Jalan-jalan ke Munich

Gue kemarin akhirnya resmi menginjakkan kaki di sebuah negara bernama Jerman. Kalau ngomongin Jerman, ingatan gue jadi terbawa lagi ke awal masa SMA. Waktu itu di sekolah gue ada pelajaran bahasa tambahan selain bahasa Inggris yakni bahasa Jerman. Setelah belajar bahasa Jerman selama setahun, yang gue ingat cuma auf wiedersehen (Good bye), Mein name ist Yohanes (nama saya adalah Yohanes) sama sapaan-sapaan receh macam selamat pagi, siang, dan malam.

Malam sebelum berangkat, gue mencoba cari tau lebih lanjut tentang Jerman, sebagai bekal jalan-jalan ke Munich. Memang cuma sepotong-sepotong informasi yang gue dapat dari internet, tapi lumayanlah. Gue jadi tau kalau sistem transportasi di Munich cukup unik. Gak ada gerbang penjaga sebelum kita naik kereta, tram, dan bus. Gak tau juga ini berlaku di seluruh negara Jerman apa gak. Waktu temen gue ke Berlin sih katanya memang gitu juga, gak ada gerbangnya. Hanya saja, kadang-kadang memang akan ada petugas yang memeriksa tiket kita selama perjalanan. Kalau tertangkap tidak memiliki tiket, dendanya lumayan menguras dompet. Oleh karena itu tiket transportasi umum merupakan hal paling utama yang wajib kita miliki kalau mau jalan-jalan ke Munich.

Mengenai tiket, harga bisa berbeda-beda tergantung area yang ingin kita kunjungi. Detail lebih lanjut, silakan kunjungi https://ticketshop.mvv-muenchen.de/index.php/tickets untuk tahu tentang berbagai macam tiket transportasi di Munich. Kalau baru tiba dari airport, pilih airport-city-day-tickets. Tiket ini mencakup seluruh area yang dilayani oleh MVV dan dapat digunakan sepuasnya sampai jam 6 pagi hari berikutnya. Di hari berikutnya, kalau kamu hanya mau jalan-jalan di dalam kota saja, pilih single-day ticket dengan time of validity: 1 day dan area of validity: inner district. Kalau ingin tahu lebih lanjut tentang area Muncih XXL dan Outer District, silakan kunjungi https://www.mvv-muenchen.de/en/tickets-and-fares/tariff-structure/areas/index.html

Nah, berbekal informasi dari Google Maps tentang nama perusahaan trasnportasi lokal di Munich, akhirnya gue ngubek-ngubek websitenya. Setelah baca-baca, akhirnya gue memutuskan untuk beli tiket harian secara online dengan harga 13 Euro. Tiket ini akan gue pakai untuk transportasi dari bandara ke pusat kota, sekalian untuk jalan-jalan ke beberapa tempat di Munich setelah selesai check-in di hotel. Tiket harian ini harganya jauh lebih murah dibanding tarif Uber atau taksi biasa (dari bandara ke pusat kota bisa mencapai 70 Euro). Tiket ini juga berlaku untuk semua moda transportasi (U-bahn, S-bahn, tram, dan bus) dan bisa dimasukkan ke aplikasi handphone. Lewat aplikasi itu juga kita bisa cari transportasi umum apa yang harus kita naiki kalau kita mau berpindah dari A ke B.

Screenshot tiket harian di hp gue

Dengan bekal sekelumit info dan aplikasi yang nampaknya bisa diandalkan, di malam sebelum  keberangkatan gue ke Munich, gue memutuskan untuk langsung jalan-jalan begitu gue selesai check-in di hotel. Tapi, namanya juga sekelumit info. Masih banyak informasi yang gak gue punya. Ketika sudah sampai di Munich, banyak sekali hal-hal detail yang gue harus cari tahu sendiri. Misal, waktu di bandara, gue sempat kesulitan cari lokasi stasiun keretanya. Yang gue tau cuma gue harus naik S-bahn (kalau gak S1 ya S8) ke arah pusat kota. Nah lokasi stasiunnya gue gak tau jelas. Waktu coba liat lokasi stasiun lewat layar interaktif di bandara, gue malah makin pening.

Apa coba ini? Dimana coba stasiunnya? Orang gue lagi menghadap arah mana aja gak paham. Hahaha

Celingak-celinguk lihat papan penunjuk arah di bandara juga gak begitu berguna. Gue kebanyakan bingungnya. Meenn, itu tulisannya kok tulisan Jerman semua, gak semua papan ada terjemahan bahasa Inggrisnya. Akhirnya gue mikir mending keluar dulu aja dari bandara. Pas di perjalanan mau keluar bandara, gue lihat ada petugas keamanan. Akhirnya nanya sama dia, kalau mau naik S bahn gue kudu ke arah mana. Dikasih tau sama dia kalau gue kudu ke luar gedung dulu terus menyebrang ke gedung lain. Setelah gue ikutin petunjuk yang dikasih tau sama dia, akhirnya gue mulai lihat ada logo kereta dan lambang S

Akhirnyaa, nemu juga ini papan penunjuk yang gue cari-cari

Begitu sampai di stasiun, timbul lagi masalah berikutnya. Dimana gue harus nunggu keretanya? Akhirnya gue ikutin aja orang-orang. Orang pada berdiri di bawah papan informasi, gue ikutan berdiri di situ juga.

Begini penampakan papan informasinya

Waktu coba cek jadwal kereta pakai aplikasi, ternyata ada kereta yang udah mau berangkat ke pusat kota. Tapi waktu gue celingukan, gak ada penampakan keretanya. Akhirnya gue coba jalan lebih dalam. Gak begitu lama, gue melihat ada dua orang perempuan lari-lari. Ternyata keretanya sudah di stasiun tapi letaknya agak dalam. Gue juga akhirnya ikutan lari-lari. Sayangnya itu kereta udah keburu ngacir duluan. Terpaksa gue nunggu kereta berikutnya yang berangkat dari bandara (flughafen) ke dekat hotel tempat gue nginap.

Rute perjalan gue dari bandara ke hotel

Sebenarnya ada stasiun yang lebih dekat lagi tanpa harus jalan 13 menit seperti yang ditunjukkan di aplikasi itu. Cuma gue aja yang gak tau dimana transitnya dan harus naik kereta sambungan ke arah mana. Akhirnya gue ikutin apa kata aplikasinya aja. Jalan 13 menitan di tengah suhu minus dan hujan salju itu ternyata lumayan juga. Untungnya gue udah pakai jaket tebal, sarung tangan dan penutup telinga sejak dari bandara, jadinya gak terlalu terasa.

Waktu check-in hotel, ternyata gue dapat upgrade ke kamar yang lebih luas dan ada free mini barnya. Lumayan nih makanan-makanan cemilan gratis. Hehehe.

Setelah beres-beres dan mengeluarkan barang-barang yang gak perlu dari ransel, gue langsung cabut untuk menikmati jalan-jalan di Munich. Mumpung matahari belum terbenam. Kalau musim dingin begini, matahari terbenam lebih awal dibanding musim lainnya. Untung sebelum berangkat, gue udah buat daftar tempat-tempat yang mau gue kunjungin dan rute mana aja yang harus gue tempuh

Di aplikasi MVV, gak semua tempat tujuan ada di database. Di Google Maps, tempat-tempatnya jauh lebih lengkap, cuma ternyata bisa bikin sesat juga. Gue sempat beberapa kali naik tram ke arah yang berlawanan dengan tempat tujuan gue gara-gara informasi tram atau kereta yang harus dinaikin gak akurat. Untung gue selalu cocokin nama-nama stasiun yang harusnya gue lewatin dengan pengumuman stasiun yang sebentar lagi akan dilewati, jadinya paling salah naik keretanya cuma 1 stasiun doang. Kalau sampai salah arah, solusinya gampang, tinggal ambil kereta ke arah sebaliknya.

Jalan-jalan di Jerman pas musim dingin, apalagi waktu hujan salju, menurut gue sangat tidak disarankan kecuali perlengkapan tempurnya udah lengkap banget. Misal, kalau mau berburu foto, tentunya sarung tangan super tebal yang dibagian ujung jarinya kompatibel dengan layar handphone bakal jadi senjata super penting. Selain itu, penutup telinga, long john (dalaman yang terbuat dari wool) dan jaket super hangat yang ada penutup kepalanya juga penting banget supaya kita tetap merasa hangat. Kalau sepatu sih yang paling penting anti basah. Kebayang aja kalau gak sengaja nginjak genangan air di suhu minus begitu. Bisa keriput gak karuan itu kaki.

Demikian review singkat gue mengenai jalan-jalan ke Munich menggunakan transportasi umum.

Kalau mau lihat beberapa foto yang gue ambil selama perjalanan, silakan klik link ini https://photos.app.goo.gl/5e8VEdMgdprAqvrJ3

Iklan

2 respons untuk ‘Jalan-jalan ke Munich

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s