Hubungan Antara Pencapaian Hidup dan Rasa Puas

Mencapai sesuatu hal yang lebih. Tentunya kalimat itu bukan lagi hal yang asing untuk kita. Dari kecil, kita sudah diajari untuk mendapat ranking di kelas. Ketika teman kita mencapai prestasi yang gemilang, kita pun sering iri akan pencapaiannya. Diam-diam, kita juga berharap bisa menjadi seperti dia. Sistem pendidikan di berbagai belahan dunia juga menekankan pentingnya prestasi. Ketika kita memiliki prestasi ini dan itu, kita bisa masuk universitas ternama.

Semakin mendekati akhir kuliah gue di Manchester, gue semakin mencari jalan untuk mencapai hal yang lebih. Lebih besar, lebih baik, lebih segalanya. Tentunya hal ini gak salah. Gue sendiri merasa kalau gue belum menjalani hidup sesuai dengan potensi yang gue miliki sehingga wajar jika kemudian gue menjalani pencarian akan sesuatu yang lebih. Begitu pemikiran gue waktu itu.

Namun, minggu lalu, pemikiran gue kemudian berubah. Seseorang bernama Will Rubie menyampaikan sebuah kebenaran yang menyatakan bahwa siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Dia kemudian terus berbicara sambil mengutip Pengkhotbah 5 dan 6. Buat yang mau mendengarkan apa yang dia bicarakan secara lebih lengkap, silakan dengarkan rekamannya di sini.

Buat gue, ini bukan soal ajaran agama. Ini soal logika. Ketika kita tidak pernah puas dengan apa yang kita punya, tentunya pencapaian seperti apapun tidak akan bisa kita nikmati. Kenapa? Karena kemudian pemikiran kita terus tertuju kepada pencapaian yang berikutnya. Ketika gaji sudah 10 juta, kita ingin 20 juta, dan seterusnya dan seterusnya. Usaha tak berkesudahan seperti ini ibaratnya seperti usaha menjaring angin, alias sia-sia.

Menurut gue, arti kata present cukup mewakilkan apa yang Will sampaikan. Selain memiliki makna saat ini atau hari ini, present juga memiliki makna lain yakni pemberian. Jika kedua makna tersebut digabungkan, maka kata present memilki makna bahwa saat ini atau hari ini adalah pemberian yang sudah selayaknya kita nikmati.

Adalah baik dan tepat jikalau kita bisa menikmati apa yang telah diberikan untuk menjadi milik kita pada saat ini dan bersenang hati karenanya. Bukan berarti kita harus berpesta pora atau menghabiskan semua yang kita punya untuk mencari kesenangan, namun lebih ke sikap hati yang bersyukur. Cobain deh. Rasanya damai banget. Rasa bahagia itu gak usah jauh-jauh kita cari. Sekarang pun kita bisa bahagia kalau kita bisa bersyukur atas segala yang kita punya.

Pertanyaan selanjutnya adalah, lantas kalau kita sudah bersyukur dengan yang kita miliki, lalu bagaimana? Tidak perlukah kita mencapai prestasi? Tidak perlukan kita pasang target tinggi?

Tentu semua itu tetap perlu. Perbedaannya adalah, ketika kita bersyukur, berbagai pencapaian akan semakin dekat dengan sendirinya karena ketika kita bekerja, ketika kita berkarya, kita melakukannya dengan hati yang riang dan damai. Tujuan kita bekerja bukan lagi karena kita ingin beli mobil atau karena kita ingin menyamai pencapaian tetangga sehingga kita memacu diri lebih keras. Ketika kita bersyukur, soal prestasi bukan lagi dampak dari hal-hal yang terjadi di luar diri kita, tapi dampak dari perubahan dalam diri kita. Bukan soal ingin seperti si A, bukan soal ingin beli mobil B, bukan soal ingin membuat papa mama bangga, tapi karena hati yang damai memampukan diri kita untuk bekerja dengan sangat baik.

Bicara soal damai, gue pernah berada di situasi yang kurang lebih sama. Setelah menjalani hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan waktu kelas 2 SMA, ada aliran rasa damai yang luar biasa. Rasa damai itu mendorong gue untuk lebih giat belajar. Sulit dijelaskan kenapa bisa seperti itu. Yang gue tau, nilai-nilai gue menanjak naik secara drastis. Belajar bukan lagi terasa seperti kewajiban, tapi karena kita memang ingin. Puncaknya, gue bisa belajar dari jam 8 pagi sampai jam 12 malam. Rutinitas seperti itu berlangsung selama berbulan-bulan menjelang SPMB. Singkat cerita, gue akhirnya dinyatakan lolos masuk ITB lewat jalur SPMB.

Gue gak mau menutup tulisan ini dengan kesimpulan. Gue nulis seperti ini juga bukan berarti gue udah jadi orang bener. Sampai saat ini pun, gue masih belajar untuk menyikapi hidup dengan hati yang benar. Gue cuma berharap apa yang gue bagikan lewat tulisan ini bisa jadi bahan buat kita belajar bareng tentang hidup.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s