Kebahagiaan Hari Ini

Gue tau rasanya gak bahagia. Semua orang tentu tau rasanya. Merasakan bahagia dan tidak bahagia merupakan bagian dari hidup yang tidak dapat dihindarkan.

Baca lebih lanjut

Look Around

Dentuman bass yang lantang dan powerful tiba-tiba terdengar di telinga gue. Cukup mengagetkan awalnya, karena musik tersebut terputar secara otomatis di aplikasi Facebook yang lagi gue buka. Namun, beberapa detik kemudian, gue malah jadi menikmati hentakan demi hentakan musik yang begitu kuat dan dalam tersebut. Gue juga mendadak jadi sadar nilai sebenarnya dari headset ini. It’s a damn fine headset. Gue lalu bersyukur karena punya headset ini.

Seperti halnya headset yang sudah jarang gue pakai dan gue anggap biasa saja ini, sebenarnya begitu banyak hal di sekeliling kita yang kita anggap biasa saja. Kita anggap biasa saja, padahal sebenarnya luar biasa. So, look around. Let’s be grateful.

Hubungan Antara Pencapaian Hidup dan Rasa Puas

Mencapai sesuatu hal yang lebih. Tentunya kalimat itu bukan lagi hal yang asing untuk kita. Dari kecil, kita sudah diajari untuk mendapat ranking di kelas. Ketika teman kita mencapai prestasi yang gemilang, kita pun sering iri akan pencapaiannya.

Sistem pendidikan di berbagai belahan dunia juga menekankan pentingnya prestasi. Ketika kita memiliki prestasi ini dan itu, kita bisa masuk universitas ternama.

Baca lebih lanjut

Hang In There

Hari ini gue lari 8 kilometer. Sudah hampir seminggu dari lari jarak jauh terakhir gue. Lari selalu jadi hal yang menyegarkan buat gue. Tiap ada kesempatan, gue menyempatkan diri untuk lari. Hari ini akhirnya gue punya kesempatan untuk lari lagi. Beberapa hari belakangan Manchester seringkali hujan. Kalaupun gak hujan, biasanya gue lagi di kampus, rapat bareng tim untuk bahas proyek konsultasi bisnis.

Waktu sampai kontrakan, waktu udah hampir jam 4 sore. Gue nekat-nekatin untuk lari walaupun diprediksi bakal hujan dan matahari 20 menit lagi akan tenggelam. Against all odds, I decided to run anyway. Biasanya Manchester toh kalau hujan cuma gerimis. Itu yang ada di pikiran gue saat itu.

Setelah upload rute lari ke smartwatch gue, pakai jaket parasut, celana pendek, sarung tangan 2 lapis, dan sweatband di kepala, gue langsung keluar rumah. Suhu saat itu 4 derajat celsius. It turns out that it wasn’t the wisest decision.

Waktu awal lari, ga ada hujan. Semuanya masih baik-baik aja. Di tengah perjalanan, hujan mulai turun dan hari mulai gelap. Hujan kemudian turun lumayan deras dan hari sudah menjadi gelap. Gue gak tau lagi berada entah di mana. Yang gue tau, gue berada di satu posisi yang masih jauh dari rumah. Satu-satunya yang gue andalkan waktu itu cuma penunjuk arah dari jam yang gue pakai. Kalau mendadak jam gue rusak atau habis baterai, alamat gue kedinginan.

Di tengah situasi seperti itu, gue berasa lagi diingetin kembali untuk mengandalkan hidup gue sepenuhnya pada Tuhan. Satu-satunya yang bisa diandalkan, yang gak bakal rusak atau habis baterai. Memang saat-saat sulit akan datang. Hujan terkadang datang di saat yang tidak kita harapkan. Namun, kita selalu punya pilihan untuk terus bergerak. Terus berlari sambil berserah penuh. Berlari sedikit demi sedikit sampai akhirnya saat sulit itu hilang dan kita bisa mendapatkan ketenangan kembali.

Kata hang in there biasanya dipakai sebagai bentuk dukungan supaya tetap bertahan walaupun situasinya sulit. Mungkin kita pernah mengalami, masa-masa dimana bertahan rasanya sangat sulit. Saat-saat dimana kita ga tau harus jalan kemana. Just hang in there. Cari petunjuk, berserah penuh dan tetap berusaha. Waktu gue lagi mengalami masa sulit, bokap gue bilang kalau tidak ada pesta yang tidak berakhir. Tidak ada sesuatupun yang tidak akan selesai. Semua hal di bawah langit ada masanya. Masalah juga akan pasti akan selesai. Semua akan selesai.

Just hang in there buddy.

1 Tahun Kemudian di Manchester

Manchester

Pemandangan di pusat kota Manchester

Gak terasa, 1 tahun 4 bulan telah berlalu sejak gue pertama kali mendarat di Inggris.

Minggu-minggu pertama gue di Manchester bukan hal yang mudah. Banyak banget hal yang harus gue pelajari: cara mengatasi jetlag, mengisi ulang kredit listrik dan gas, mengatur pembayaran air, cara berlangganan Sky (semacam Telkom Indiehome kalau di Indonesia), beli pulsa dan paket internet di HP, beli kartu bus, membuka rekening bank, menggunakan mesin self-checkout di supermarket, cari tahu rute transportasi dan penggunaan jalan, dan lain sebagainya.

Sebelum pergi, gue memang gak ribet mikirin ini itu. Waktu itu juga gue sudah dapat tempat tempat tinggal di Manchester, jadi beban pikiran gue ringan. Untung saat itu ada grup WhatsApp sebagai sarana ngobrol bareng teman-teman yang mau berangkat di tahun ajaran baru 2016. Yang gue pikirin tinggal cuma seputar mengurus visa, pesan tiket pesawat ke Manchester, beres-beres baju, terbang, dan sampai dengan selamat.

Sekarang, 1 tahun lebih kemudian, gue lagi beres-beres lagi. Bukan untuk pulang, belum saatnya. Gue sebentar lagi akan pindah kontrakan. Kontrakan gue yang sekarang akan habis di akhir bulan ini dan gue akan pindah ke kontrakan yang baru.

Kalau diingat-ingat lagi, sejak lulus SMA, gue sudah lumayan banyak pindah tempat tinggal. Pindahan pertama gue adalah pindah dari Lampung ke Bandung untuk kuliah. Itu kali pertama gue tinggal lama di kota selain kota kelahiran gue. Di Bandung, gue lalu berpindah kost sebanyak 2 kali. Setelah lulus kuliah dan dapat kerjaan, gue pindah ke Cilegon dengan membawa serta banyak bawaan gue dari Bandung. Di Cilegon, gue juga pindah kost 2 kali karena berbagai alasan. Dari Cilegon, gue pindah ke Lampung beberapa saat lalu kemudian gue pindah ke Manchester.

Terbiasa hidup berpindah-pindah membuat gue belajar menghargai esensi: membawa serta hal-hal yang penting dan membuang yang tidak perlu.

Tahun depan, entah apa yang akan gue kerjakan di bulan-bulan ini. Hopefully, next year will be a better year.

Merry Christmas and Happy New Year!

Road to 42.2 km Marathon

Lari

Waktu kecil, gue kerjanya lari tanpa henti. Untuk memuaskan hasrat berlarian tanpa arahpun gue seringkali harus manjat pagar rumah yg tingginya hampir 2 meter. Saat siang hari, bokap gue selalu mengunci pagar rumah supaya kami (gue dan adik laki-laki gue) tidur siang. Tapi memang dasarnya bandel, malahan kami manjat pagar. Bahkan sepeda kami juga pernah ikut diselundupkan lewat atas pagar saat kami kabur dari jadwal tidur siang.

Desember 2013, waktu menulis tentang 27 hal yang ingin gue lakukan sebelum meninggal, gue menuliskan “Finish 42k marathon” di nomor 24. Untuk gue yang saat itu lari 5 kilometer pun butuh perjuangan fisik dan mental yang luar biasa, sepertinya target tersebut hampir mustahil untuk dicapai.

Setelah sekian lama, belakangan ini gue ingat lagi akan target yang gue tulis hampir 4 tahun yang lalu itu. Sejak April tahun ini, gue mulai fokus untuk bisa menyelesaikan tantangan tersebut. Total lari sejauh 311,83 kilometer dan berbagai variasi latihan lari sudah gue tempuh sejak April hingga saat ini. Belum ada apa-apanya memang, tapi ini merupakan pencapaian tersendiri buat gue.

Total jarak yang gue tempuh vs total jarak teman-teman gue di Nike+

Setelah menyelesaikan lari 15 kilometer gue yang ke dua, lari 42.2 kilometer memang masih merupakan hal yang sulit namun ga lagi merupakan hal yang hampir mustahil. Tahun ini gue bakal fokus untuk bisa menyelesaikan lari half-marathon dan tahun depan gue akan mencoba untuk menyelesaikan full-marathon. Supaya semangat, gue bahkan sudah mendaftar untuk dua acara lari di Manchester, half-marathon (21.1 kilometers) tanggal 15 Oktober 2017 dan full-marathon (42.2 kilometers) tanggal 8 April 2018.

Wish me luck!

2 event lari yang akan gue ikuti di tahun depan dan tahun ini

What’s up with storytelling?

At some point, gue akhirnya berpikir kalau kemampuan bercerita adalah sesuatu yang harus gue pelajari lebih lanjut. Semua bermula dari kelas leadership yang baru saja selesai gue jalani. Di kelas itu, gue belajar bahwa salah satu kemampuan penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah kemampuan mengolah data dan angka dan membangun narasi (cerita) dengan fakta-fakta tersebut.

