Look Around

Dentuman bass yang lantang dan powerful tiba-tiba terdengar di telinga gue. Cukup mengagetkan awalnya, karena musik tersebut terputar secara otomatis di aplikasi Facebook yang lagi gue buka. Namun, beberapa detik kemudian, gue malah jadi menikmati hentakan demi hentakan musik yang begitu kuat dan dalam tersebut. Gue juga mendadak jadi sadar nilai sebenarnya dari headset ini. It’s a damn fine headset. Gue lalu bersyukur karena punya headset ini.

Seperti halnya headset yang sudah jarang gue pakai dan gue anggap biasa saja ini, sebenarnya begitu banyak hal di sekeliling kita yang kita anggap biasa saja. Kita anggap biasa saja, padahal sebenarnya luar biasa. So, look around. Let’s be grateful.

Iklan

Hubungan Antara Memberi dan Kebahagiaan

Hari ini gue mendapat kabar yang menggembirakan. Salah satu mentee gue di Indonesia Mengglobal berhasil diterima di Yale untuk program studi MBA. Walaupun sempat gagal waktu wawancara LPDP, dia bangkit kembali dan akhirnya berhasil mendapat dukungan penuh dari LPDP untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Dulu, waktu daftar jadi mentor di Indonesia Mengglobal, gue sudah dinyatakan lolos beasiswa S2 Luar Negeri dari LPDP dan sudah diterima di Manchester Business School. Waktu tau tentang program mentorship dari Indonesia Mengglobal, tanpa pikir panjang, gue langsung ikutan. Niat gue ikutan begituan cuma ingin berbagi apa yang gue punya. Ini juga sejalan dengan apa yang gue deskripsikan di halaman Tentang Gue, bahwa gue memiliki kerinduan agar “semua orang bisa menjalani hidup terbaik yang bisa dia miliki”

Hari ini gue diingatkan lagi tentang nikmatnya berbagi. Mungkin perasaan yang sama juga dialami oleh guru bahasa Inggris yang bisa melihat muridnya berhasil kuliah di luar negeri, walaupun cuma pernah mengajar dalam jangka waktu singkat saja. Dan gue yakin, bukan kebetulan pula, dari langganan quotes di Google Allo, gue hari ini mendapat satu kalimat berikut dari Eleanor Roosevelt:

Since you get more joy out of giving joy to others, you should put a good deal of thought into the happiness that you are able to give

Kalau diterjemahkan, artinya kurang lebih, “Karena kamu mendapatkan lebih banyak kebahagiaan dari memberikan kebahagiaan kepada orang lain, kamu sebaiknya memikirkan sungguh-sungguh tentang kebahagiaan yang dapat kamu berikan”

Kebahagiaan apa yang bisa kita berikan ke orang lain pada hari ini?

Hubungan Antara Pencapaian Hidup dan Rasa Puas

Mencapai sesuatu hal yang lebih. Tentunya kalimat itu bukan lagi hal yang asing untuk kita. Dari kecil, kita sudah diajari untuk mendapat ranking di kelas. Ketika teman kita mencapai prestasi yang gemilang, kita pun sering iri akan pencapaiannya. Diam-diam, kita juga berharap bisa menjadi seperti dia. Sistem pendidikan di berbagai belahan dunia juga menekankan pentingnya prestasi. Ketika kita memiliki prestasi ini dan itu, kita bisa masuk universitas ternama.

Semakin mendekati akhir kuliah gue di Manchester, gue semakin mencari jalan untuk mencapai hal yang lebih. Lebih besar, lebih baik, lebih segalanya. Tentunya hal ini gak salah. Gue sendiri merasa kalau gue belum menjalani hidup sesuai dengan potensi yang gue miliki sehingga wajar jika kemudian gue menjalani pencarian akan sesuatu yang lebih. Begitu pemikiran gue waktu itu.

Namun, minggu lalu, pemikiran gue kemudian berubah. Seseorang bernama Will Rubie menyampaikan sebuah kebenaran yang menyatakan bahwa siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Dia kemudian terus berbicara sambil mengutip Pengkhotbah 5 dan 6. Buat yang mau mendengarkan apa yang dia bicarakan secara lebih lengkap, silakan dengarkan rekamannya di sini.

Buat gue, ini bukan soal ajaran agama. Ini soal logika. Ketika kita tidak pernah puas dengan apa yang kita punya, tentunya pencapaian seperti apapun tidak akan bisa kita nikmati. Kenapa? Karena kemudian pemikiran kita terus tertuju kepada pencapaian yang berikutnya. Ketika gaji sudah 10 juta, kita ingin 20 juta, dan seterusnya dan seterusnya. Usaha tak berkesudahan seperti ini ibaratnya seperti usaha menjaring angin, alias sia-sia.

Menurut gue, arti kata present cukup mewakilkan apa yang Will sampaikan. Selain memiliki makna saat ini atau hari ini, present juga memiliki makna lain yakni pemberian. Jika kedua makna tersebut digabungkan, maka kata present memilki makna bahwa saat ini atau hari ini adalah pemberian yang sudah selayaknya kita nikmati.

Adalah baik dan tepat jikalau kita bisa menikmati apa yang telah diberikan untuk menjadi milik kita pada saat ini dan bersenang hati karenanya. Bukan berarti kita harus berpesta pora atau menghabiskan semua yang kita punya untuk mencari kesenangan, namun lebih ke sikap hati yang bersyukur. Cobain deh. Rasanya damai banget. Rasa bahagia itu gak usah jauh-jauh kita cari. Sekarang pun kita bisa bahagia kalau kita bisa bersyukur atas segala yang kita punya.

Pertanyaan selanjutnya adalah, lantas kalau kita sudah bersyukur dengan yang kita miliki, lalu bagaimana? Tidak perlukah kita mencapai prestasi? Tidak perlukan kita pasang target tinggi?

Tentu semua itu tetap perlu. Perbedaannya adalah, ketika kita bersyukur, berbagai pencapaian akan semakin dekat dengan sendirinya karena ketika kita bekerja, ketika kita berkarya, kita melakukannya dengan hati yang riang dan damai. Tujuan kita bekerja bukan lagi karena kita ingin beli mobil atau karena kita ingin menyamai pencapaian tetangga sehingga kita memacu diri lebih keras. Ketika kita bersyukur, soal prestasi bukan lagi dampak dari hal-hal yang terjadi di luar diri kita, tapi dampak dari perubahan dalam diri kita. Bukan soal ingin seperti si A, bukan soal ingin beli mobil B, bukan soal ingin membuat papa mama bangga, tapi karena hati yang damai memampukan diri kita untuk bekerja dengan sangat baik.

Bicara soal damai, gue pernah berada di situasi yang kurang lebih sama. Setelah menjalani hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan waktu kelas 2 SMA, ada aliran rasa damai yang luar biasa. Rasa damai itu mendorong gue untuk lebih giat belajar. Sulit dijelaskan kenapa bisa seperti itu. Yang gue tau, nilai-nilai gue menanjak naik secara drastis. Belajar bukan lagi terasa seperti kewajiban, tapi karena kita memang ingin. Puncaknya, gue bisa belajar dari jam 8 pagi sampai jam 12 malam. Rutinitas seperti itu berlangsung selama berbulan-bulan menjelang SPMB. Singkat cerita, gue akhirnya dinyatakan lolos masuk ITB lewat jalur SPMB.

Gue gak mau menutup tulisan ini dengan kesimpulan. Gue nulis seperti ini juga bukan berarti gue udah jadi orang bener. Sampai saat ini pun, gue masih belajar untuk menyikapi hidup dengan hati yang benar. Gue cuma berharap apa yang gue bagikan lewat tulisan ini bisa jadi bahan buat kita belajar bareng tentang hidup.

Tentang Mendendam dan Melepaskan

Hampir 13 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 21 April 2005, gue mengalami sebuah kejadian yang berdampak besar dalam hidup gue.

Seperti yang kita ketahui bersama, 21 April adalah hari Kartini. Siang itu sekolah dibubarkan lebih cepat. Gue lagi berjalan ke arah gerbang bareng sama 2 orang teman yang lain, hendak keluar dari sekolah. Tiba-tiba suara motor terdengar mendekat di belakang kami. Lalu terdengar suara orang jatuh dari motor. Gue dan teman-teman menoleh ke belakang dan menemukan seseorang yang tidak kita kenal sebelumnya. Barangkali kakak kelas. Kami waktu itu masih kelas 10 (1 SMA). Belakangan diketahui bahwa memang ternyata benar, dia merupakan kakak kelas.

“Woi bantuin, jangan diem aja”, kata orang yang jatuh tersebut. Setelah kami bantu, entah kenapa dia malah berperilaku aneh. Dia mulai mendekati dan berperilaku agresif, pura-pura merangkul gue sampai ke luar gerbang sekolah. Gue sebenarnya masih gak ngerti apa yang terjadi saat itu dan kenapa dia berperilaku seperti itu setelah ditolong. Yang gue tau, tiba-tiba tinjunya mendarat di kacamata kiri gue. Kacamata gue pecah dan pecahannya masuk ke mata kiri gue, tepat di bagian kornea.

Buat yang gak tau kornea, intinya kornea berfungsi sebagai lensa mata paling luar, salah satu fungsinya adalah memfokuskan cahaya yang masuk ke mata. Ketika korena terluka dengan skala yang cukup besar, seperti yang gue alami, bekas lukanya bisa mengganggu penglihatan. Yang terjadi pada gue, walaupun operasi untuk mengambil pecahan kacanya berlangsung mulus, bekas lukanya ternyata lumayan dalam dan, sebagai akibatnya, penglihatan gue terganggu secara permanen.

Ketika keluarga gue tau tentang hal ini, reaksi mereka berbeda-beda. Adik gue yang laki-laki naik darah, nyokap dan bokap gue kalut. Mau tau apa yang gue rasakan waktu itu? Entah. Yang gue tahu, gue gak bisa marah. Yang gue tahu, karena doa dari orang-orang terdekat, gue bisa tenang menghadapi semuanya. Bahkan saat nyokap gue menangis saat menjelang operasi, gue yang menenangkan dan bilang kalau semuanya akan baik-baik saja, masih ada mata kanan.

Gue bisa saja mengeluh sepanjang hidup gue mengenai mata kiri gue yang tidak bisa berfungsi secara normal lagi. Gue bisa aja memutuskan untuk mengutuk kakak kelas itu seumur hidup gue karena mengakibatkan hal itu terjadi dalam hidup gue. Bahkan gue bisa saja memutuskan untuk mengamuk dan murtad. Tuhan seperti apa yang membiarkan hal seburuk itu terjadi dalam hidup manusia?

Justru kalau diingat kembali, gue bersyukur untuk semuanya. Gue bersyukur karena dapat kesempatan diajar memandang hidup dari sudut pandang yang berbeda. Selalu ada alasan bagi kita untuk tidak puas akan hidup. Namun, gue belajar bahwa hidup itu tentang pilihan. Setiap hari gue memandang dunia dari dua sisi, mata kiri gue memberikan gambaran yang blurry (kurang jelas), dan mata kanan gue memberikan gambaran yang jelas. Setiap hari gue bisa memilih untuk meratapi pandangan yang kurang jelas, atau justru bersyukur akan mata kanan gue yang masih berfungsi dengan sangat baik. Kita bisa pilih, fokus pada hal yang negatif atau yang positif. Kita bisa pilih, mendendam atau mengampuni kesalahan orang lain. Kita juga bisa pilih, tetap percaya bahwa segala sesuatu yang Tuhan rencanakan dalam kehidupan kita itu baik atau malah mengamuk dan murtad.

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. (Yeremia 29:11)

Perkataan itu meneguhkan gue dan membantu gue untuk terus percaya akan adanya hari depan yang penuh harapan, walaupun saat itu rasanya gue sangat sulit untuk melihatnya. Apa yang Tuhan kerjakan terkadang sangat sulit untuk dipahami. Namun, kala itu, gue memutuskan untuk tidak marah, gue memutuskan untuk berfokus pada hal yang baik, dan gue memutuskan melepaskan pengampunan. Sejak itu, hidup gue gak sama lagi.

Semoga pilihan-pilihan yang kita buat hari ini membawa damai dan membawa kita menuju ke hidup yang lebih baik.

Hang In There

Hari ini gue lari 8 kilometer. Sudah hampir seminggu dari lari jarak jauh terakhir gue. Lari selalu jadi hal yang menyegarkan buat gue. Tiap ada kesempatan, gue menyempatkan diri untuk lari. Hari ini akhirnya gue punya kesempatan untuk lari lagi. Beberapa hari belakangan Manchester seringkali hujan. Kalaupun gak hujan, biasanya gue lagi di kampus, rapat bareng tim untuk bahas proyek konsultasi bisnis.

Waktu sampai kontrakan, waktu udah hampir jam 4 sore. Gue nekat-nekatin untuk lari walaupun diprediksi bakal hujan dan matahari 20 menit lagi akan tenggelam. Against all odds, I decided to run anyway. Biasanya Manchester toh kalau hujan cuma gerimis. Itu yang ada di pikiran gue saat itu.

Setelah upload rute lari ke smartwatch gue, pakai jaket parasut, celana pendek, sarung tangan 2 lapis, dan sweatband di kepala, gue langsung keluar rumah. Suhu saat itu 4 derajat celsius. It turns out that it wasn’t the wisest decision.

Waktu awal lari, ga ada hujan. Semuanya masih baik-baik aja. Di tengah perjalanan, hujan mulai turun dan hari mulai gelap. Hujan kemudian turun lumayan deras dan hari sudah menjadi gelap. Gue gak tau lagi berada entah di mana. Yang gue tau, gue berada di satu posisi yang masih jauh dari rumah. Satu-satunya yang gue andalkan waktu itu cuma penunjuk arah dari jam yang gue pakai. Kalau mendadak jam gue rusak atau habis baterai, alamat gue kedinginan.

Di tengah situasi seperti itu, gue berasa lagi diingetin kembali untuk mengandalkan hidup gue sepenuhnya pada Tuhan. Satu-satunya yang bisa diandalkan, yang gak bakal rusak atau habis baterai. Memang saat-saat sulit akan datang. Hujan terkadang datang di saat yang tidak kita harapkan. Namun, kita selalu punya pilihan untuk terus bergerak. Terus berlari sambil berserah penuh. Berlari sedikit demi sedikit sampai akhirnya saat sulit itu hilang dan kita bisa mendapatkan ketenangan kembali.

Kata hang in there biasanya dipakai sebagai bentuk dukungan supaya tetap bertahan walaupun situasinya sulit. Mungkin kita pernah mengalami, masa-masa dimana bertahan rasanya sangat sulit. Saat-saat dimana kita ga tau harus jalan kemana. Just hang in there. Cari petunjuk, berserah penuh dan tetap berusaha. Waktu gue lagi mengalami masa sulit, bokap gue bilang kalau tidak ada pesta yang tidak berakhir. Tidak ada sesuatupun yang tidak akan selesai. Semua hal di bawah langit ada masanya. Masalah juga akan pasti akan selesai. Semua akan selesai.

Just hang in there buddy.

1 Tahun Kemudian di Manchester

Manchester

Pemandangan di pusat kota Manchester

Gak terasa, 1 tahun 4 bulan telah berlalu sejak gue pertama kali mendarat di Inggris.

Minggu-minggu pertama gue di Manchester bukan hal yang mudah. Banyak banget hal yang harus gue pelajari: cara mengatasi jetlag, mengisi ulang kredit listrik dan gas, mengatur pembayaran air, cara berlangganan Sky (semacam Telkom Indiehome kalau di Indonesia), beli pulsa dan paket internet di HP, beli kartu bus, membuka rekening bank, menggunakan mesin self-checkout di supermarket, cari tahu rute transportasi dan penggunaan jalan, dan lain sebagainya.

Sebelum pergi, gue memang gak ribet mikirin ini itu. Waktu itu juga gue sudah dapat tempat tempat tinggal di Manchester, jadi beban pikiran gue ringan. Untung saat itu ada grup WhatsApp sebagai sarana ngobrol bareng teman-teman yang mau berangkat di tahun ajaran baru 2016. Yang gue pikirin tinggal cuma seputar mengurus visa, pesan tiket pesawat ke Manchester, beres-beres baju, terbang, dan sampai dengan selamat.

Sekarang, 1 tahun lebih kemudian, gue lagi beres-beres lagi. Bukan untuk pulang, belum saatnya. Gue sebentar lagi akan pindah kontrakan. Kontrakan gue yang sekarang akan habis di akhir bulan ini dan gue akan pindah ke kontrakan yang baru.

Kalau diingat-ingat lagi, sejak lulus SMA, gue sudah lumayan banyak pindah tempat tinggal. Pindahan pertama gue adalah pindah dari Lampung ke Bandung untuk kuliah. Itu kali pertama gue tinggal lama di kota selain kota kelahiran gue. Di Bandung, gue lalu berpindah kost sebanyak 2 kali. Setelah lulus kuliah dan dapat kerjaan, gue pindah ke Cilegon dengan membawa serta banyak bawaan gue dari Bandung. Di Cilegon, gue juga pindah kost 2 kali karena berbagai alasan. Dari Cilegon, gue pindah ke Lampung beberapa saat lalu kemudian gue pindah ke Manchester.

Terbiasa hidup berpindah-pindah membuat gue belajar menghargai esensi: membawa serta hal-hal yang penting dan membuang yang tidak perlu.

Tahun depan, entah apa yang akan gue kerjakan di bulan-bulan ini. Hopefully, next year will be a better year.

Merry Christmas and Happy New Year!

Road to 42.2 km Marathon

Lari

Waktu kecil, gue kerjanya lari tanpa henti. Untuk memuaskan hasrat berlarian tanpa arahpun gue seringkali harus manjat pagar rumah yg tingginya hampir 2 meter. Saat siang hari, bokap gue selalu mengunci pagar rumah supaya kami (gue dan adik laki-laki gue) tidur siang. Tapi memang dasarnya bandel, malahan kami manjat pagar. Bahkan sepeda kami juga pernah ikut diselundupkan lewat atas pagar saat kami kabur dari jadwal tidur siang.

Desember 2013, waktu menulis tentang 27 hal yang ingin gue lakukan sebelum meninggal, gue menuliskan “Finish 42k marathon” di nomor 24. Untuk gue yang saat itu lari 5 kilometer pun butuh perjuangan fisik dan mental yang luar biasa, sepertinya target tersebut hampir mustahil untuk dicapai.

Setelah sekian lama, belakangan ini gue ingat lagi akan target yang gue tulis hampir 4 tahun yang lalu itu. Sejak April tahun ini, gue mulai fokus untuk bisa menyelesaikan tantangan tersebut. Total lari sejauh 311,83 kilometer dan berbagai variasi latihan lari sudah gue tempuh sejak April hingga saat ini. Belum ada apa-apanya memang, tapi ini merupakan pencapaian tersendiri buat gue.

Total jarak yang gue tempuh vs total jarak teman-teman gue di Nike+

Setelah menyelesaikan lari 15 kilometer gue yang ke dua, lari 42.2 kilometer memang masih merupakan hal yang sulit namun ga lagi merupakan hal yang hampir mustahil. Tahun ini gue bakal fokus untuk bisa menyelesaikan lari half-marathon dan tahun depan gue akan mencoba untuk menyelesaikan full-marathon. Supaya semangat, gue bahkan sudah mendaftar untuk dua acara lari di Manchester, half-marathon (21.1 kilometers) tanggal 15 Oktober 2017 dan full-marathon (42.2 kilometers) tanggal 8 April 2018.

Wish me luck!

2 event lari yang akan gue ikuti di tahun depan dan tahun ini

What’s up with storytelling?

At some point, gue akhirnya berpikir kalau kemampuan bercerita adalah sesuatu yang harus gue pelajari lebih lanjut. Semua bermula dari kelas leadership yang baru saja selesai gue jalani. Di kelas itu, gue belajar bahwa salah satu kemampuan penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah kemampuan mengolah data dan angka dan membangun narasi (cerita) dengan fakta-fakta tersebut.

Ambil contoh di sebuah perusahaan. Kemampuan seorang pemimpin untuk bercerita menjadi penting karena banyak pihak yang menggantungkan keputusan berdasarkan penjelasan yang diberikan oleh mereka. Misalnya, investor membutuhkan informasi untuk memutuskan apakah akan meneruskan investasi di perusahaan tersebut atau menjual saham yang dimilikinya, masyarakat sekitar memerlukan penjelasan mengenai pencemaran air yang terjadi sejak perusahaan itu dibangun di dekat tempat tinggal mereka, dan sebagainya.

Jika seorang pemimpin di perusahaan salah memilih kata dalam menjelaskan situasi perusahaan maka dampaknya bisa sangat besar. Harga saham perusahaan bisa anjlok karena investor tidak mau lagi berinvestasi di perusahaan tersebut. Masyarakat bisa mengamuk, menutup jalan, dan merusak properti perusahaan, dan lain sebagainya.

Entah kenapa, buat gue, topik seputar narasi ini terasa seperti déjà vu. Gue jadi teringat dengan perkataan mantan bos gue yang mengatakan bahwa laporan yang gue buat harus mampu bercerita. Laporan gue harus memiliki alur. Waktu itu, gue ga begitu paham kenapa dia ngotot minta revisi laporan berulang-ulang. Laporan itu hal remeh yang ga terlalu perlu untuk dibuat sempurna. Masih banyak hal lebih penting yang bisa dikerjakan dibanding merevisi laporan. Begitu pikiran gue waktu itu. It turns out that he is right when he said that he wanted to teach us something.

Dampak dari sebuah kisah juga faktanya begitu besar terhadap pandangan dunia terhadap sebuah bangsa. Korea Selatan adalah contoh negara yang memanfaatkan narasi dengan baik. Paling tidak, di mata orang Indonesia, Korea Selatan adalah negara yang keren. Hallyu (한류) atau Korean Wave adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan naiknya popularitas kebudayaan Korea Selatan di mata dunia. Hal itu tentunya tidak lepas dari dampak narasi/kisah yang ditanamkan lewat berbagai variety show, drama, dan lain sebagainya. Jeju island mendadak nampak begitu keren di mata kita. Liburan ke Korea Selatan mendadak jadi sangat menarik. Sumpit besi seperti yang dipakai makan seperti di drama-drama Korea juga mendadak membuat kita penasaran.

Berbagai hal populer mengenai Korea Selatan

Jerman, di sisi lain, membangun narasi bahwa produk yang berasal dari negara mereka memiliki kualitas yang bagus. Hal ini tidak terlepas dari peranan mittelstand. Mittelstand adalah sebutan untuk perusahaan-perusahan skala kecil dan menengah asal Jerman yang telah mendunia. Perusahaan-perusahaan ini umumnya merupakan perusahaan keluarga, memiliki fokus pada pertumbuhan jangka panjang dan merupakan yang terbaik di dunia pada bidangnya. Salah satu karakteristik utama dari mittelstand adalah mereka bersaing dengan mengunggulkan kualitas, bukan harga yang murah. Contoh perusahaan Jerman yang terkenal dengan kualitasnya adalah Sennheiser lewat berbagai produk audionya.

Contoh produk Sennheiser

Gue saat ini memandang narasi sebagai cara dunia untuk memahami. Sebagai contoh, beberapa waktu yang lalu sempat populer kutipan esai yang ditulis oleh seorang gadis yang berhasil diterima di 8 universitas paling top di Amerika (silakan klik di sini kalau mau baca tulisannya). Kampus-kampus top di Amerika tentunya ingin mendapatkan calon mahasiswa yang memiliki potensi untuk melakukan hal-hal luar biasa di masa depan. Selain dari berbagai nilai tes, mereka menilai potensi seorang calon mahasiswa lewat esai yang ditulisnya sebagai bagian dari pendaftaran. Esai adalah cara mereka (kampus-kampus tersebut) untuk memahami potensi para kandidat.

Memang kalau dipikir, menilai karakter dan potensi seseorang melalui esai tentunya masih jauh dari sempurna. Banyak aspek dari kehidupan seseorang yang tidak dapat dituangkan begitu saja dalam selembar kertas. Akan tetapi, kita juga harus ingat bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini.

Kesimpulannya, kemampuan bercerita merupakan salah satu kemampuan yang penting untuk dikembangkan. Senada dengan tulisan gue tentang pemasaran, kualitas harus selalu didukung oleh pemasaran supaya dapat membuahkan hasil yang optimal.

Jika kita bisa bercerita dengan baik tentang keadaan sebuah perusahaan, walaupun sedang mengalami kesulitan, perusahan itu tentunya tetap dapat dipandang baik dan berpotensi. Demikian juga ketika kita mampu bercerita dengan baik tentang diri kita seperti yang dilakukan oleh para pelamar kampus-kampus top Amerika, tentunya potensi diri mereka bisa lebih terlihat dibanding para pelamar lainnya. Dampak dari kemampuan bercerita ternyata sangat besar.

=======

manchester business school

Baca cerita gue mengenai perjalanan masuk Manchester Business School di sini:

Bicara Cinta

bicara

source: balitapedia.com

Cinta bukan lagi hal asing bagi kita semua. Setiap orang mungkin punya definisi masing-masing mengenai cinta. Tiap orang juga punya cara unik untuk mengekspresikan dan membahasakan cinta. Orang tua gue misalnya, mereka punya cara unik untuk mengekspresikan cinta lewat masakan dan omelan. Walaupun sepintas sama sekali ga terlihat spesial, buat gue itu bahasa cinta dari mereka.

Dulu gue sempat berpegang erat pada satu definisi cinta. Definisi gue berasal dari sebuah harapan agar semua orang yang gue kenal bisa memiliki hidup yang terbaik. Kalau gue bisa bantu mereka untuk mewujudkan hidup yang terbaik, itu bahkan lebih baik lagi.

Harapan ini kemudian gue bahasakan lewat banyak aspek hidup gue, termasuk dalam hubungan dengan lawan jenis. Gue sempat berada di satu titik dimana gue harus mengambil keputusan sulit karena harus berhadapan dengan situasi yang bertabrakan dengan harapan ini. Gue berpikir bahwa gue, dengan segala keadaan gue waktu itu, bukan merupakan alternatif terbaik bagi seseorang. Akhirnya dengan berat hati, gue mengambil keputusan untuk mengakhiri dan merelakan pergi.

Gue masih bertahan dengan bahasa cinta seperti itu sampai akhirnya sebuah diskusi dengan seorang teman membuka pikiran gue. Waktu itu gue menyampaikan kepada teman gue kalau gue pernah melepas seseorang pergi karena gue pengen hal terbaik terjadi dalam hidupnya. Gue kasihan kalau dia harus menderita karena gue. Padahal bisa aja kami bertahan. Tapi menurut gue, itu bukan hal terbaik yang bisa terjadi dalam hidupnya.

Teman gue menanggapi dan berkata kalau bahasa cinta seperti itu salah dan egois. Memangnya orang lain ga boleh menderita? Memangnya cuma lo doang yang boleh menderita untuk orang lain, sedangkan orang lain ga boleh menderita buat lo? Itu egois namanya. Dalam pernikahanpun nanti keduanya harus saling berkorban kan?

Gue tercenung cukup lama untuk memikirkan argumen temen gue itu. Gue mendapati kebenaran dalam perkataannya. Iya ya? Kan dalam pernikahan nanti harus saling berkorban, bukan cuma gue doang yang berkorban. Bukankah kadang justru hal terbaik terjadi setelah melewati berbagai penderitaan? Bukankah gue sendiri berjuang mati-matian untuk mendapatkan kursi di sekolah bisnis? Kenapa orang lain ga boleh berjuang untuk gue?

source: staymarriedblog.com

source: staymarriedblog.com

Kejadian lainnya yang membuat gue lebih memahami cinta adalah ketika gue dan beberapa orang teman sedang menjalani persiapan jadi pembaca ayat firman Tuhan untuk sebuah kebaktian pemuda di GKI Maulana Yusuf. Seorang hamba Tuhan menjelaskan bahwa kami harus terlebih dulu paham apa yang akan gue baca sehingga, lewat intonasi dan pemenggalan dalam perkataan gue, jemaat yang hadir juga bisa lebih memahami apa yang mereka baca.

Beliau saat itu menanyakan sebuah hal mengenai apa yang akan kami baca, “Coba jelaskan, kenapa Tuhan membiarkan Adam dan Hawa makan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat? Kenapa Tuhan kasih manusia kehendak bebas untuk menentukan tindakannya?”. Kami yang waktu itu berada dalam sebuah ruangan mencoba menjawab secara bergiliran tapi belum ada yang memuaskan. Akhirnya beliau menjelaskan, “Karena Tuhan ingin manusia mencintai Dia dengan tulus. Cinta tidak bisa hadir dalam keterpaksaaan.”

Sepenggal kalimat itu, “cinta tidak bisa hadir dalam keterpaksaan”, membuka pikiran gue mengenai banyak hal. Seperti kunci yang membuka pintu dan di balik pintu itu ditemukan banyak hal menarik, seperti itulah makna perkataan itu buat gue.

Sampai sekarangpun gue masih berupaya memahami cinta. Kenapa cinta itu begini atau begitu. Gue yakin yang namanya definisi itu harus terus dicari dan diuji. Yang hari ini benar, belum tentu besok masih benar. Sama seperti apa yang dulu gue anggap bahasa cinta yang benar, ternyata merupakan manifestasi yang kurang tepat.

Semoga berguna.

glm wp

5 Cara Mengembangkan Diri Seperti Startup

Fenomena startup barangkali jadi lebih familiar belakangan ini berkat kehadiran berbagai perusahaan teknologi seperti Gojek, Uber, dan sebagainya. Seperti yang kita ketahui, startup adalah sebuah usaha yang berada di fase pertama. Startup punya potensi untuk berkembang jadi lebih besar jika ditangani dengan cara yang tepat.

Menurut gue, memandang pengembangan diri seperti perkembangan sebuah startup adalah sudut pandang yang unik. Setiap orang punya potensi untuk berkembang jadi pribadi-pribadi dengan pencapaian luar biasa jika berhasil mengembangkan diri dengan tepat. Penulis buku “Startup of You” berhasil membedah sudut pandang yang cukup unik ini menjadi beberapa poin yang menarik untuk disimak.

    1. Mindset Permanent Beta

      Dalam tahapan pengembangan barang atau jasa, fase beta adalah fase di mana rangkaian-rangkaian fitur sudah dapat berfungsi sebagaimana mestinya, tinggal di cek secara intensif dan menyeluruh sehingga ketika ketemu permasalahan, bisa diperbaiki. Setelah tahap beta, kita akan sampai ke tahap release candidate dan pada akhirnya konsep barang/jasa kita siap dipasarkan. Menjadi hal yang menarik ketika kita mengadopsi mindset permanent beta dan menerapkannya dalam hidup kita karena artinya kita memandang diri kita sebagai pekerjaan yang belum selesai dan terus aktif memperbaiki diri.

      .

    2. Competitive Advantage

      Supaya startup dapat berkembang secara berkelanjutan, dibutuhkan sebuah elemen yang bernama competitive advantage. Competitive advantage, atau keunggulan kompetitif, adalah sesuatu yang membedakan sebuah bisnis dibanding bisnis lainnya. Misal, ada dua toko sama-sama jualan mie tapi mie racikan toko A lebih enak rasanya dan harganya juga lebih murah dibanding toko B. Nah, rasa mie yang lebih enak dan harga yang lebih murah ini adalah keunggulan kompetitif toko A di banding toko B. Terang aja, kenapa juga harus beli mie di toko B kalau di toko A lebih enak dan murah?

      Untuk pengembangan diri juga demikian halnya. Apa keunggulan kompetitif kita? Hal apa yang membedakan kita dengan orang lain? Apa nilai lebih kita? Tentunya kita tidak perlu jadi lebih baik dibanding semua orang. Akan lebih mudah untuk mengembangkan kemampuan spesifik dan jadi ahli di sana. Kita bisa mulai dengan menyediakan waktu untuk mengerjakan proyek-proyek sampingan yang berguna sekaligus menarik minat kita.

      Dalam mengembangkan keunggulan kompetitif, ada 3 aspek penting yang harus diperhatikan:

      1. Aset (Aset lunak: kemampuan, pengetahuan, kenalan, dll. Aset keras: uang)
      2. Aspirasi (Apa yang ingin kita capai di masa depan)
      3. Kondisi Pasar (Seberapa berharga aset kita di mata pasar)

      .
      Ketiga hal ini saling berkaitan satu dengan yang lain. Kata pasar di sini bisa diterjemahkan menjadi pasar tenaga kerja, pasar beasiswa, pasar pasangan hidup, dan lain sebagainya.

      Kemampuan (aset) dan aspirasi yang tidak sesuai kondisi pasar tentu tidak dapat membawa kita berjalan terlalu jauh. Misal, kita kepengen banget punya pasangan (aspirasi), tapi kemampuan komunikasi kurang (aset komunikasi kurang). Kalau berhadapan dengan yang cakep sedikit langsung grogi, gak bisa ngomong. Ketemu calon mertua juga kurang ajar (aset etika kurang). Ya mana bakal laku kalau begitu (tidak sesuai dengan harapan pasar).

      Sebaliknya, terlalu fokus pada kondisi pasar tanpa memperhatikan aspirasi (kesukaan dan hasrat pribadi) juga tidak dapat membawa kita berjalan terlalu jauh karena tekanan psikologisnya akan semakin tinggi seiring dengan berjalan waktu. Misal, karena calon mertua menuntut calon menantunya adalah seorang pekerja kantoran supaya penghasilan lebih stabil, akhirnya bela-belain jadi pegawai supaya bisa menikah dengan anaknya. Padahal dia tidak terlalu senang bekerja di bawah orang dan lebih suka bertemu banyak orang ketimbang bekerja di belakang meja. Tentu hal semacam ini akan membawa beban mental tersendiri kalau dijalani dalam jangka waktu lama. Intinya, aset, aspirasi, dan kondisi pasar harus seimbang.

      Kalau dalam kasus gue, gue punya aset di Excel, kemampuan bahasa Inggris yang sangat baik, story telling, rekam jejak inovasi yang berdampak cukup besar, dll. Gue juga punya aspirasi untuk sekolah bisnis. Harapan pasar (pasar beasiswa dan pasar sekolah bisnis) sinkron dengan aspirasi serta aset yang gue miliki sehingga akhirnya gue berhasil mendapatkan kursi di sekolah bisnis dan juga meraih beasiswa dari LPDP.

      aset, aspirasi, kondisi pasar

      Contoh hubungan seimbang antara aset, aspirasi, dan kondisi pasar

      .

    3. Plan to Adapt

      Banyak nasehat berkata bahwa kita harus menentukan kita ingin jadi apa 10 tahun ke depan, lalu membangun rencana untuk mencapainya. Banyak juga nasehat yang berkata bahwa kita harus menemukan apa yang menjadi hasrat atau passion kita lalu mengejarnya.

      Pendekatan seperti itu tidak salah namun memiliki kekurangan yang cukup serius. Di dunia yang serba dinamis seperti saat ini, segala sesuatu berubah begitu cepat. 15 tahun lalu, layar ponsel masih satu warna, nada deringnya begitu sederhana serta hampir tidak ada ponsel yang memiliki kamera. Sekarang? Sudah tidak perlu dijelaskan lagi. Lihat saja sekeliling kita.

      Di tengah berbagai perubahan tersebut, banyak perusahaan ponsel ternama yang sekarang hampir tidak terdengar lagi bunyinya. Nokia dan Blackberry adalah contoh dari raksasa teknologi yang gagal beradaptasi lalu kemudian tenggelam ditelan kerasnya persaingan.

      Sekitar 9 tahun lalu, pada tahun 2007, sebagian besar mahasiswa di fakultas teknik pertambangan dan perminyakan ITB ingin masuk ke jurusan teknik perminyakan. Hampir tidak ada yang ingin melanjutkan ke teknik metalurgi. Wajar saja, dulu harga minyak melambung tinggi sehingga gaji lulusan baru di bidang teknik perminyakan sangat menggiurkan. Sekarang? Harga minyak dunia anjlok. Hampir tidak ada yang memperkirakan harga minyak bisa jatuh karena berasumsi bahwa minyak akan terus dibutuhkan. Banyak sarjana teknik perminyakan yang kena pemutusan hubungan kerja sementara lahan pekerjaan baru di bidang metalurgi semakin banyak. Tanpa bermaksud menjelekkan atau memuji salah satu jurusan, ini fakta yang harus kita hadapi. Siapa yang tidak siap menghadapi perubahan akan tergilas. Hal ini pula yang jadi salah satu dasar gue untuk melanjutkan studi ke administrasi bisnis.

      .

    4. Pursue Breakout Opportunities

      Pergerakan karir yang signifikan seringkali ditandai dengan kehadiran momen breakout. Momen breakout adalah momen dimana pergerakan karir akhirnya menemui momen akselerasi atau percepatan. Contoh: akselerasi karir seorang artis yang memenangkan Oscar, atau akselerasi karir seorang staf karena sukses besar dalam menangani proyek raksasa.

      Teman gue mendapat momen breakout ketika popularitas akun twitter yang dia kelola meledak. Banyak kesempatan berdatangan setelah itu. You name it, pendekatan dari partai politik, tawaran beasiswa, tawaran pekerjaan, dan lain sebagainya. Dia mengambil salah satu kesempatan itu lalu melakukan lompatan jadi seorang manajer di salah satu perusahaan besar di ibukota.

      Gue sendiri juga sempat mengalami momen breakout waktu gue sukses bikin terobosan dengan bikin sistem pelaporan otomatis. Gak lama setelah itu, gue dapat promosi dan tawaran beasiswa master di bidang teknik dari kantor.

      How do my friends and I do that? Just do something. Lakukan sesuatu. Manfaatkan waktu dengan baik. Semakin variatif kegiatan yang kita lakukan, makin besar kesempatan kita untuk menggabungkan ide-ide, orang, dan tempat yang tepat menjadi kesempatan-kesempatan baru. Dalami hal baru, pergi bertemu dengan orang-orang baru, pergi ke tempat baru. Sosialisasi gue dengan teman kantor kemudian mengantarkan gue mengenal Coursera, MBA, serta kesempatan beasiswa LPDP. Sosialisasi gue dengan komunitas pemuda gereja di Cilegon dan Serang mengantarkan gue pada kesempatan pengabdian masyarakat di desa Rancabuaya yang kemudian menjadi salah satu aset penting bagi gue untuk meraih beasiswa LPDP. Go pursue your breakout opportunities.

      .

    5. Take Intelligent Risks

      Resiko adalah bagian dari hidup. Cepat atau lambat, kita pasti akan berhadapan dengan berbagai resiko. Resiko bisa hadir dalam berbagai wujud. Memilih untuk pergi ke puncak dibanding jalan-jalan ke pantai? Ada resikonya. Bisa jadi jalan ke puncak macet total dan akhirnya malah sama sekali ga bisa menikmati perjalanan. Memilih untuk menerima tawaran kerja di perusahaan A dibanding perusahaan B? Ada resikonya. Bisa jadi memang gaji di perusahaan B lebih kecil tapi ternyata lingkungan kerjanya jauh lebih nyaman dibanding perusahaan A. Atau ternyata kita gak pilih kedua perusahaan itu, tidak A, tidak juga B. Tetap ada resikonya. Bisa jadi ternyata kita tidak dapat tawaran pekerjaan lagi selain dari A dan B karena mendadak situasi ekonomi menjadi sulit.See? Resiko ada di mana-mana. Bahkan diam sekalipun mengandung resiko.

      Mengambil resiko dengan bijak adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi sebelum akhirnya memperoleh breakout opportunities. Seorang artis harus memilih film yang akan dimainkan sehingga bisa benar-benar menampilkan karya terbaiknya. Gue sendiri harus berhadapan dengan resiko yang cukup besar ketika menolak tawaran beasiswa dan kesempatan training di Korea. Temen gue harus berhadapan dengan resiko juga ketika menolak pinangan dari partai politik dan beasiswa yang ditawarkan. It’s okay to take risks. Mungkin saat itu orang-orang melihat kami sebagai orang bodoh karena menolak berbagai kesempatan luar biasa. Ternyata? Di balik resiko yang kami ambil, kami mendapatkan hal yang jauh lebih baik.

Kesimpulannya, be a permanent beta. Mulailah berinvestasi dalam mengembangkan kemampuan-kemampuan baru, ambil resiko-resiko dengan bijak, kejar kesempatan-kesempatan untuk melejit, dan jangan pernah berhenti bergerak serta beradaptasi. Never stop starting!

glm wp