Giving Joy to Others

Hari ini gue mendapat kabar yang menggembirakan. Salah satu mentee gue di Indonesia Mengglobal berhasil diterima di Yale untuk program studi MBA. Walaupun sempat gagal waktu wawancara LPDP, dia bangkit kembali dan akhirnya berhasil mendapat dukungan penuh dari LPDP untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Dulu, waktu daftar jadi mentor di Indonesia Mengglobal, gue sudah dinyatakan lolos beasiswa S2 Luar Negeri dari LPDP dan sudah diterima di Manchester Business School. Waktu tau tentang program mentorship dari Indonesia Mengglobal, tanpa pikir panjang, gue langsung ikutan. Niat gue ikutan begituan cuma ingin berbagi apa yang gue punya. Ini juga sejalan dengan apa yang gue deskripsikan di halaman Tentang Gue, bahwa gue memiliki kerinduan agar “semua orang bisa menjalani hidup terbaik yang bisa dia miliki”

Hari ini gue diingatkan lagi tentang nikmatnya berbagi. Mungkin perasaan yang sama juga dialami oleh guru bahasa Inggris yang bisa melihat muridnya berhasil kuliah di luar negeri, walaupun cuma pernah mengajar dalam jangka waktu singkat saja. Dan gue yakin, bukan kebetulan pula, dari langganan quotes di Google Allo, gue hari ini mendapat satu kalimat berikut dari Eleanor Roosevelt:

Since you get more joy out of giving joy to others, you should put a good deal of thought into the happiness that you are able to give

Kalau diterjemahkan, artinya kurang lebih, “Karena kamu mendapatkan lebih banyak kebahagiaan dari memberikan kebahagiaan kepada orang lain, kamu sebaiknya memikirkan sungguh-sungguh tentang kebahagiaan yang dapat kamu berikan”

Kebahagiaan apa yang bisa kita berikan ke orang lain pada hari ini?

Iklan

Tourist Schengen Visa Without Paying for Hotel + Flight

This time, I want to write about my experience of applying for Schengen visa without paying a dime to book for the hotel and return flights. The purpose of this post is mainly for my personal documentation so that I won’t forget about how to do it the next time around. However, this post might also actually be quite useful for people that apply for Schengen visa from the UK since the quality fo the information that I found on the internet is not so good. Therefore I decided to write this post in English rather than the usual Indonesian language.

The steps are actually quite easy after we have managed to understand it. There are many services out there offering a hassle-free service to book for hotel + return flights just for visa application, but I wouldn’t recommend it since we would need to pay quite a substantial amount of money (around 50 GBP booking fee). Paying the hotel and flights directly also is a risky move since we would not know whether our application would be booked and most importantly the approved duration of our stay in Schengen area. It could vary from 15 to 90 days. If your intended departure to Schengen area is less than 2 weeks, just like me, booking a refundable flight ticket also is not an option since we would not be able to refund the ticket if our visa application has been rejected.

So here are my steps that I take to apply for tourist Schengen visa without paying a dime for hotel and flight.

First thing first, book your appointment at the visa application office

I use VFS Global when scheduling my Schengen visa to Germany. I got very lucky because there is an opening to apply for German Schengen visa on 21 March, less than a week apart. In most cases, especially in peak holiday season, appointment schedule would quickly be filled up for next month or so. Therefore, book your visa appointment in advance.

Create Your Itinerary

For the sake of simplicity, just book flights and hotel to visit 1 city only. In my case, I book return flights to Munich and book 15 days of hostel stay in Munich. You don’t need to actually show proof for the real itinerary that you are going to follow once you are in the Schengen area. Your plan could change though, so there is no point to overcomplicate the itinerary just for visa application.

Book Your Flight via Yatra.com

One most important thing to provide for your visa application is to provide proof of flight booking. Book the flight on the day of your visa document submission or the day before. In my case, I was able to book KLM flight for 2 days. Once we have searched for the suitable flight, there is a button named book for free under each flight. The valid flight booking duration is shown clearly when we hover the mouse on top of the button. See image below to understand what I meant exactly.

Example of how to hold Lufthansa flight for free via Yatra. You could book flights from most airlines for up to 2 days via this website. Click the image for a better view.

The image below will give you an idea of what a flight booking confirmation from Yatra would look like.

