What’s up with storytelling?

At some point, gue akhirnya berpikir kalau kemampuan bercerita adalah sesuatu yang harus gue pelajari lebih lanjut. Semua bermula dari kelas leadership yang baru saja selesai gue jalani. Di kelas itu, gue belajar bahwa salah satu kemampuan penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah kemampuan mengolah data dan angka dan membangun narasi (cerita) dengan fakta-fakta tersebut.

Ambil contoh di sebuah perusahaan. Kemampuan seorang pemimpin untuk bercerita menjadi penting karena banyak pihak yang menggantungkan keputusan berdasarkan penjelasan yang diberikan oleh mereka. Misalnya, investor membutuhkan informasi untuk memutuskan apakah akan meneruskan investasi di perusahaan tersebut atau menjual saham yang dimilikinya, masyarakat sekitar memerlukan penjelasan mengenai pencemaran air yang terjadi sejak perusahaan itu dibangun di dekat tempat tinggal mereka, dan sebagainya.

Jika seorang pemimpin di perusahaan salah memilih kata dalam menjelaskan situasi perusahaan maka dampaknya bisa sangat besar. Harga saham perusahaan bisa anjlok karena investor tidak mau lagi berinvestasi di perusahaan tersebut. Masyarakat bisa mengamuk, menutup jalan, dan merusak properti perusahaan, dan lain sebagainya.

Entah kenapa, buat gue, topik seputar narasi ini terasa seperti déjà vu. Gue jadi teringat dengan perkataan mantan bos gue yang mengatakan bahwa laporan yang gue buat harus mampu bercerita. Laporan gue harus memiliki alur. Waktu itu, gue ga begitu paham kenapa dia ngotot minta revisi laporan berulang-ulang. Laporan itu hal remeh yang ga terlalu perlu untuk dibuat sempurna. Masih banyak hal lebih penting yang bisa dikerjakan dibanding merevisi laporan. Begitu pikiran gue waktu itu. It turns out that he is right when he said that he wanted to teach us something.

Dampak dari sebuah kisah juga faktanya begitu besar terhadap pandangan dunia terhadap sebuah bangsa. Korea Selatan adalah contoh negara yang memanfaatkan narasi dengan baik. Paling tidak, di mata orang Indonesia, Korea Selatan adalah negara yang keren. Hallyu (한류) atau Korean Wave adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan naiknya popularitas kebudayaan Korea Selatan di mata dunia. Hal itu tentunya tidak lepas dari dampak narasi/kisah yang ditanamkan lewat berbagai variety show, drama, dan lain sebagainya. Jeju island mendadak nampak begitu keren di mata kita. Liburan ke Korea Selatan mendadak jadi sangat menarik. Sumpit besi seperti yang dipakai makan seperti di drama-drama Korea juga mendadak membuat kita penasaran.

Berbagai hal populer mengenai Korea Selatan

Jerman, di sisi lain, membangun narasi bahwa produk yang berasal dari negara mereka memiliki kualitas yang bagus. Hal ini tidak terlepas dari peranan mittelstand. Mittelstand adalah sebutan untuk perusahaan-perusahan skala kecil dan menengah asal Jerman yang telah mendunia. Perusahaan-perusahaan ini umumnya merupakan perusahaan keluarga, memiliki fokus pada pertumbuhan jangka panjang dan merupakan yang terbaik di dunia pada bidangnya. Salah satu karakteristik utama dari mittelstand adalah mereka bersaing dengan mengunggulkan kualitas, bukan harga yang murah. Contoh perusahaan Jerman yang terkenal dengan kualitasnya adalah Sennheiser lewat berbagai produk audionya.

Contoh produk Sennheiser

Gue saat ini memandang narasi sebagai cara dunia untuk memahami. Sebagai contoh, beberapa waktu yang lalu sempat populer kutipan esai yang ditulis oleh seorang gadis yang berhasil diterima di 8 universitas paling top di Amerika (silakan klik di sini kalau mau baca tulisannya). Kampus-kampus top di Amerika tentunya ingin mendapatkan calon mahasiswa yang memiliki potensi untuk melakukan hal-hal luar biasa di masa depan. Selain dari berbagai nilai tes, mereka menilai potensi seorang calon mahasiswa lewat esai yang ditulisnya sebagai bagian dari pendaftaran. Esai adalah cara mereka (kampus-kampus tersebut) untuk memahami potensi para kandidat.

Memang kalau dipikir, menilai karakter dan potensi seseorang melalui esai tentunya masih jauh dari sempurna. Banyak aspek dari kehidupan seseorang yang tidak dapat dituangkan begitu saja dalam selembar kertas. Akan tetapi, kita juga harus ingat bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini.

Kesimpulannya, kemampuan bercerita merupakan salah satu kemampuan yang penting untuk dikembangkan. Senada dengan tulisan gue tentang pemasaran, kualitas harus selalu didukung oleh pemasaran supaya dapat membuahkan hasil yang optimal.

Jika kita bisa bercerita dengan baik tentang keadaan sebuah perusahaan, walaupun sedang mengalami kesulitan, perusahan itu tentunya tetap dapat dipandang baik dan berpotensi. Demikian juga ketika kita mampu bercerita dengan baik tentang diri kita seperti yang dilakukan oleh para pelamar kampus-kampus top Amerika, tentunya potensi diri mereka bisa lebih terlihat dibanding para pelamar lainnya. Dampak dari kemampuan bercerita ternyata sangat besar.

=======

manchester business school

Baca cerita gue mengenai perjalanan masuk Manchester Business School di sini:

Iklan

Satu respons untuk “What’s up with storytelling?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s