Hubungan Antara Uang Ratusan Juta Rupiah dan Kebahagiaan

Mungkin ini pertanyaan sejuta umat. Gue masih ingat saat gue kecil, gue seringkali membayangkan punya uang sebanyak itu. Gue mengkhayal mau beli ini dan itu.

Gue tau pertanyaan ini bukan hanya pernah ditanyakan oleh gue. Bisa dibilang, ini adalah hal yang dikejar oleh hampir semua orang. Sebenarnya pertanyaan yang lebih benar adalah, apa uang bisa bikin hepi?

Hari ini gue ga sengaja nonton film anime produksi Netflix yang berjudul Flavors of Youth. Kalimat-kalimat pembuka dari film tersebut yang mempertanyakan tentang eksistensi berbagai hal membuat gue terinspirasi untuk membuat tulisan ini.

You can count up all the things that you once love, all the things you once treasured, but still, you feel like you’ve lost something

– Flavors of Youth: International Version

Kalimat tersebut persis sama dengan kesimpulan yang gue peroleh setelah memiliki tabungan seratus juta, dua ratus juta, dan berikutnya, dan berikutnya.

Seratus juta pertama buat gue terasa spesial. Gue merasa bangga karena uang tersebut adalah hasil kerja keras gue. Gue juga merasa sangat bersyukur karena gue tidak hidup berkekurangan. Hal ini mendorong gue untuk mulai berbagi lebih banyak untuk orang lain.

Saat mencapai seratus juta kedua, gue tetap merasa senang. Sesekali gue cek rekening tabungan dan merasa puas dengan angka yang tertera di sana. Gue manggut-manggut senang.

Ratusan juta setelahnya buat gue tidak terasa begitu spesial. Bisa dibilang, hampir tidak ada yang berbeda dengan diri gue. Gue masih menjalani gaya hidup minimalis dan rasional seperti biasa. Hasrat gue untuk beli ini dan itu tidak bertambah.

Sampai sekarang, gue masih lebih mengedepankan logika untuk setiap pengeluaran. Ketika gue tidak menemukan alasan yang tepat untuk membeli sesuatu, gue tidak akan membuat-buat alasan buat diri gue sendiri supaya ujung-ujungnya tetap beli. Gue juga tidak pernah pusing dengan apa yang orang lain miliki dan gue gak miliki.

Kalaupun ada pelajaran yang bisa gue peroleh dari memiliki ratusan juta rupiah, gue jadi makin menyadari bahwa punya ratusan juta rupiah bukanlah hal utama yang bisa bikin gue hepi.

Pemikiran tersebut akhirnya membuat gue juga menyadari hal lain, bahwa kepemilikan berbagai barang mahal dan bagus juga hampir tidak ada gunanya buat gue. Kalau mau dikejar, selalu akan ada yang lebih bagus dan lebih bagus lagi. Buat gue, yang bisa bikin hepi adalah ketika gue berhenti dan memutuskan untuk bersyukur terhadap apa yang gue miliki saat ini.

Iklan