Kartini dan Kebebasan Jadi Diri Sendiri

Hari ini, 21 April, adalah hari yang diperingati sebagai hari Kartini. Kartini dikenal secara luas oleh masyarakat Indonesia karena kiprahnya dalam memperjuangkan kesetaraan hak-hak perempuan. Sebelum era Kartini, terjadi ketimpangan gender yang besar antara laki-laki dan perempuan. Ketidakadilan dan stigma sosial yang melekat pada diri perempuan ini akhirnya membatasi kiprah mereka di banyak bidang. Intinya adalah, mereka tidak bebas mengekspresikan diri karena dianggap perempuan harus begini, harus begitu. Kalau tidak begitu maka dianggap nyeleneh, memberontak, membangkang, dan lain sebagainya.

Lalu hadirlah Kartini yang menyuarakan dengan lantang bahwa perempuan juga memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam hal kesempatan untuk mengembangkan diri. Singkat kata, setelah era Kartini, harkat dan martabat perempuan lebih dihargai. Perubahan ini membuat mereka lebih bebas dalam mengekspresikan diri.

Nah, gue punya pandangan tersendiri terkait masalah menjadi diri sendiri. Sejalan dengan semangat yang dihembuskan oleh Kartini, menurut gue, tiap orang berhak menjadi dirinya sendiri. Menjadi diri sendiri ini bahasannya sangat luas. Di tulisan kali ini gue gak akan bahas terlalu luas. Gue mau bahas secara khusus tentang kebebasan dalam berkepribadian.

Let me explain this. Secara garis besar, pribadi manusia bisa dikelompokkan jadi tiga golongan. Introvert, ambivert, ekstrovert. Perbedaan mendasar antara ketiga tipe kepribadian ini adalah cara mereka mengisi energi. Orang-orang yang memiliki tipe kepribadian introvert mengisi energi mereka dengan melakukan kegiatan yang mereka senangi secara mandiri atau dalam kelompok kecil. Oleh karena itu, mereka lebih suka berpikir dan menyendiri. Hal tersebut membuat mereka bersemangat. Sementara orang-orang ekstrovert mengisi energi mereka dengan melakukan kegiatan yang melibatkan sosialisasi dan bergaul, dan ambivert adalah campuran antara introvert dan ekstrovert.

mereka membandingkannya dengan diri mereka sendiri lalu menganggap orang yang tidak sama dengan mereka sebagai orang yang harus diajari cara untuk menikmati hidup

Gue gak akan bahas lebih jauh tentang tipe kepribadian. Inti dari argumen gue adalah, kita hidup di dunia yang memiliki pandangan bahwa tipe kepribadian ekstrovert adalah tipe kepribadian paling benar, bahwa jelas ada yang salah dengan orang yang banyak melakukan kegiatan secara mandiri karena terkesan anti sosial. Banyak orang gagal memahami kepribadian seorang introvert karena mereka membandingkannya dengan diri mereka sendiri lalu menganggap orang yang tidak sama dengan mereka sebagai orang yang harus diajari cara untuk menikmati hidup. Ungkapan sindiran semacam “Gak gaul banget sih lu. Party nih, party!“, “Gitu banget sih lo jadi orang. Gak solid banget lo. Harusnya lo lebih sering ngumpul sama kita”, “Lo gak asik.” bisa jadi sudah jadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan seorang introvert.

Lupakah kita, bahwa Kartini mengajarkan dan menyebarkan semangat untuk lebih menghargai sesama manusia secara utuh? Sebagaimana perempuan bebas menjadi dirinya sendiri dan bebas dari tekanan-tekanan sosial yang tidak perlu, begitu juga dengan para introvert. Kita gak berhak menekan, menyindir, atau menghina orang lain hanya karena mereka berbeda. Karena tekanan-tekanan semacam ini, tidak jarang, mereka tumbuh sebagai orang-orang yang minder atau tidak percaya diri.

Gue teringat dengan seorang teman gue yang punya kecerdasan sangat tinggi. Kecenderungan pada orang-orang seperti ini adalah, mereka seakan punya dunia sendiri karena level pemikirannya berbeda dengan orang-orang pada umumnya. Orang-orang seperti ini di Indonesia masih sering dipandang sebelah mata. Bahkan sangat sering. Saking seringnya, sampai akhirnya seakan mereka memiliki kesempatan yang terbatas karena hampir semua orang, secara subjektif, tidak percaya bahwa dia mampu melakukan sesuatu yang hebat. Padahal di atas kertas, kemampuan mereka jauh di atas rata-rata. Padahal kalau saja mereka diberi kesempatan untuk mengembangkan dan menerapkan kemampuan alamiah mereka, sama seperti orang-orang lainnya, gue yakin Indonesia bisa lebih maju dari sekarang.

Padahal..

glm wp

Kisah 3: Mencintai Apa Adanya Dan Hubungannya Dengan Dunia Pendidikan

Kisah ini adalah sambungan dari kisah 1 (mencintai apa adanya dalam sebuah hubungan) dan kisah 2 (mencintai apa adanya dalam pertemanan). Tulisan ini masih akan tetap membahas tentang mencintai apa adanya, tapi dalam perspektif yang tidak biasa, yaitu perspektif dunia pendidikan.

love never fails

Kisah 3:

dia mengayunkan tongkat pemukul jauh sebelum bolanya sampai

Ada sebuah kisah dari buku The 7 Habits of Highly Effective People yang masih membekas di pikiran gue sampai sekarang. Kisah itu bercerita tentang anak dari sang penulis yang mengalami kesulitan akademis di sekolah, dia tidak mengerti bagaimana cara mengikuti petunjuk untuk mengerjakan tes, dia bertingkah tidak sesuai umur, tidak atletis dan seringkali ditertawakan saat bermain baseball karena dia mengayunkan tongkat pemukul jauh sebelum bolanya sampai.

Ayo nak! Kamu pasti bisa! Kami yakin kamu pasti bisa.

Dia dan istrinya merasa khawatir dengan kondisi sang anak, mereka cemas kalau si anak tidak bisa merasakan sukses dalam hidupnya kalau terus-terusan seperti itu. Oleh karena itu, mereka berusaha memperbaiki sikap dan perilaku mereka sebagai orang tua. Mereka mencoba menyemangati sang anak dengan teknik positive mental attitude, “Ayo nak! Kamu pasti bisa! Kami yakin kamu pasti bisa. Coba posisikan tangan agak tinggi, perhatikan bolanya. Jangan ayunkan tongkat pemukul sebelum bolanya dekat.”

kid playing baseball

Ketika yang lain menertawakan, mereka melindungi sang anak. Namun sepertinya tetap saja apa yang mereka lakukan tidak membuahkan hasil dan mereka sangat khawatir akan hal ini.

tapi karena mereka berulangkali kurang berhasil, akhirnya mereka mencoba melihat situasinya dari sudut pandang lain.

Mereka berusaha menyemangati, menjadi orang tua yang mendukung dan positif, tapi karena mereka berulangkali kurang berhasil, akhirnya mereka mencoba melihat situasinya dari sudut pandang lain.

.. mereka menyadari bahwa sebenarnya yang mereka lakukan kurang nyambung

Pada suatu titik, mereka menyadari sesuatu. Setelah merenungkan kembali tindakan mereka, mereka menyadari bahwa sebenarnya yang mereka lakukan kurang nyambung. Mereka berusaha meyakinkan sang anak bahwa dia bisa, dia mampu melakukannya, padahal yang ada dalam pikiran mereka tentang sang anak tetaplah anak yang kurang mampu, anak yang butuh bantuan, anak yang harus dilindungi. Mereka menyadari bahwa tindakan mereka tidak efektif karena inti dari hal yang mereka komunikasikan dengan tindakan dan perkataan mereka sebenarnya adalah, “Kamu tidak mampu. Kamu harus dilindungi.”