Ambil contoh di sebuah perusahaan. Kemampuan seorang pemimpin untuk bercerita menjadi penting karena banyak pihak yang menggantungkan keputusan berdasarkan penjelasan yang diberikan oleh mereka. Misalnya, investor membutuhkan informasi untuk memutuskan apakah akan meneruskan investasi di perusahaan tersebut atau menjual saham yang dimilikinya, masyarakat sekitar memerlukan penjelasan mengenai pencemaran air yang terjadi sejak perusahaan itu dibangun di dekat tempat tinggal mereka, dan sebagainya.

Jika seorang pemimpin di perusahaan salah memilih kata dalam menjelaskan situasi perusahaan maka dampaknya bisa sangat besar. Harga saham perusahaan bisa anjlok karena investor tidak mau lagi berinvestasi di perusahaan tersebut. Masyarakat bisa mengamuk, menutup jalan, dan merusak properti perusahaan, dan lain sebagainya.

Entah kenapa, buat gue, topik seputar narasi ini terasa seperti déjà vu. Gue jadi teringat dengan perkataan mantan bos gue yang mengatakan bahwa laporan yang gue buat harus mampu bercerita. Laporan gue harus memiliki alur. Waktu itu, gue ga begitu paham kenapa dia ngotot minta revisi laporan berulang-ulang. Laporan itu hal remeh yang ga terlalu perlu untuk dibuat sempurna. Masih banyak hal lebih penting yang bisa dikerjakan dibanding merevisi laporan. Begitu pikiran gue waktu itu. It turns out that he is right when he said that he wanted to teach us something.

Dampak dari sebuah kisah juga faktanya begitu besar terhadap pandangan dunia terhadap sebuah bangsa. Korea Selatan adalah contoh negara yang memanfaatkan narasi dengan baik. Paling tidak, di mata orang Indonesia, Korea Selatan adalah negara yang keren. Hallyu (한류) atau Korean Wave adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan naiknya popularitas kebudayaan Korea Selatan di mata dunia. Hal itu tentunya tidak lepas dari dampak narasi/kisah yang ditanamkan lewat berbagai variety show, drama, dan lain sebagainya. Jeju island mendadak nampak begitu keren di mata kita. Liburan ke Korea Selatan mendadak jadi sangat menarik. Sumpit besi seperti yang dipakai makan seperti di drama-drama Korea juga mendadak membuat kita penasaran.

Berbagai hal populer mengenai Korea Selatan

Jerman, di sisi lain, membangun narasi bahwa produk yang berasal dari negara mereka memiliki kualitas yang bagus. Hal ini tidak terlepas dari peranan mittelstand. Mittelstand adalah sebutan untuk perusahaan-perusahan skala kecil dan menengah asal Jerman yang telah mendunia. Perusahaan-perusahaan ini umumnya merupakan perusahaan keluarga, memiliki fokus pada pertumbuhan jangka panjang dan merupakan yang terbaik di dunia pada bidangnya. Salah satu karakteristik utama dari mittelstand adalah mereka bersaing dengan mengunggulkan kualitas, bukan harga yang murah. Contoh perusahaan Jerman yang terkenal dengan kualitasnya adalah Sennheiser lewat berbagai produk audionya.

Contoh produk Sennheiser

Gue saat ini memandang narasi sebagai cara dunia untuk memahami. Sebagai contoh, beberapa waktu yang lalu sempat populer kutipan esai yang ditulis oleh seorang gadis yang berhasil diterima di 8 universitas paling top di Amerika (silakan klik di sini kalau mau baca tulisannya). Kampus-kampus top di Amerika tentunya ingin mendapatkan calon mahasiswa yang memiliki potensi untuk melakukan hal-hal luar biasa di masa depan. Selain dari berbagai nilai tes, mereka menilai potensi seorang calon mahasiswa lewat esai yang ditulisnya sebagai bagian dari pendaftaran. Esai adalah cara mereka (kampus-kampus tersebut) untuk memahami potensi para kandidat.

Memang kalau dipikir, menilai karakter dan potensi seseorang melalui esai tentunya masih jauh dari sempurna. Banyak aspek dari kehidupan seseorang yang tidak dapat dituangkan begitu saja dalam selembar kertas. Akan tetapi, kita juga harus ingat bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini.

Kesimpulannya, kemampuan bercerita merupakan salah satu kemampuan yang penting untuk dikembangkan. Senada dengan tulisan gue tentang pemasaran, kualitas harus selalu didukung oleh pemasaran supaya dapat membuahkan hasil yang optimal.

Jika kita bisa bercerita dengan baik tentang keadaan sebuah perusahaan, walaupun sedang mengalami kesulitan, perusahan itu tentunya tetap dapat dipandang baik dan berpotensi. Demikian juga ketika kita mampu bercerita dengan baik tentang diri kita seperti yang dilakukan oleh para pelamar kampus-kampus top Amerika, tentunya potensi diri mereka bisa lebih terlihat dibanding para pelamar lainnya. Dampak dari kemampuan bercerita ternyata sangat besar.

=======

manchester business school

Baca cerita gue mengenai perjalanan masuk Manchester Business School di sini: