journey to TOEFL 607 and IELTS 8.0

Disclaimer: Sekali lagi, ini bukan upaya untuk pamer, iklan kursus online, dan sebagainya. Tulisan ini dibuat murni untuk membagikan perjalanan yang membawa gue jadi seperti sekarang. Those scores couldn’t be achieved overnight.

Kadang kita terlalu gampang mengidentikkan kepintaran dengan nilai tes yang tinggi. Tapi gue gak setuju sama asumsi ini. Teman-teman gue yang tau skor TOEFL ITP gue 607 dan overall IELTS band gue 8.0 seringkali berkomentar, “Wuih, pinter banget lo bisa dapet skor segitu”. Beberapa teman juga seringkali merasa minder dan bodoh karena tidak bisa memperoleh skor setinggi gue. “Tapi gue gak sepinter elo. Kayaknya gue ga bakal bisa dapet skor segitu. Kalo gue kayaknya dapet skor jauh di bawah itu aja udah syukur banget”

Okay, let me put this straight. Gue dapat skor segitu bukan karena gue pinter tapi karena bahasa Inggris bukan lagi hal yang asing buat gue.

Bokap gue orang yang visioner. Sejak kecil anak-anaknya dimasukin ke les bahasa Inggris. Gue mulai les bahasa Inggris dari gue umur 6 tahun, waktu kelas 2 SD. Waktu itu ada engkoh-engkoh yang buka usaha bimbel di pinggir jalan protokol di Lampung. Gue yang tadinya gak ngerti apa-apa tentang bahasa Inggris akhirnya memulai perjalanan gue belajar bahasa Inggris dari sana. Sekali lagi, umur 6 tahun, kelas 2 SD.

Gue masih inget banget awal gue belajar grammar adalah dengan melihat contoh soal lalu mengerjakan soal dengan mengisi titik-titik. Sayangnya setelah berjalan beberapa tahun, entah kenapa akhirnya tinggal gue murid yang belajar bahasa Inggris di sana. Singkat cerita, gue harus pindah karena tidak memungkinkan untuk meneruskan pembelajaran hanya dengan 1 murid saja.

Gue akhirnya pindah les ke LIA sekitar kelas 4 SD. Waktu pindah dari tempat les lama, gue masih kelas pre-elementary tapi dari hasil tes penempatan di LIA, gue masuk elementary 3 atau 4, gue gak terlalu ingat. Guru gue waktu itu senang banget. Sampai sekarang gue gak melupakan jasa guru gue yang gue kenang dengan panggilan Miss Riama Sinaga itu. Momen yang gue kenang terutama pada saat dia bertahan beberapa lama untuk mengajar walaupun tinggal gue murid satu-satunya. Baru setelah gue pindah ke LIA, akhirnya dia berhenti mengajar di bimbel engkoh-engkoh itu.

Gue dulu sempat putus nyambung les di LIA, gue lupa karena apa. Yang gue inget, waktu terakhir les di LIA, gue kelas 3 SMA, level Advanced 4 (level advanced yang terakhir), dan lagi nunggu pengumuman SPMB. Hal yang gue suka dari LIA adalah tiap kali ujian kenaikan tingkat ada ujian lisan. Selain itu, di dalam kelas, kita dituntut untuk berani berbicara dan menyampaikan pendapat dalam bahasa Inggris.

Belajar bahasa Inggris di bimbel sejak kecil akhirnya membuat gue memiliki kosakata bahasa Inggris yang cukup luas, terbiasa melihat struktur kata yang benar dalam bahasa Inggris, mendengar percakapan bahasa Inggris yang diucapkan dengan baik, serta memiliki banyak kesempatan untuk latihan menulis dan bercakap-cakap dalam bahasa Inggris.

Kemampuan yang dibangun selama kurang lebih 10 tahun ini akhirnya terlihat hasilnya waktu masuk kuliah. Semasa kuliah di ITB, waktu semester 1 ada mata kuliah bahasa Inggris. Gue masuk kelas presentasi, gak ada UTS, cuma ada UAS berupa presentasi 15 menit. Ada 2 kelas lain yakni kelas reading dan writing. Belakangan gue baru tau kalau penempatan kelas ini berdasarkan nilai tes bahasa Inggris yang diselenggarakan sesaat setelah kami resmi diterima jadi mahasiswa baru. Katanya, untuk golongan orang yang punya skor bahasa Inggris tertinggi, masuknya ke kelas presentasi. Lagi-lagi, ini bukan karena gue pintar. Kalau mau bicara pintar, banyak teman-teman gue di ITB yang jauh lebih pintar. Ini cuma masalah kebiasaan.

Selain lewat mata kuliah bahasa Inggris, gue masih aktif menggunakan bahasa Inggris gue lewat beberapa mata kuliah yang disampaikan dalam bahasa Inggris secara penuh seperti waktu gue mengambil kelas Technology Management di Sekolah Bisnis Manajemen ITB dan beberapa kelas lainnya. Selain itu gue juga aktif membaca berbagai buku pengembangan diri dalam bahasa Inggris serta menonton berbagai film Hollywood tanpa menggunakan subtitle.

TOEFL ITP

toefl itp

Setelah lulus kuliah, gue sempat belajar mandiri lewat simulasi dari soal-soal di buku yang gue beli lalu daftar tes TOEFL ITP di BLCI untuk keperluan pendaftaran beasiswa dari pemerintah Australia bernama ADS (sekarang AAS). Skor gue waktu itu 580 (Listening 61, Structure 54, Reading 59).

TOEFL ITP BLCI

Sekitar setahun setelah mulai kerja, gue mengenal Coursera. Website ini kemudian secara gak langsung membuat gue melatih bahasa Inggris gue lebih lagi sembari menimba berbagai ilmu di kelas-kelas gratis dari berbagai universitas ternama dunia.

Selain lewat Coursera, waktu itu gue juga sedang aktif belajar untuk GMAT (Graduate Management Admission Test) yang merupakan salah satu tes wajib sebagai persyaratan mendaftar ke sekolah bisnis. Menurut gue, soal verbal di GMAT ini jauh lebih susah dibanding TOEFL dan IELTS karena bukan sekedar menguji kemampuan berbahasa namun menguji logika.

Waktu itu, gue ikut TOEFL ITP di UI Depok untuk keperluan daftar beasiswa LPDP. Gue berencana daftar beasiswa ke sekolah bisnis di luar negeri.

TOEFL ITP UI Depok

Gue cukup gak percaya dengan hasilnya karena malam sebelum tes gue kurang tidur dan waktu itu ada petasan yang bunyinya sangat mengganggu. Anyway, i did managed to get Listening 60, Structure 60, and Reading 62. Puji Tuhan, skornya jauh lebih memuaskan dibanding 2,5 tahun lalu. Ada peningkatan di bagian structure & written expression dan reading karena gue intensif latihan soal-soal verbal GMAT beberapa bulan sebelum ikut tes.

Skor TOEFL ITP 607 ini juga yang akhirnya menjadi salah satu modal utama gue untuk lolos seleksi beasiswa LPDP. Baca kisahnya di sini.

IELTS

ielts

Setelah dinyatakan lolos seleksi beasiswa LPDP, gue akhirnya harus ambil tes bahasa Inggris yang berlaku internasional sebagai syarat mendaftar ke berbagai sekolah bisnis di luar negeri. IELTS merupakan tes bahasa Inggris gue yang pertama yang berlaku secara internasional. Biaya yang harus dikeluarkan untuk sekali tes adalah Rp 2,7 juta. Gue tes IELTS pada Februari 2016. Karena gue gak sempat latihan, gue akhirnya cuma persiapan seadanya. Gue latihan simulasi listening dan reading 2 kali sebagai refresher.

Sebelum latihan simulasi lagi, terakhir kali gue latihan simulasi IELTS itu tahun 2012. Seinget gue, dari beberapa kali simulasi, waktu itu gue dapet band 7, kadang 7.5 untuk listening sementara reading konsisten dapet 7.5.

Di simulasi 2016, gue dapet Listening 8 dan reading 8.5. Kenaikan skor simulasi listening lebih karena faktor sering belajar di Coursera. Gue yang waktu itu memang sengaja menonton materi ajar tanpa menggunakan subtitle akhirnya memaksa diri untuk menyerap berbagai materi akademis yang disampaikan lewat video. Kenaikan skor reading lebih karena gue makin banyak baca artikel berat seputar ekonomi, bisnis, dan mengerjakan soal-soal reading GMAT yang memang terkenal susahnya.

Untuk writing, gue baca-baca di internet contoh soal yang akan diujikan lalu lihat contoh band 8.0 dan band 9.0. Gue coba kerjain pertanyaan yang sama lalu gue bandingkan hasil tulisan gue dengan tulisan contoh. Setelah itu, gue lalu menganalisa di bagian mana tulisan gue masih kurang dan harusnya gue mengembangkan tulisan seperti apa supaya bisa bagus seperti contoh. Gue juga terbantu dengan latihan Analytical Writing Asessment yang gue jalani sebagai bagian dari persiapan menempuh GMAT. Ternyata gak perlu nulis dengan ide yang terlalu rumit, cukup ide-ide sederhana yang dirangkai secara terstruktur dan logis.

Untuk speaking, gue lihat-lihat di youtube untuk dapet contoh pertanyaan yang diajukan serta cara jawabnya. Ada 3 part dalam tes IELTS speaking. Part 1 itu kurang lebih percakapan seputar info personal. Misal, apa statusmu sekarang? Pekerja atau pelajar? Rumahnya di mana? Biasa kalau weekend ngapain? Dan berbagai pertanyaan seputar itu.

Masuk part 2 nanti di kasih kertas berisi pertanyaan lalu dikasih waktu 1 menit untuk memikirkan jawabannya sembari coret-coret di kertas untuk menuliskan garis besar jawabannya. Lalu kita dikasih waktu 3-4 menit untuk menjelaskan jawaban kita.

Part 3 kurang lebih pertanyaan-pertanyaan tanggapan dari apa yang kita jelaskan di part 2 atau bisa juga pertanyaan seputar topik-topik lain.

Yang gue pelajari dari tes speaking IELTS adalah, yang terpenting lu bisa jawab pertanyaan dengan lancar dan koheren (gak muter-muter). Langsung jawab semua pertanyaan yang diajukan secara singkat baru jelaskan kenapa lu jawab seperti itu. Kesalahan gue waktu tes IELTS beneran itu memang karena gue kurang latihan. Gaya komunikasi gue dalam bahasa Indonesia juga memang masih kurang efektif, banyak muter jelasin ini itu dulu baru jawab inti pertanyaannya.

Tes gue yang waktu itu berlangsung pada tanggal 23 Januari 2016 di Millenium Hotel Sirih Jakarta berlangsung lancar. Setelah tes, gue harus tunggu 2 minggu sebelum hasil tesnya keluar. Singkat cerita, akhirnya tanggal 5 Februari 2016 hasil tes gue keluar. Gue cek hasil tes gue lewat website British Council dan hasilnya Listening 8.5, Reading 9.0, Writing 7.0, Speaking 7.5.

IELTS TRF

Penutup

Gue mau menutup tulisan kali ini dengan logika sederhana yang disampaikan oleh salah seorang teman gue. Masalah mahir berbahasa sebenarnya bukan masalah kepintaran. Lihat aja di Tiongkok, sebodoh-bodohnya orang normal yang lahir di Tiongkok pasti bisa berbahasa mandarin. Sebodoh-bodohnya orang normal yang lahir di Inggris pasti bisa berbahasa Inggris. Oleh karena itu, masalah bahasa sebenarnya adalah masalah kebiasaan.

Gue sangat sependapat dengan temen gue itu. Itulah kenapa gue seringkali sinis memandang berbagai janji muluk dari berbagai lembaga bahasa untuk menjamin skor tes TOEFL yang tinggi. Come on. Those scores can’t be achieved overnight! Satu-satunya cara supaya memperoleh skor tinggi adalah belajar, belajar, belajar.

Proses belajar yang panjang dari kecil sampai SMA membuat gue memiliki kosa kata yang luas. Menurut gue, kosa kata adalah fondasi utama dari kemampuan berbahasa. Tanpa kosa kata yang luas, tentu kita akan sulit untuk berbicara, sulit mengerti apa yang didengar, dan sulit mengerti apa yang dibaca.

Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah keinginan keras untuk terus belajar dan tidak malu mencoba. Seorang anak kecil yang sedang belajar berbicara pasti berulang kali ngoceh ngalor ngidul sampai akhirnya bisa berbicara dengan benar. Saat belajar berjalanpun demikian, kita jatuh dan bangun lagi sampai akhirnya bisa berlari.

Gimana kalau skor bahasa Inggris kita masih kurang jauh? Ya ga ada cara lain, harus kejar ketertinggalan dengan belajar giat seperti yang dituturkan seseorang lewat tulisan ini (dari skor simulasi 4.5 akhirnya bisa dapet 8.0 di real IELTS test). Apa yang dijabarkan di sana juga tentunya jauh lebih informatif dari apa yang bisa gue sampaikan di sini namun intinya tetap sama: bahwa skor tinggi tidak bisa didapat tanpa usaha. Gue sudah mencicil usaha gue dari kecil sehingga waktu SMA gue udah punya dasar bahasa inggris yang cukup bagus, sedangkan dia mengejar ketertinggalannya dengan belajar intensif. Jangan percaya sama klaim dari manapun yang menjanjikan skor tinggi dalam waktu singkat. Lembaga kursus / guru privat hanya berfungsi sebagai katalis atau agen untuk mempercepat proses belajar kita. Tidak ada lembaga kursus / guru privat yang bisa membuat kita memperoleh skor tinggi dengan jujur kalau kita tidak berusaha.

===

Business School Series:

===

Tulisan Lepas: