Hubungan Antara Memberi dan Kebahagiaan

Hari ini gue mendapat kabar yang menggembirakan. Salah satu mentee gue di Indonesia Mengglobal berhasil diterima di Yale untuk program studi MBA. Walaupun sempat gagal waktu wawancara LPDP, dia bangkit kembali dan akhirnya berhasil mendapat dukungan penuh dari LPDP untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Baca lebih lanjut

Journey to TOEFL 607 and IELTS 8.0

Disclaimer: Sekali lagi, ini bukan upaya untuk pamer, iklan kursus online, dan sebagainya. Tulisan ini dibuat murni untuk membagikan perjalanan yang membawa gue jadi seperti sekarang. Those scores couldn’t be achieved overnight.

Kadang kita terlalu gampang mengidentikkan kepintaran dengan nilai tes yang tinggi. Tapi gue gak setuju sama asumsi ini. Teman-teman gue yang tau skor TOEFL ITP gue 607 dan overall IELTS band gue 8.0 seringkali berkomentar, “Wuih, pinter banget lo bisa dapet skor segitu”. Beberapa teman juga seringkali merasa minder dan bodoh karena tidak bisa memperoleh skor setinggi gue. “Tapi gue gak sepinter elo. Kayaknya gue ga bakal bisa dapet skor segitu. Kalo gue kayaknya dapet skor jauh di bawah itu aja udah syukur banget”

Okay, let me put this straight. Gue dapat skor segitu bukan karena gue pinter tapi karena bahasa Inggris bukan lagi hal yang asing buat gue.

Bokap gue orang yang visioner. Sejak kecil anak-anaknya dimasukin ke les bahasa Inggris. Gue mulai les bahasa Inggris dari gue umur 6 tahun, waktu kelas 2 SD. Waktu itu ada engkoh-engkoh yang buka usaha bimbel di pinggir jalan protokol di Lampung. Gue yang tadinya gak ngerti apa-apa tentang bahasa Inggris akhirnya memulai perjalanan gue belajar bahasa Inggris dari sana. Sekali lagi, umur 6 tahun, kelas 2 SD.

Gue masih inget banget awal gue belajar grammar adalah dengan melihat contoh soal lalu mengerjakan soal dengan mengisi titik-titik. Sayangnya setelah berjalan beberapa tahun, entah kenapa akhirnya tinggal gue murid yang belajar bahasa Inggris di sana. Singkat cerita, gue harus pindah karena tidak memungkinkan untuk meneruskan pembelajaran hanya dengan 1 murid saja.

Gue akhirnya pindah les ke LIA sekitar kelas 4 SD. Waktu pindah dari tempat les lama, gue masih kelas pre-elementary tapi dari hasil tes penempatan di LIA, gue masuk elementary 3 atau 4, gue gak terlalu ingat. Guru gue waktu itu senang banget. Sampai sekarang gue gak melupakan jasa guru gue yang gue kenang dengan panggilan Miss Riama Sinaga itu. Momen yang gue kenang terutama pada saat dia bertahan beberapa lama untuk mengajar walaupun tinggal gue murid satu-satunya. Baru setelah gue pindah ke LIA, akhirnya dia berhenti mengajar di bimbel engkoh-engkoh itu.

Gue dulu sempat putus nyambung les di LIA, gue lupa karena apa. Yang gue inget, waktu terakhir les di LIA, gue kelas 3 SMA, level Advanced 4 (level advanced yang terakhir), dan lagi nunggu pengumuman SPMB. Hal yang gue suka dari LIA adalah tiap kali ujian kenaikan tingkat ada ujian lisan. Selain itu, di dalam kelas, kita dituntut untuk berani berbicara dan menyampaikan pendapat dalam bahasa Inggris.

Belajar bahasa Inggris di bimbel sejak kecil akhirnya membuat gue memiliki kosakata bahasa Inggris yang cukup luas, terbiasa melihat struktur kata yang benar dalam bahasa Inggris, mendengar percakapan bahasa Inggris yang diucapkan dengan baik, serta memiliki banyak kesempatan untuk latihan menulis dan bercakap-cakap dalam bahasa Inggris.

Kemampuan yang dibangun selama kurang lebih 10 tahun ini akhirnya terlihat hasilnya waktu masuk kuliah. Semasa kuliah di ITB, waktu semester 1 ada mata kuliah bahasa Inggris. Gue masuk kelas presentasi, gak ada UTS, cuma ada UAS berupa presentasi 15 menit. Ada 2 kelas lain yakni kelas reading dan writing. Belakangan gue baru tau kalau penempatan kelas ini berdasarkan nilai tes bahasa Inggris yang diselenggarakan sesaat setelah kami resmi diterima jadi mahasiswa baru. Katanya, untuk golongan orang yang punya skor bahasa Inggris tertinggi, masuknya ke kelas presentasi. Lagi-lagi, ini bukan karena gue pintar. Kalau mau bicara pintar, banyak teman-teman gue di ITB yang jauh lebih pintar. Ini cuma masalah kebiasaan.

Selain lewat mata kuliah bahasa Inggris, gue masih aktif menggunakan bahasa Inggris gue lewat beberapa mata kuliah yang disampaikan dalam bahasa Inggris secara penuh seperti waktu gue mengambil kelas Technology Management di Sekolah Bisnis Manajemen ITB dan beberapa kelas lainnya. Selain itu gue juga aktif membaca berbagai buku pengembangan diri dalam bahasa Inggris serta menonton berbagai film Hollywood tanpa menggunakan subtitle.

TOEFL ITP

toefl itp

Setelah lulus kuliah, gue sempat belajar mandiri lewat simulasi dari soal-soal di buku yang gue beli lalu daftar tes TOEFL ITP di BLCI untuk keperluan pendaftaran beasiswa dari pemerintah Australia bernama ADS (sekarang AAS). Skor gue waktu itu 580 (Listening 61, Structure 54, Reading 59).

TOEFL ITP BLCI

Sekitar setahun setelah mulai kerja, gue mengenal Coursera. Website ini kemudian secara gak langsung membuat gue melatih bahasa Inggris gue lebih lagi sembari menimba berbagai ilmu di kelas-kelas gratis dari berbagai universitas ternama dunia.

Selain lewat Coursera, waktu itu gue juga sedang aktif belajar untuk GMAT (Graduate Management Admission Test) yang merupakan salah satu tes wajib sebagai persyaratan mendaftar ke sekolah bisnis. Menurut gue, soal verbal di GMAT ini jauh lebih susah dibanding TOEFL dan IELTS karena bukan sekedar menguji kemampuan berbahasa namun menguji logika.

Waktu itu, gue ikut TOEFL ITP di UI Depok untuk keperluan daftar beasiswa LPDP. Gue berencana daftar beasiswa ke sekolah bisnis di luar negeri.

TOEFL ITP UI Depok

Gue cukup gak percaya dengan hasilnya karena malam sebelum tes gue kurang tidur dan waktu itu ada petasan yang bunyinya sangat mengganggu. Anyway, i did managed to get Listening 60, Structure 60, and Reading 62. Puji Tuhan, skornya jauh lebih memuaskan dibanding 2,5 tahun lalu. Ada peningkatan di bagian structure & written expression dan reading karena gue intensif latihan soal-soal verbal GMAT beberapa bulan sebelum ikut tes.

Skor TOEFL ITP 607 ini juga yang akhirnya menjadi salah satu modal utama gue untuk lolos seleksi beasiswa LPDP. Baca kisahnya di sini.

IELTS

ielts

Setelah dinyatakan lolos seleksi beasiswa LPDP, gue akhirnya harus ambil tes bahasa Inggris yang berlaku internasional sebagai syarat mendaftar ke berbagai sekolah bisnis di luar negeri. IELTS merupakan tes bahasa Inggris gue yang pertama yang berlaku secara internasional. Biaya yang harus dikeluarkan untuk sekali tes adalah Rp 2,7 juta. Gue tes IELTS pada Februari 2016. Karena gue gak sempat latihan, gue akhirnya cuma persiapan seadanya. Gue latihan simulasi listening dan reading 2 kali sebagai refresher.

Sebelum latihan simulasi lagi, terakhir kali gue latihan simulasi IELTS itu tahun 2012. Seinget gue, dari beberapa kali simulasi, waktu itu gue dapet band 7, kadang 7.5 untuk listening sementara reading konsisten dapet 7.5.

Di simulasi 2016, gue dapet Listening 8 dan reading 8.5. Kenaikan skor simulasi listening lebih karena faktor sering belajar di Coursera. Gue yang waktu itu memang sengaja menonton materi ajar tanpa menggunakan subtitle akhirnya memaksa diri untuk menyerap berbagai materi akademis yang disampaikan lewat video. Kenaikan skor reading lebih karena gue makin banyak baca artikel berat seputar ekonomi, bisnis, dan mengerjakan soal-soal reading GMAT yang memang terkenal susahnya.

Untuk writing, gue baca-baca di internet contoh soal yang akan diujikan lalu lihat contoh band 8.0 dan band 9.0. Gue coba kerjain pertanyaan yang sama lalu gue bandingkan hasil tulisan gue dengan tulisan contoh. Setelah itu, gue lalu menganalisa di bagian mana tulisan gue masih kurang dan harusnya gue mengembangkan tulisan seperti apa supaya bisa bagus seperti contoh. Gue juga terbantu dengan latihan Analytical Writing Asessment yang gue jalani sebagai bagian dari persiapan menempuh GMAT. Ternyata gak perlu nulis dengan ide yang terlalu rumit, cukup ide-ide sederhana yang dirangkai secara terstruktur dan logis.

Untuk speaking, gue lihat-lihat di youtube untuk dapet contoh pertanyaan yang diajukan serta cara jawabnya. Ada 3 part dalam tes IELTS speaking. Part 1 itu kurang lebih percakapan seputar info personal. Misal, apa statusmu sekarang? Pekerja atau pelajar? Rumahnya di mana? Biasa kalau weekend ngapain? Dan berbagai pertanyaan seputar itu.

Masuk part 2 nanti di kasih kertas berisi pertanyaan lalu dikasih waktu 1 menit untuk memikirkan jawabannya sembari coret-coret di kertas untuk menuliskan garis besar jawabannya. Lalu kita dikasih waktu 3-4 menit untuk menjelaskan jawaban kita.

Part 3 kurang lebih pertanyaan-pertanyaan tanggapan dari apa yang kita jelaskan di part 2 atau bisa juga pertanyaan seputar topik-topik lain.

Yang gue pelajari dari tes speaking IELTS adalah, yang terpenting lu bisa jawab pertanyaan dengan lancar dan koheren (gak muter-muter). Langsung jawab semua pertanyaan yang diajukan secara singkat baru jelaskan kenapa lu jawab seperti itu. Kesalahan gue waktu tes IELTS beneran itu memang karena gue kurang latihan. Gaya komunikasi gue dalam bahasa Indonesia juga memang masih kurang efektif, banyak muter jelasin ini itu dulu baru jawab inti pertanyaannya.

Tes gue yang waktu itu berlangsung pada tanggal 23 Januari 2016 di Millenium Hotel Sirih Jakarta berlangsung lancar. Setelah tes, gue harus tunggu 2 minggu sebelum hasil tesnya keluar. Singkat cerita, akhirnya tanggal 5 Februari 2016 hasil tes gue keluar. Gue cek hasil tes gue lewat website British Council dan hasilnya Listening 8.5, Reading 9.0, Writing 7.0, Speaking 7.5.

IELTS TRF

Penutup

Gue mau menutup tulisan kali ini dengan logika sederhana yang disampaikan oleh salah seorang teman gue. Masalah mahir berbahasa sebenarnya bukan masalah kepintaran. Lihat aja di Tiongkok, sebodoh-bodohnya orang normal yang lahir di Tiongkok pasti bisa berbahasa mandarin. Sebodoh-bodohnya orang normal yang lahir di Inggris pasti bisa berbahasa Inggris. Oleh karena itu, masalah bahasa sebenarnya adalah masalah kebiasaan.

Gue sangat sependapat dengan temen gue itu. Itulah kenapa gue seringkali sinis memandang berbagai janji muluk dari berbagai lembaga bahasa untuk menjamin skor tes TOEFL yang tinggi. Come on. Those scores can’t be achieved overnight! Satu-satunya cara supaya memperoleh skor tinggi adalah belajar, belajar, belajar.

Proses belajar yang panjang dari kecil sampai SMA membuat gue memiliki kosa kata yang luas. Menurut gue, kosa kata adalah fondasi utama dari kemampuan berbahasa. Tanpa kosa kata yang luas, tentu kita akan sulit untuk berbicara, sulit mengerti apa yang didengar, dan sulit mengerti apa yang dibaca.

Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah keinginan keras untuk terus belajar dan tidak malu mencoba. Seorang anak kecil yang sedang belajar berbicara pasti berulang kali ngoceh ngalor ngidul sampai akhirnya bisa berbicara dengan benar. Saat belajar berjalanpun demikian, kita jatuh dan bangun lagi sampai akhirnya bisa berlari.

Gimana kalau skor bahasa Inggris kita masih kurang jauh? Ya ga ada cara lain, harus kejar ketertinggalan dengan belajar giat seperti yang dituturkan seseorang lewat tulisan ini (dari skor simulasi 4.5 akhirnya bisa dapet 8.0 di real IELTS test). Apa yang dijabarkan di sana juga tentunya jauh lebih informatif dari apa yang bisa gue sampaikan di sini namun intinya tetap sama: bahwa skor tinggi tidak bisa didapat tanpa usaha. Gue sudah mencicil usaha gue dari kecil sehingga waktu SMA gue udah punya dasar bahasa inggris yang cukup bagus, sedangkan dia mengejar ketertinggalannya dengan belajar intensif. Jangan percaya sama klaim dari manapun yang menjanjikan skor tinggi dalam waktu singkat. Lembaga kursus / guru privat hanya berfungsi sebagai katalis atau agen untuk mempercepat proses belajar kita. Tidak ada lembaga kursus / guru privat yang bisa membuat kita memperoleh skor tinggi dengan jujur kalau kita tidak berusaha.

===

Business School Series:

===

Tulisan Lepas:

5 Cara Mengembangkan Diri Seperti Startup

Fenomena startup barangkali jadi lebih familiar belakangan ini berkat kehadiran berbagai perusahaan teknologi seperti Gojek, Uber, dan sebagainya. Seperti yang kita ketahui, startup adalah sebuah usaha yang berada di fase pertama. Startup punya potensi untuk berkembang jadi lebih besar jika ditangani dengan cara yang tepat.

Menurut gue, memandang pengembangan diri seperti perkembangan sebuah startup adalah sudut pandang yang unik. Setiap orang punya potensi untuk berkembang jadi pribadi-pribadi dengan pencapaian luar biasa jika berhasil mengembangkan diri dengan tepat. Penulis buku “Startup of You” berhasil membedah sudut pandang yang cukup unik ini menjadi beberapa poin yang menarik untuk disimak.

    1. Mindset Permanent Beta

      Dalam tahapan pengembangan barang atau jasa, fase beta adalah fase di mana rangkaian-rangkaian fitur sudah dapat berfungsi sebagaimana mestinya, tinggal di cek secara intensif dan menyeluruh sehingga ketika ketemu permasalahan, bisa diperbaiki. Setelah tahap beta, kita akan sampai ke tahap release candidate dan pada akhirnya konsep barang/jasa kita siap dipasarkan. Menjadi hal yang menarik ketika kita mengadopsi mindset permanent beta dan menerapkannya dalam hidup kita karena artinya kita memandang diri kita sebagai pekerjaan yang belum selesai dan terus aktif memperbaiki diri.

      .

    2. Competitive Advantage

      Supaya startup dapat berkembang secara berkelanjutan, dibutuhkan sebuah elemen yang bernama competitive advantage. Competitive advantage, atau keunggulan kompetitif, adalah sesuatu yang membedakan sebuah bisnis dibanding bisnis lainnya. Misal, ada dua toko sama-sama jualan mie tapi mie racikan toko A lebih enak rasanya dan harganya juga lebih murah dibanding toko B. Nah, rasa mie yang lebih enak dan harga yang lebih murah ini adalah keunggulan kompetitif toko A di banding toko B. Terang aja, kenapa juga harus beli mie di toko B kalau di toko A lebih enak dan murah?

      Untuk pengembangan diri juga demikian halnya. Apa keunggulan kompetitif kita? Hal apa yang membedakan kita dengan orang lain? Apa nilai lebih kita? Tentunya kita tidak perlu jadi lebih baik dibanding semua orang. Akan lebih mudah untuk mengembangkan kemampuan spesifik dan jadi ahli di sana. Kita bisa mulai dengan menyediakan waktu untuk mengerjakan proyek-proyek sampingan yang berguna sekaligus menarik minat kita.

      Dalam mengembangkan keunggulan kompetitif, ada 3 aspek penting yang harus diperhatikan:

      1. Aset (Aset lunak: kemampuan, pengetahuan, kenalan, dll. Aset keras: uang)
      2. Aspirasi (Apa yang ingin kita capai di masa depan)
      3. Kondisi Pasar (Seberapa berharga aset kita di mata pasar)

      .
      Ketiga hal ini saling berkaitan satu dengan yang lain. Kata pasar di sini bisa diterjemahkan menjadi pasar tenaga kerja, pasar beasiswa, pasar pasangan hidup, dan lain sebagainya.

      Kemampuan (aset) dan aspirasi yang tidak sesuai kondisi pasar tentu tidak dapat membawa kita berjalan terlalu jauh. Misal, kita kepengen banget punya pasangan (aspirasi), tapi kemampuan komunikasi kurang (aset komunikasi kurang). Kalau berhadapan dengan yang cakep sedikit langsung grogi, gak bisa ngomong. Ketemu calon mertua juga kurang ajar (aset etika kurang). Ya mana bakal laku kalau begitu (tidak sesuai dengan harapan pasar).

      Sebaliknya, terlalu fokus pada kondisi pasar tanpa memperhatikan aspirasi (kesukaan dan hasrat pribadi) juga tidak dapat membawa kita berjalan terlalu jauh karena tekanan psikologisnya akan semakin tinggi seiring dengan berjalan waktu. Misal, karena calon mertua menuntut calon menantunya adalah seorang pekerja kantoran supaya penghasilan lebih stabil, akhirnya bela-belain jadi pegawai supaya bisa menikah dengan anaknya. Padahal dia tidak terlalu senang bekerja di bawah orang dan lebih suka bertemu banyak orang ketimbang bekerja di belakang meja. Tentu hal semacam ini akan membawa beban mental tersendiri kalau dijalani dalam jangka waktu lama. Intinya, aset, aspirasi, dan kondisi pasar harus seimbang.

      Kalau dalam kasus gue, gue punya aset di Excel, kemampuan bahasa Inggris yang sangat baik, story telling, rekam jejak inovasi yang berdampak cukup besar, dll. Gue juga punya aspirasi untuk sekolah bisnis. Harapan pasar (pasar beasiswa dan pasar sekolah bisnis) sinkron dengan aspirasi serta aset yang gue miliki sehingga akhirnya gue berhasil mendapatkan kursi di sekolah bisnis dan juga meraih beasiswa dari LPDP.

      aset, aspirasi, kondisi pasar

      Contoh hubungan seimbang antara aset, aspirasi, dan kondisi pasar

      .

    3. Plan to Adapt

      Banyak nasehat berkata bahwa kita harus menentukan kita ingin jadi apa 10 tahun ke depan, lalu membangun rencana untuk mencapainya. Banyak juga nasehat yang berkata bahwa kita harus menemukan apa yang menjadi hasrat atau passion kita lalu mengejarnya.

      Pendekatan seperti itu tidak salah namun memiliki kekurangan yang cukup serius. Di dunia yang serba dinamis seperti saat ini, segala sesuatu berubah begitu cepat. 15 tahun lalu, layar ponsel masih satu warna, nada deringnya begitu sederhana serta hampir tidak ada ponsel yang memiliki kamera. Sekarang? Sudah tidak perlu dijelaskan lagi. Lihat saja sekeliling kita.

      Di tengah berbagai perubahan tersebut, banyak perusahaan ponsel ternama yang sekarang hampir tidak terdengar lagi bunyinya. Nokia dan Blackberry adalah contoh dari raksasa teknologi yang gagal beradaptasi lalu kemudian tenggelam ditelan kerasnya persaingan.

      Sekitar 9 tahun lalu, pada tahun 2007, sebagian besar mahasiswa di fakultas teknik pertambangan dan perminyakan ITB ingin masuk ke jurusan teknik perminyakan. Hampir tidak ada yang ingin melanjutkan ke teknik metalurgi. Wajar saja, dulu harga minyak melambung tinggi sehingga gaji lulusan baru di bidang teknik perminyakan sangat menggiurkan. Sekarang? Harga minyak dunia anjlok. Hampir tidak ada yang memperkirakan harga minyak bisa jatuh karena berasumsi bahwa minyak akan terus dibutuhkan. Banyak sarjana teknik perminyakan yang kena pemutusan hubungan kerja sementara lahan pekerjaan baru di bidang metalurgi semakin banyak. Tanpa bermaksud menjelekkan atau memuji salah satu jurusan, ini fakta yang harus kita hadapi. Siapa yang tidak siap menghadapi perubahan akan tergilas. Hal ini pula yang jadi salah satu dasar gue untuk melanjutkan studi ke administrasi bisnis.

      .

    4. Pursue Breakout Opportunities

      Pergerakan karir yang signifikan seringkali ditandai dengan kehadiran momen breakout. Momen breakout adalah momen dimana pergerakan karir akhirnya menemui momen akselerasi atau percepatan. Contoh: akselerasi karir seorang artis yang memenangkan Oscar, atau akselerasi karir seorang staf karena sukses besar dalam menangani proyek raksasa.

      Teman gue mendapat momen breakout ketika popularitas akun twitter yang dia kelola meledak. Banyak kesempatan berdatangan setelah itu. You name it, pendekatan dari partai politik, tawaran beasiswa, tawaran pekerjaan, dan lain sebagainya. Dia mengambil salah satu kesempatan itu lalu melakukan lompatan jadi seorang manajer di salah satu perusahaan besar di ibukota.

      Gue sendiri juga sempat mengalami momen breakout waktu gue sukses bikin terobosan dengan bikin sistem pelaporan otomatis. Gak lama setelah itu, gue dapat promosi dan tawaran beasiswa master di bidang teknik dari kantor.

      How do my friends and I do that? Just do something. Lakukan sesuatu. Manfaatkan waktu dengan baik. Semakin variatif kegiatan yang kita lakukan, makin besar kesempatan kita untuk menggabungkan ide-ide, orang, dan tempat yang tepat menjadi kesempatan-kesempatan baru. Dalami hal baru, pergi bertemu dengan orang-orang baru, pergi ke tempat baru. Sosialisasi gue dengan teman kantor kemudian mengantarkan gue mengenal Coursera, MBA, serta kesempatan beasiswa LPDP. Sosialisasi gue dengan komunitas pemuda gereja di Cilegon dan Serang mengantarkan gue pada kesempatan pengabdian masyarakat di desa Rancabuaya yang kemudian menjadi salah satu aset penting bagi gue untuk meraih beasiswa LPDP. Go pursue your breakout opportunities.

      .

    5. Take Intelligent Risks

      Resiko adalah bagian dari hidup. Cepat atau lambat, kita pasti akan berhadapan dengan berbagai resiko. Resiko bisa hadir dalam berbagai wujud. Memilih untuk pergi ke puncak dibanding jalan-jalan ke pantai? Ada resikonya. Bisa jadi jalan ke puncak macet total dan akhirnya malah sama sekali ga bisa menikmati perjalanan. Memilih untuk menerima tawaran kerja di perusahaan A dibanding perusahaan B? Ada resikonya. Bisa jadi memang gaji di perusahaan B lebih kecil tapi ternyata lingkungan kerjanya jauh lebih nyaman dibanding perusahaan A. Atau ternyata kita gak pilih kedua perusahaan itu, tidak A, tidak juga B. Tetap ada resikonya. Bisa jadi ternyata kita tidak dapat tawaran pekerjaan lagi selain dari A dan B karena mendadak situasi ekonomi menjadi sulit.See? Resiko ada di mana-mana. Bahkan diam sekalipun mengandung resiko.

      Mengambil resiko dengan bijak adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi sebelum akhirnya memperoleh breakout opportunities. Seorang artis harus memilih film yang akan dimainkan sehingga bisa benar-benar menampilkan karya terbaiknya. Gue sendiri harus berhadapan dengan resiko yang cukup besar ketika menolak tawaran beasiswa dan kesempatan training di Korea. Temen gue harus berhadapan dengan resiko juga ketika menolak pinangan dari partai politik dan beasiswa yang ditawarkan. It’s okay to take risks. Mungkin saat itu orang-orang melihat kami sebagai orang bodoh karena menolak berbagai kesempatan luar biasa. Ternyata? Di balik resiko yang kami ambil, kami mendapatkan hal yang jauh lebih baik.

Kesimpulannya, be a permanent beta. Mulailah berinvestasi dalam mengembangkan kemampuan-kemampuan baru, ambil resiko-resiko dengan bijak, kejar kesempatan-kesempatan untuk melejit, dan jangan pernah berhenti bergerak serta beradaptasi. Never stop starting!

glm wp

Part 8: Memilih Kampus

Sambungan dari Part 7

Gak terasa sekarang sudah sekitar sebulan sejak gue dinyatakan diterima di dua kampus yang jadi incaran gue yakni di Weatherhead School of Management (selanjutnya gue sebut Weatherhead) serta di Alliance Manchester Business School (selanjutnya gue sebut AMBS). Ngomong-ngomong, gak terasa juga sekarang sudah mau masuk pertengahan 2016. Waktu bergulir begitu cepat.

Sebelum dapat pengumuman dari Weatherhead dan sebelum gue ngelamar AMBS, sebenernya gue udah selesai memasukkan berkas di University of Adelaide. Gue memang sengaja ngelamar sekolah ini sebagai safety net (jaring pengaman) karena gue masih belum bisa prediksi apa gue bakal diterima di Weatherhead dan apakah nanti lamaran gue ke AMBS bakal berhasil atau enggak. Kalau gue gak masuk di ke dua sekolah ini, paling gak gue udah lagi proses di Adelaide dan tinggal tunggu pengumuman. Gue gak akan bahas banyak tentang sekolah ini karena memang pengambilan keputusan gue hampir tidak melibatkan Adelaide di dalamnya.

Waktu pengumuman dari Weatherhead udah keluar dan lagi nunggu pengumuman dari AMBS, gue ngejalanin sesi wawancara via Skype dengan Admissions Director dari University of Adelaide. Waktu itu, tanggal 6 Mei 2016, gue ngejalanin wawancara di rumah karena lagi libur panjang. Karena sebelumnya udah mastiin bahwa wawancara akan berlangsung dalam video call, akhirnya gue terpaksa pakai kemeja, dasi, dan blazer di tengah udara yang panas. Sengaja gue arahkan kamera depan HP gue ke setengah badan aja karena gue males pake celana rapih-rapih, tambah mirip lemper nanti. Akhirnya jadilah gue wawancara waktu itu pakai kemeja, dasi, blazer, dan .. celana pendek. Papa dan mama sempat bercandaain, “Gimana kalo tiba-tiba disuruh berdiri sama profesornya? Ntar keliatan dong celana pendek kamu?” Elah, ngapain juga dia suruh berdiri? Wkwk.

Sekitar sebulan setelah admission offer dari Weatherhead dan AMBS, akhirnya kemaren gue dapat kabar dari Adelaide kalau gue diterima di sana. Komplit sudah. Total 3 universitas dari 3 benua yang berbeda udah menyatakan tawarannya pada gue.

Sebelum sampai pada 3 pilihan kampus ini, gue memang sebelumnya sudah buat beberapa rencana, bagaimana kalau lamaran gue berhasil, bagaimana kalau lamaran gue gagal, rencana cadangannya seperti apa, dan lain sebagainya. Gue udah melakukan riset yang cukup mendalam mengenai 3 kampus ini dan riset yang gue lakukan sangat membantu sebagai bahan pertimbangan gue untuk mengambil keputusan.

Ada beberapa kriteria yang jadi fokus gue dalam mengambil keputusan:

  1. Perbandingan peringkat University of Manchester vs Case Western University vs University of Adelaide
  2. Perbandingan peringkat AMBS vs Weatherhead vs Adelaide
  3. Peringkat spesialisasi AMBS, Weatherhead, dan Adeliade jika dibandingkan dengan sekolah bisnis ternama lainnya
  4. Perbandingan lingkungan
  5. Perbandingan kurikulum
  6. Manfaat-manfaat lain

Untuk perbandingan peringkat universitas dan sekolah bisnis, gue pakai perbandingan dari berbagai sumber meliputi QS World University Ranking, QS Ranking by Subject, QS MBA ranking, Times Higher Education, dan Financial Times. Hasilnya, AMBS konsisten lebih unggul dibanding Weatherhead dan Adelaide. Untuk kriteria spesialisasi, berdasarkan peringkat QS MBA ranking tahun 2014, AMBS bahkan mengungguli sekolah bisnis di University of Cambridge dan University of Oxford dalam spesialiasi operations management.

Selain ranking, satu hal yang menurut gue sangat penting adalah kurikulum. Gue sangat suka pendekatan learning by doing dan original thinking yang diterapkan oleh AMBS. It suits me very well. Gue dari dulu memang senang coba-coba hal baru. Bikin ini, bikin itu, sampai akhirnya tanpa sadar kemampuan gue meningkat. Dari waktu gue belajar tentang bisnis dan manajemen di Coursera, gue udah lumayan banyak menyerap konsep-konsep menarik, hanya saja gue belum bisa menerapkan sebagian besar konsep itu karena kesempatan yang terbatas. Belajar sambil terjun langsung menurut gue akan lebih susah namun sekaligus memberikan peningkatan kemampuan yang lebih cepat. Selain itu, gue juga mengamini pentingnya pemikiran orisinal dalam memecahkan sebuah masalah. Di era transformasi cepat seperti sekarang, kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan serta kemampuan menciptakan terobosan-terobosan baru akan jadi aset yang sangat berharga.

Di lain pihak, kurikulum dari Weatherhead juga sangat menarik. Sekolah ini mengambil pendekatan desain dalam seni lalu meleburkan konsep-konsepnya ke dalam dunia bisnis. Hasil dari peleburan ini kemudian melahirkan pionir-pionir dalam design thinking dan design for business innovation. Kombinasi yang sangat unik ini menjadi menarik karena gue sangat suka sesuatu yang liar dan mendobrak aturan seperti ini. Gue udah bisa membayangkan berbagai hal yang bisa gue kembangkan setelah gue belajar tentang konsep-konsep ini.

Waktu mempertimbangkan antara AMBS dan Weatherhead, gue inget lagi dengan pelajaran yang pernah gue ambil dulu di kelas kreativitas.

little-C big-C

Hubungan Little-C dengan Big-C

Dr. Cyndi Burnett dan Dr. John F Cabra dari State University of New York menjelaskan bahwa, secara garis besar, kreativitas bisa dibagi menjadi dua yaitu Little-C dan Big-CLittle-C berkaitan dengan ide-ide kecil yang memperkaya hidup kita, misal membuat resep baru dan sebagainya. Big-C adalah sesuatu yang langka dan berkaitan dengan terobosan yang signifikan.

Little-C dan Big-C memiliki satu kesamaan: sama-sama butuh bahan bakar berupa pengetahuan. Kita tentu tidak akan bisa membuat resep baru kalau kita tidak punya pengetahuan tentang rasa dari bawang, rasa dari daging, rasa dari sayuran, dan sebagainya. Kita juga tentu tidak akan bisa membuat format laporan baru kalau sebelumnya kita tidak mengetahui cara mengoperasikan komputer.

Oke, lalu apa hubungannya dengan AMBS vs Weatherhead? Menurut gue, pemikiran-pemikiran inovatif, lompatan ke Big-C, nanti juga akan terjadi secara alami seiring dengan berjalannya waktu dan naiknya pemahaman gue tentang dunia bisnis. AMBS jadi kendaraan yang ideal buat gue karena pengalaman praktis akan berjalan beriringan dengan berkembangnya konsep-konsep inovatif, sama seperti waktu gue otak-atik Excel dengan tujuan senang-senang dan akhirnya menghasilkan lompatan ke Big-C dengan mengembangkan berbagai platform yang belum pernah ada sebelumnya.

So, I’ll be going to Manchester!

mbs logo

-bersambung ke part 9-

===

Part-part sebelumnya:

===