Mereka akhirnya menyadari bahwa untuk mengubah situasi, pertama-tama mereka harus mengubah diri mereka sendiri.

Kasih yang bersyarat dapat membuat sang anak merasa kurang diterima dan merasa kurang berharga

sad kid

Mereka akhirnya menyadari bahwa mereka sebenarnya membanding-bandingkan sang anak dengan anak orang lain, mereka menyadari bahwa hal ini bisa menuntun mereka pada kasih yang bersyarat (misal: mereka akan sayang dan memuji-muji anak jika sang anak berprestasi, bertingkah baik, dll dan mereka akan kurang sayang terhadap sang anak jika tidak bertindak sesuai keinginan mereka). Kasih yang bersyarat dapat membuat sang anak merasa kurang diterima dan merasa kurang berharga.

Mereka berhenti berusaha untuk memanipulasi sang anak untuk jadi anak yang baik ..

Titik balik dari permasalahan mereka akhirnya nampak ketika mereka mulai melihat sang anak dari sisi keunikan pribadinya. Dibanding mencoba mengubah sang anak, mereka berusaha menerima sang anak apa adanya, Mereka berhenti berusaha membentuk sang anak sesuai dengan gambaran ideal mereka atau gambaran ideal yang ada di pikiran orang-orang. Mereka berhenti berusaha untuk memanipulasi sang anak untuk jadi anak yang baik sesuai dengan standard sosial.

Kami tidak perlu melindungi kamu, kamu pada dasarnya baik

Tentu sang anak mengekspresikan bahwa dia beberapa kesulitan selama prosesnya, tapi kali ini poin yang mereka komunikasikan pada sang anak adalah, “Kami tidak perlu melindungi kamu, kamu pada dasarnya baik”.

Setelah beberapa tahun berlalu, dia terpilih menjadi pemimpin dalam beberapa organisasi ..

Bagaikan bunga, sang anak akhirnya mulai mekar. Dia menjadi pribadi yang luar biasa kalau diukur dari segi akademis, sosial, dan atletis, dan proses perkembangannya jauh lebih cepat dibandingkan proses yang biasa dialami orang lain. Setelah beberapa tahun berlalu, dia terpilih menjadi pemimpin dalam beberapa organisasi, berkembang jadi atlit yang baik, dan mulai membawa pulang raport yang semuanya berisi nilai A.

blosom lotus

===

Seiring berjalannya waktu, gue mulai melihat beberapa hal yang kurang pas dalam dunia pendidikan

Waktu pertama kali baca kisah di atas, gue tercengang dan termenung lumayan lama. Kisah di atas memberikan sudut pandang baru dalam mendidik anak yaitu penerimaan yang utuh terhadap keunikan si anak.

Seiring berjalannya waktu, gue mulai melihat beberapa hal yang kurang pas dalam dunia pendidikan kalau dibenturkan dengan prinsip penerimaan apa adanya.

tentunya sangat sulit untuk menyelami karakter anak satu persatu

Kita melihat dan mengalami sendiri bahwa guru-guru di sekolah berusaha keras untuk membentuk kita jadi pribadi-pribadi “normal” dan tidak suka bikin masalah. Kalau ada yang suka bikin masalah, pastilah dia akan kena hukuman, kena skors, dan sanksi-sanksi lainnya. Singkat cerita, mereka berusaha membentuk kita untuk jadi sesuai dengan standard sosial yang ada.

killer teacher

Pertanyaannya, apa guru-guru sebenarnya tau apa yang melatarbelakangi anak didik mereka bertindak seperti ini atau seperti itu? Pada kebanyakan kasus, gue yakin jawabannya adalah tidak karena tentunya sangat sulit untuk menyelami karakter anak satu persatu sementara jumlah murid dalam satu kelas seringkali di atas 30 bahkan bisa sampai 60.

Apa harus mereka jadi orang lain untuk membuat orang tua senang?

Ketika ada anak yang sesuai dengan model ideal menurut guru, mereka akan dipuji-puji dan anak-anak lain akan diberitahu untuk mencontoh. Timbul lagi pertanyaan, lalu bagaimana dengan anak yang sebenarnya menonjol di bidang lain? Misalnya, anak-anak yang menonjol dalam hal kreatifitas, tapi karena tidak tau dan tidak diajarkan bagaimana cara menyalurkannya dengan benar, akhirnya mereka mengekspresikan hal itu dengan mengusili teman mereka. Bagaimana dengan mereka? Apa mereka harus mencontoh teman mereka yang super rajin dan pandai menghapal itu, sementara mereka sebenarnya punya potensi luar biasa yang tidak terdeteksi. Apa harus mereka jadi orang lain untuk membuat orang tua senang?

bahwa setiap anak sebenarnya punya keindahannya masing-masing

Gue berpendapat bahwa seringkali para pengajar sok tau tentang apa yang terbaik untuk anak, harus seperti ini dan seperti itu, padahal sebenarnya mereka tidak punya ide sama sekali bagaimana seharusnya mereka menghargai sang anak secara utuh dan memandang anak dari kacamata positif, dari sudut pandang bahwa setiap anak sebenarnya punya keindahannya masing-masing. Guru seharusnya bersinergi atau bekerja sama dengan orang tua untuk mencari tahu hal tersebut.

Bayangkan potensi yang begitu besar harus dikubur dalam-dalam, dan sang anak harus bertingkah seperti orang lain seumur hidupnya ..

Bagaimana kalau di masa depan, sang anak akhirnya frustasi karena terus-terusan merasa ditolak dan merasa diri tidak berharga

Gue pernah mendengar cerita yang tentunya tidak asing, ada orang tua yang memberi tahu guru bahwa dia bebas menghukum anaknya lebih keras, asal dia tidak bandel lagi. Sekarang coba bayangkan kalau ternyata mereka salah kira, dan ternyata di dalam diri anaknya tersimpan potensi kreatifitas yang begitu besar. Bayangkan potensi yang begitu besar harus dikubur dalam-dalam, dan sang anak harus bertingkah seperti orang lain seumur hidupnya hanya karena ketidakmengertian orang tua dan guru tentang potensi tersembunyi sang anak. Miris? Lebih dari itu, ini tragedi!

Mari membayangkan lebih jauh. Bagaimana kalau di masa depan, sang anak akhirnya frustasi karena terus-terusan merasa ditolak dan merasa diri tidak berharga, tidak bisa buat apa-apa, lalu karena merasa hanya bikin malu dan jadi beban untuk orang-orang sekitarnya, lalu dia akhirnya bunuh diri? Terdengar seperti kisah klasik?

Atau barangkali masih ingat film 3 idiots? Di situ ada cerita dimana satu karakter di film itu mengalami masa kelam karena pengajuan perpanjangan masa skripsinya ditolak. Padahal tinggal sedikit lagi, ia akan berhasil bikin penemuan fenomenal. Dia akhirnya depresi dan merasa usahanya tidak dihargai, kerja kerasnya sia-sia. Dia akhirnya menyerah dan bunuh diri.

Jangan sampai apa yang kita bayangkan barusan, dan hal yang pernah kita tonton di film 3 Idiots terjadi di sekitar kita. Gue bisa perpanjang tulisan ini dengan kisah penerimaan apa adanya ala MIT dimana mahasiswa di sana “dibebaskan” untuk melanggar aturan selama tidak membahayakan kesehatan fisik dan karena kebijakan itu, mereka menuai hasil berupa inovasi-inovasi yang dibuat oleh para mahasiswanya. Tapi gue pikir poin yang ingin gue sampaikan sudah terwakili oleh pembahasan di atas.

Semoga berguna.

glm wp