Screenshot of my flight booking via Yatra

The most important part of the flight booking confirmation from Yatra is the Airline PNR which is equivalent to booking code. Yatra is actually an Indian service company. In my opinion, it might not be feasible to use airline booking proof produced by Yatra directly since I am not an Indian and the outstanding booking amount shown is in INR. Therefore, I only took the Airline PNR and use it on KLM website. Please note that the Airline PNR code might not be able to be used directly after being issued. In my case, I need to wait around 30 minutes or so before I could use the booking code.

On KLM website, look for login with my booking code under My Trip tab. Then enter Airline PNR code as a booking code and your last name as a family name. You then could print your flight itinerary directly from the website. It looks very real to me. There is no indication whatsoever that the flight was actually not paid yet.

I booked another flight just now to show you that it is also feasible to book flight and print itinerary for other flights than KLM. I decided to black out my booking code since this is ongoing booking right now.

Book Your Hotel via Booking.com

Just search for any hotel within your area that offers free cancellation up to 1 day before your intended departure day. In my case, I booked Low Budget Hostel in Munich that offers free cancellation for free until 30 March 2018 23:59 Munich time.

After my visa has been approved, I directly cancel my booking on this accommodation so that my card would not be charged.

And that’s it. That is how you manage to provide hotel + flight bookings for Schengen visa application without paying a dime.

Jalan-jalan 2 Hari di Barcelona

Kenapa jalanjalan?

Selama menempuh proses pendidikan di Alliance Manchester Business School untuk mendapatkan gelar MBA, ada 3 buah proyek konsultasi bisnis yang harus diselesaikan. Proyek-proyek tersebut merupakan bagian dari kurikulum MBA di Manchester Business School yang memiliki metode pengajaran bernama Manchester Method. Gue sangat senang dengan metode pengajaran seperti ini karena sangat mengedepankan penerapan ilmu secara langsung lewat berbagai proyek dengan perusahaan-perusahaan terkemuka. Hal tersebut pula yang akhirnya menjadi alasan kenapa gue memilih untuk mengambil gelar MBA gue di sekolah ini.

15 Maret 2018 adalah tanggal bersejarah buat gue. Hari itu, gue baru saja menyelesaikan presentasi untuk proyek terakhir gue. Sebuah proyek konsultasi bisnis dengan sebuah perusahaan IT multinasional yang berbasi di UK. Dengan selesainya presentasi tersebut, gue telah resmi menyelesaikan 3 proyek konsultasi bisnis bertaraf internasional. Gue bermaksud merayakan hal tersebut dengan jalan-jalan ke Barcelona.

Courtesy of mbs.ac.uk

Seputar visa ke Barcelona

Di cerita sebelumnya, gue sempat mengunjungi Munich (klik di sini untuk baca perjalanan gue ke Munich, klik di sini untuk lihat berbagai foto yang gue ambil di Munich) dengan berbekal visa Schengen. Visa Schengen ini juga dapat digunakan untuk masuk ke berbagai negara di Eropa, salah satunya Spanyol. Waktu mengajukan permohonan untuk mendapat visa Schengen, kita bisa memilih untuk mengajukan multiple entry atau single entry.

Gue waktu itu akhirnya dapat visa Schengen multiple entry dengan masa berlaku 1 bulan dengan durasi maksimum tinggal selama 15 hari. Artinya, gue boleh keluar masuk zona Schengen selama 1 bulan tapi gue gak boleh tinggal di sana dengan total lebih dari 15 hari.

Pesan tiket pesawat dan hotel

Tanggal 14 Maret, malam sebelum presentasi terakhir, gue mulai memantau harga tiket pesawat ke Barcelona untuk berangkat maksimal seminggu ke depan.  Masa berlaku visa Schengen gue bakal habis tanggal 21 Maret dan gue baru pakai 2 hari dari total 15 hari yang diperbolehkan.

Setelah lihat-lihat harga tiket pesawat, gue lumayan kaget juga pas lihat harganya yang lumayan mahal untuk durasi yang gue inginkan (tanggal 15 sore – 18 malam). Sempat terpikir untuk kembali ke rencana semula (jalan-jalan mulai tanggal 1 April) karena hal tersebut. Tapi akhirnya, setelah cari tiket murah di sana-sini (Google Flights, SkyScanner, dll), gue ketemu tiket dengan harga miring dan jadwal yang bagus. Setelah gue hitung-hitung, dengan tiket tersebut, gue bisa dapat 2,5 hari di Eropa. Berangkat tanggal 15 sore dari Manchester, transit di Zurich 1 malam, lalu terbang ke Barcelona dengan penerbangan paling pagi di tanggal 16. Setelah 2 hari penuh di Barcelona, gue lalu akan terbang dengan penerbangan paling pagi ke Zurich dan bisa jalan-jalan selama kurang lebih 1/2 hari (dari jam 8 pagi sampai sekitar jam 5 sore) sampai akhirnya gue harus terbang kembali ke Manchester. Seems like a good deal to me. Di cerita ini, gue akan fokus bercerita mengenai perjalanan gue di Barcelona. Cerita tentang Zurich akan gue simpan untuk tulisan selanjutnya.

Setelah menemukan tiket pesawat yang pas, langkah gue selanjutnya adalah meluncur ke booking.com untuk cek penginapan terdekat dari bandara Zurich. Begitu ketemu penginapan yang pas, gue langsung pesan dan bayar. Sebenarnya sempat juga terpikir untuk menginap di bandara Zurich, baik itu tidur di kursi bandara maupun tidur di hotel yang berada di dalam bandara. Tapi dengan berbagai pertimbangan, gue akhirnya mengurungkan niat tersebut.

Setelah mendapatkan penginapan untuk 1 malam di Zurich, gue langsung pesan tiket pesawat (Swiss Air) pulang pergi. (Pergi: MAN – ZRH, ZRH – BCN, Pulang: BCN – ZRH, ZRH – MAN).

Penerbangan sore dengan Swiss Air menuju Zurich

Berikutnya gue pesan penginapan di Barcelona lewat booking.com juga. Sebelum merencanakan perjalanan ini, gue sudah baca-baca berbagai informasi mengenai berbagai hal. Salah satu yang paling umum dikhawatirkan di Barcelona adalah mengenai keamanan. Bahkan gue sempat baca di booking.com kalau ada yang kehilangan barang di hostel tempat mereka menginap. Akhirnya gue memutuskan untuk mengikuti saran teman gue untuk jangan pesan hotel dengan rating di bawah 8.0.

Transportasi selama di Barcelona

Selanjutnya gue pesan kartu Hola BCN lewat internet. Ini juga hasil rekomendasi dari teman gue. Kartu ini merupakan kartu transportasi yang dapat digunakan di berbagai armada (bus, metro, tram, dll). Belakangan setelah gue sampai di Barcelona, gue baru tau akhirnya kalau bus yang menerima kartu ini hanya armada yang dioperasikan oleh TMB a.k.a. Transports Metropolitants de Barcelona.

Setelah pesan tiket Hola BCN online, kita cuma dapat kode yang kemudian dapat ditukar dengan tiket sungguhan di stasiun metro terdekat. Gue sempat berputar-putar di bandara lumayan lama untuk mencari cara untuk menukarkan tiket ini. Awalnya gue pikir mesin untuk menukar tiket ini ada juga di terminal bus yang berada di bandara. Tapi ternyata tidak demikian. Gue akhirnya membuka aplikasi Google Maps dan mencari Metro Station near me. Akhirnya keluarlah lokasi stasiun metro yang terdekat. Ternyata lokasinya berada di bandara dekat terminal 2. Di sana ada beberapa mesin tiket, tinggal pilih Bahasa Inggris lalu masukkan kode pemesanan Hola BCN di mesin tersebut, tiket akan keluar.

Kartu Hola BCN yang gue pesan berlaku selama 48 jam sejak pertama kali

Berbagai landmark dan tempat yang gue kunjungi

Berikut ini daftar landmark dan tempat yang gue kunjungi selama di Barcelona (buat yang mau lihat foto-foto lengkapnya, silakan klik di sini untuk melihat foto-foto Barcelona yang gue upload di album Google Photos):

Hari pertama (16 Maret):

  1. La Sagrada de Familia
  2. Arc de Triomf
  3. Ciutadella Park
  4. Barcelona Cathedral
  5. El Cap de Barcelona
  6. Gambrinus Lobster Statue
  7. Placa de Catalunya
  8. La Boqueria
  9. Magic Fountain

Hari ke dua (17 Maret):

  1. Park Guell
  2. Barcelona Museum of Contemporary Art (CCCB)
  3. Placa d’Espanya
  4. Camp Nou

Highlight

Koneksi internet hilang

Di hari ke dua, koneksi internet gue tiba-tiba hilang. Waktu itu gue baru selesai mengunjungi CCCB dan lagi di bus dalam perjalanan hendak menuju ke salah satu museum lain. Tiba-tiba gue ga bisa melakukan pencarian apapun di Google Maps dengan peringatan koneksi buruk. Karena enggan tersasar lebih jauh kalau gue meneruskan perjalanan dengan menggunakan bus, akhirnya gue turun di terminal terdekat. Selama 1 jam lebih gue berusaha untuk terus melakukan pencarian sembari berharap kalau masalah koneksi tersebut hanya sementara saja. Namun hasilnya nihil. Padahal hari sebelumnya gue sama sekali tidak mengalami masalah yang demikian. Buruknya koneksi internet tersebut berdampak fatal terhadap perjalanan yang gue rencanakan.

Untungnya terminal itu sangat dekat dengan stasiun metro. Setelah lihat-lihat peta, gue ingat dengan nama sebuah stasiun yakni Paral-lel. Setelah sampai di Paral-lel, akhirnya gue tanya sesama turis untuk menunjukkan arah ke penginapan gue. Untungnya gue ketemu sama 2 orang super baik bernama Hassir dan Sarai. Entah gimana tulisan atau nama sebenarnya, yang pasti begitu kedengarannya di telinga gue. Mereka akhirnya mengantar gue sampai ke dekat penginapan.

Di penginapan, gue curhat sembari ngomel dengan teman sekamar di hostel yang gue tempati. Dia lalu memberi saran untuk download peta kota Barcelona di Google Maps sehingga bisa digunakan untuk navigasi tanpa perlu menggantungkan diri sepenuhnya pada koneksi internet. Gue akhirnya mengikuti sarannya untuk download peta kota Barcelona. Untung di tempat gue menginap ini, internetnya super kencang dan stabil. Gak lama kemudian, gue nekat kembai melanjutkan perjalanan. Beberapa jam berharga sudah terbuang akibat gangguan internet tersebut. Gue langsung meluncur ke Camp Nou. Setelah selesai berkeliling di sana, gue bermaksud melanjutkan perjalanan mengunjungi Museu Nacional d’Art de Catalunya. Sayangnya begitu gue tiba di sana, jam operasional Museum sudah berakhir. Akhirnya cuma dapat foto gedungnya saja dari luar.

Ini dia penampakan museum yang akhirnya gak sempat gue kunjungi gara-gara permasalahan koneksi internet

Ada 2 tempat lagi yakni Port of Barcelona dan Montjuic Castle yang juga gagal gue kunjungi gara-gara koneksi internet. Namun menurut gue, hilangnya koneksi internet itu ada hikmahnya juga. Kejadian tersebut akan membuat gue makin berhati-hati saat mau jalan-jalan ke manapun, apalagi ke tempat yang sama sekali asing. Selalu download peta kota tujuan di Google Maps sebelum berangkat ke sana.

La Sagrada de Familia

Highlight lainnya dari perjalanan gue adalah melihat langsung kemegahan gedung La Sagrada de Familia. Melihat langsung kemegahan gedung ini merupakan salah satu alasan utama gue berkunjung ke Barcelona.

Foto La Sagrada de Familia dari seberang jalan

Seperti yang kita bersama, gedungya masih dalam tahap pembangunan. Katanya sih gedung ini bakal selesai tahun 2026.

Camp Nou

Untuk yang suka bola, terutama FC Barcelona, jalan-jalan ke Camp Nou pastinya bakal mengesankan. Di sini ada toko resmi FCB yang namanya FCBotiga Megastore. Di sini di jual berbagai merchandise resmi seperti jersey, dll. Di Camp Nou, ada juga museum FC Barcelona dan tour keliling stadion.

Begitu masuk gerbang ke Camp Nou, kita akan disambut dengan papan selamat datang ini

Penampakan stadion Camp Nou dari pinggir jalan

Masuk agak dalam ke dalam stadionnya, kita bisa lihat papan penunjuk ini

Ini foto panorama suasana di dalam FCBotiga Megastore

Kesimpulan

Setelah berkunjung ke sana, menurut gue Barcelona adalah kota yang indah. Penunjuk arah di Barcelona menurut gue lebih jelas dibanding di Munich. Untuk yang suka bangunan-bangunan indah dan sepakbola, terutama yang suka bangunan hasil karya Gaudi dan cinta mati dengan FC Barcelona, menurut gue Barcelona layak dikunjungi.

Sistem transportasi di Barcelona mudah digunakan dan penunjuk lokasi serta arah di sana juga jelas. Banyak hal gratis yang bisa kita lihat di Barcelona walaupun untuk menikmatinya secara detail tentu memerlukan waktu lebih dua hari. Jalanan di Barcelona sangat ramah untuk pejalan kaki. Di La Rambla, kita bisa berjalan kaki sembari melihat-lihat berbagai macam souvenir yang dijual di sana.

Di tulisan selanjutnya, gue akan cerita perjalanan gue ke Zurich, Liverpool, dan London.

More of What?

Mencapai sesuatu hal yang lebih. Tentunya kalimat itu bukan lagi hal yang asing untuk kita. Dari kecil, kita sudah diajari untuk mendapat ranking di kelas. Ketika teman kita mencapai prestasi yang gemilang, kita pun sering iri akan pencapaiannya. Diam-diam, kita juga berharap bisa menjadi seperti dia. Sistem pendidikan di berbagai belahan dunia juga menekankan pentingnya prestasi. Ketika kita memiliki prestasi ini dan itu, kita bisa masuk universitas ternama.

Semakin mendekati akhir kuliah gue di Manchester, gue semakin mencari jalan untuk mencapai hal yang lebih. Lebih besar, lebih baik, lebih segalanya. Tentunya hal ini gak salah. Gue sendiri merasa kalau gue belum menjalani hidup sesuai dengan potensi yang gue miliki sehingga wajar jika kemudian gue menjalani pencarian akan sesuatu yang lebih. Begitu pemikiran gue waktu itu.

Namun, minggu lalu, pemikiran gue kemudian berubah. Seseorang bernama Will Rubie menyampaikan sebuah kebenaran yang menyatakan bahwa siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Dia kemudian terus berbicara sambil mengutip Pengkhotbah 5 dan 6. Buat yang mau mendengarkan apa yang dia bicarakan secara lebih lengkap, silakan dengarkan rekamannya di sini.

Buat gue, ini bukan soal ajaran agama. Ini soal logika. Ketika kita tidak pernah puas dengan apa yang kita punya, tentunya pencapaian seperti apapun tidak akan bisa kita nikmati. Kenapa? Karena kemudian pemikiran kita terus tertuju kepada pencapaian yang berikutnya. Ketika gaji sudah 10 juta, kita ingin 20 juta, dan seterusnya dan seterusnya. Usaha tak berkesudahan seperti ini ibaratnya seperti usaha menjaring angin, alias sia-sia.

Menurut gue, arti kata present cukup mewakilkan apa yang Will sampaikan. Selain memiliki makna saat ini atau hari ini, present juga memiliki makna lain yakni pemberian. Jika kedua makna tersebut digabungkan, maka kata present memilki makna bahwa saat ini atau hari ini adalah pemberian yang sudah selayaknya kita nikmati.

Adalah baik dan tepat jikalau kita bisa menikmati apa yang telah diberikan untuk menjadi milik kita pada saat ini dan bersenang hati karenanya. Bukan berarti kita harus berpesta pora atau menghabiskan semua yang kita punya untuk mencari kesenangan, namun lebih ke sikap hati yang bersyukur. Cobain deh. Rasanya damai banget. Rasa bahagia itu gak usah jauh-jauh kita cari. Sekarang pun kita bisa bahagia kalau kita bisa bersyukur atas segala yang kita punya.

Pertanyaan selanjutnya adalah, lantas kalau kita sudah bersyukur dengan yang kita miliki, lalu bagaimana? Tidak perlukah kita mencapai prestasi? Tidak perlukan kita pasang target tinggi?

Tentu semua itu tetap perlu. Perbedaannya adalah, ketika kita bersyukur, berbagai pencapaian akan semakin dekat dengan sendirinya karena ketika kita bekerja, ketika kita berkarya, kita melakukannya dengan hati yang riang dan damai. Tujuan kita bekerja bukan lagi karena kita ingin beli mobil atau karena kita ingin menyamai pencapaian tetangga sehingga kita memacu diri lebih keras. Ketika kita bersyukur, soal prestasi bukan lagi dampak dari hal-hal yang terjadi di luar diri kita, tapi dampak dari perubahan dalam diri kita. Bukan soal ingin seperti si A, bukan soal ingin beli mobil B, bukan soal ingin membuat papa mama bangga, tapi karena hati yang damai memampukan diri kita untuk bekerja dengan sangat baik.

Bicara soal damai, gue pernah berada di situasi yang kurang lebih sama. Setelah menjalani hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan waktu kelas 2 SMA, ada aliran rasa damai yang luar biasa. Rasa damai itu mendorong gue untuk lebih giat belajar. Sulit dijelaskan kenapa bisa seperti itu. Yang gue tau, nilai-nilai gue menanjak naik secara drastis. Belajar bukan lagi terasa seperti kewajiban, tapi karena kita memang ingin. Puncaknya, gue bisa belajar dari jam 8 pagi sampai jam 12 malam. Rutinitas seperti itu berlangsung selama berbulan-bulan menjelang SPMB. Singkat cerita, gue akhirnya dinyatakan lolos masuk ITB lewat jalur SPMB.

Gue gak mau menutup tulisan ini dengan kesimpulan. Gue nulis seperti ini juga bukan berarti gue udah jadi orang bener. Sampai saat ini pun, gue masih belajar untuk menyikapi hidup dengan hati yang benar. Gue cuma berharap apa yang gue bagikan lewat tulisan ini bisa jadi bahan buat kita belajar bareng tentang hidup.

Jalan-jalan di Munich

Gue kemarin akhirnya resmi menginjakkan kaki di sebuah negara bernama Jerman. Kalau ngomongin Jerman, ingatan gue jadi terbawa lagi ke awal masa SMA. Waktu itu di sekolah gue ada pelajaran bahasa tambahan selain bahasa Inggris yakni bahasa Jerman. Setelah belajar bahasa Jerman selama setahun, yang gue ingat cuma auf wiedersehen (Good bye), Mein name ist Yohanes (nama saya adalah Yohanes) sama sapaan-sapaan receh macam selamat pagi, siang, dan malam.

Malam sebelum berangkat, gue mencoba cari tau lebih lanjut tentang Jerman, sebagai bekal jalan-jalan di Munich. Memang cuma sepotong-sepotong informasi yang gue dapat dari internet, tapi lumayanlah. Gue jadi tau kalau sistem transportasi di Munich cukup unik. Gak ada gerbang penjaga sebelum kita naik kereta, tram, dan bus. Gak tau juga ini berlaku di seluruh negara Jerman apa gak. Waktu temen gue ke Berlin sih katanya memang gitu juga, gak ada gerbangnya. Hanya saja, kadang-kadang memang akan ada petugas yang memeriksa tiket kita selama perjalanan. Kalau tertangkap tidak memiliki tiket, dendanya lumayan menguras dompet. Oleh karena itu tiket transportasi umum merupakan hal paling utama yang wajib kita miliki kalau mau jalan-jalan di Munich.

Mengenai tiket, harga bisa berbeda-beda tergantung area yang ingin kita kunjungi. Detail lebih lanjut, silakan kunjungi https://ticketshop.mvv-muenchen.de/index.php/tickets untuk tahu tentang berbagai macam tiket transportasi di Munich. Kalau baru tiba dari airport, pilih airport-city-day-tickets. Tiket ini mencakup seluruh area yang dilayani oleh MVV dan dapat digunakan sepuasnya sampai jam 6 pagi hari berikutnya. Di hari berikutnya, kalau kamu hanya mau jalan-jalan di dalam kota saja, pilih single-day ticket dengan time of validity: 1 day dan area of validity: inner district. Kalau ingin tahu lebih lanjut tentang area Muncih XXL dan Outer District, silakan kunjungi https://www.mvv-muenchen.de/en/tickets-and-fares/tariff-structure/areas/index.html

Nah, berbekal informasi dari Google Maps tentang nama perusahaan trasnportasi lokal di Munich, akhirnya gue ngubek-ngubek websitenya. Setelah baca-baca, akhirnya gue memutuskan untuk beli tiket harian secara online dengan harga 13 Euro. Tiket ini akan gue pakai untuk transportasi dari bandara ke pusat kota, sekalian untuk jalan-jalan ke beberapa tempat di Munich setelah selesai check-in di hotel. Tiket harian ini harganya jauh lebih murah dibanding tarif Uber atau taksi biasa (dari bandara ke pusat kota bisa mencapai 70 Euro). Tiket ini juga berlaku untuk semua moda transportasi (U-bahn, S-bahn, tram, dan bus) dan bisa dimasukkan ke aplikasi handphone. Lewat aplikasi itu juga kita bisa cari transportasi umum apa yang harus kita naiki kalau kita mau berpindah dari A ke B.

Screenshot tiket harian di hp gue

Dengan bekal sekelumit info dan aplikasi yang nampaknya bisa diandalkan, di malam sebelum  keberangkatan gue ke Munich, gue memutuskan untuk langsung jalan-jalan begitu gue selesai check-in di hotel. Tapi, namanya juga sekelumit info. Masih banyak informasi yang gak gue punya. Ketika sudah langsung berada di Munich, banyak sekali hal-hal detail yang gue harus cari tahu sendiri. Misal, waktu di bandara, gue sempat kesulitan cari lokasi stasiun keretanya. Yang gue tau cuma gue harus naik S-bahn (kalau gak S1 ya S8) ke arah pusat kota. Nah lokasi stasiunnya gue gak tau jelas. Waktu coba liat lokasi stasiun lewat layar interaktif di bandara, gue malah makin pening.

Apa coba ini? Dimana coba stasiunnya? Orang gue lagi menghadap arah mana aja gak paham. Hahaha

Celingak-celinguk lihat papan penunjuk arah di bandara juga gak begitu berguna. Gue kebanyakan bingungnya. Meenn, itu tulisannya kok tulisan Jerman semua, gak semua papan ada terjemahan bahasa Inggrisnya. Akhirnya gue mikir mending keluar dulu aja dari bandara. Pas di perjalanan mau keluar bandara, gue lihat ada petugas keamanan. Akhirnya nanya sama dia, kalau mau naik S bahn gue kudu ke arah mana. Dikasih tau sama dia kalau gue kudu ke luar gedung dulu terus menyebrang ke gedung lain. Setelah gue ikutin petunjuk yang dikasih tau sama dia, akhirnya gue mulai lihat ada logo kereta dan lambang S

Akhirnyaa, nemu juga ini papan penunjuk yang gue cari-cari

Begitu sampai di stasiun, timbul lagi masalah berikutnya. Dimana gue harus nunggu keretanya? Akhirnya gue ikutin aja orang-orang. Orang pada berdiri di bawah papan informasi, gue ikutan berdiri di situ juga.

Begini penampakan papan informasinya

Waktu coba cek jadwal kereta pakai aplikasi, ternyata ada kereta yang udah mau berangkat ke pusat kota. Tapi waktu gue celingukan, gak ada penampakan keretanya. Akhirnya gue coba jalan lebih dalam. Gak begitu lama, gue melihat ada dua orang perempuan lari-lari. Ternyata keretanya sudah di stasiun tapi letaknya agak dalam. Gue juga akhirnya ikutan lari-lari. Sayangnya itu kereta udah keburu ngacir duluan. Terpaksa gue nunggu kereta berikutnya yang berangkat dari bandara (flughafen) ke dekat hotel tempat gue nginap.

Rute perjalan gue dari bandara ke hotel

Sebenarnya ada stasiun yang lebih dekat lagi tanpa harus jalan 13 menit seperti yang ditunjukkan di aplikasi itu. Cuma gue aja yang gak tau dimana transitnya dan harus naik kereta sambungan ke arah mana. Akhirnya gue ikutin apa kata aplikasinya aja. Jalan 13 menitan di tengah suhu minus dan hujan salju itu ternyata lumayan juga. Untungnya gue udah pakai jaket tebal, sarung tangan dan penutup telinga sejak dari bandara, jadinya gak terlalu terasa.

Waktu check-in hotel, ternyata gue dapat upgrade ke kamar yang lebih luas dan ada free mini barnya. Lumayan nih makanan-makanan cemilan gratis. Hehehe.

Setelah beres-beres dan mengeluarkan barang-barang yang gak perlu dari ransel, gue langsung cabut untuk menikmati jalan-jalan di Munich. Mumpung matahari belum terbenam. Kalau musim dingin begini, matahari terbenam lebih awal dibanding musim lainnya. Untung sebelum berangkat, gue udah buat daftar tempat-tempat yang mau gue kunjungin dan rute mana aja yang harus gue tempuh

Di aplikasi MVV, gak semua tempat tujuan ada di database. Di Google Maps, tempat-tempatnya jauh lebih lengkap, cuma ternyata bisa bikin sesat juga. Gue sempat beberapa kali naik tram ke arah yang berlawanan dengan tempat tujuan gue gara-gara informasi tram atau kereta yang harus dinaikin gak akurat. Untung gue selalu cocokin nama-nama stasiun yang harusnya gue lewatin dengan pengumuman stasiun yang sebentar lagi akan dilewati, jadinya paling salah naik keretanya cuma 1 stasiun doang. Kalau sampai salah arah, solusinya gampang, tinggal ambil kereta ke arah sebaliknya.

Jalan-jalan di Jerman pas musim dingin, apalagi waktu hujan salju, menurut gue sangat tidak disarankan kecuali perlengkapan tempurnya udah lengkap banget. Misal, kalau mau berburu foto, tentunya sarung tangan super tebal yang dibagian ujung jarinya kompatibel dengan layar handphone bakal jadi senjata super penting. Selain itu, penutup telinga, long john dan jaket super hangat yang ada penutup kepalanya juga penting banget supaya kita tetap merasa hangat. Kalau sepatu sih yang paling penting anti basah. Kebayang aja kalau gak sengaja nginjak genangan air di suhu minus begitu. Bisa keriput gak karuan itu kaki.

Demikian review singkat gue mengenai jalan-jalan di Munich menggunakan transportasi umum.

Kalau mau lihat beberapa foto yang gue ambil selama perjalanan, silakan klik link ini https://photos.app.goo.gl/5e8VEdMgdprAqvrJ3

Tentang Mendendam dan Melepaskan

Hampir 13 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 21 April 2005, gue mengalami sebuah kejadian yang berdampak besar dalam hidup gue.

Seperti yang kita ketahui bersama, 21 April adalah hari Kartini. Siang itu sekolah dibubarkan lebih cepat. Gue lagi berjalan ke arah gerbang bareng sama 2 orang teman yang lain, hendak keluar dari sekolah. Tiba-tiba suara motor terdengar mendekat di belakang kami. Lalu terdengar suara orang jatuh dari motor. Gue dan teman-teman menoleh ke belakang dan menemukan seseorang yang tidak kita kenal sebelumnya. Barangkali kakak kelas. Kami waktu itu masih kelas 10 (1 SMA). Belakangan diketahui bahwa memang ternyata benar, dia merupakan kakak kelas.

“Woi bantuin, jangan diem aja”, kata orang yang jatuh tersebut. Setelah kami bantu, entah kenapa dia malah berperilaku aneh. Dia mulai mendekati dan berperilaku agresif, pura-pura merangkul gue sampai ke luar gerbang sekolah. Gue sebenarnya masih gak ngerti apa yang terjadi saat itu dan kenapa dia berperilaku seperti itu setelah ditolong. Yang gue tau, tiba-tiba tinjunya mendarat di kacamata kiri gue. Kacamata gue pecah dan pecahannya masuk ke mata kiri gue, tepat di bagian kornea.

Buat yang gak tau kornea, intinya kornea berfungsi sebagai lensa mata paling luar, salah satu fungsinya adalah memfokuskan cahaya yang masuk ke mata. Ketika korena terluka dengan skala yang cukup besar, seperti yang gue alami, bekas lukanya bisa mengganggu penglihatan. Yang terjadi pada gue, walaupun operasi untuk mengambil pecahan kacanya berlangsung mulus, bekas lukanya ternyata lumayan dalam dan, sebagai akibatnya, penglihatan gue terganggu secara permanen.

Ketika keluarga gue tau tentang hal ini, reaksi mereka berbeda-beda. Adik gue yang laki-laki naik darah, nyokap dan bokap gue kalut. Mau tau apa yang gue rasakan waktu itu? Entah. Yang gue tahu, gue gak bisa marah. Yang gue tahu, karena doa dari orang-orang terdekat, gue bisa tenang menghadapi semuanya. Bahkan saat nyokap gue menangis saat menjelang operasi, gue yang menenangkan dan bilang kalau semuanya akan baik-baik saja, masih ada mata kanan.

Gue bisa saja mengeluh sepanjang hidup gue mengenai mata kiri gue yang tidak bisa berfungsi secara normal lagi. Gue bisa aja memutuskan untuk mengutuk kakak kelas itu seumur hidup gue karena mengakibatkan hal itu terjadi dalam hidup gue. Bahkan gue bisa saja memutuskan untuk mengamuk dan murtad. Tuhan seperti apa yang membiarkan hal seburuk itu terjadi dalam hidup manusia?

Justru kalau diingat kembali, gue bersyukur untuk semuanya. Gue bersyukur karena dapat kesempatan diajar memandang hidup dari sudut pandang yang berbeda. Selalu ada alasan bagi kita untuk tidak puas akan hidup. Namun, gue belajar bahwa hidup itu tentang pilihan. Setiap hari gue memandang dunia dari dua sisi, mata kiri gue memberikan gambaran yang blurry (kurang jelas), dan mata kanan gue memberikan gambaran yang jelas. Setiap hari gue bisa memilih untuk meratapi pandangan yang kurang jelas, atau justru bersyukur akan mata kanan gue yang masih berfungsi dengan sangat baik. Kita bisa pilih, fokus pada hal yang negatif atau yang positif. Kita bisa pilih, mendendam atau mengampuni kesalahan orang lain. Kita juga bisa pilih, tetap percaya bahwa segala sesuatu yang Tuhan rencanakan dalam kehidupan kita itu baik atau malah mengamuk dan murtad.

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. (Yeremia 29:11)

Perkataan itu meneguhkan gue dan membantu gue untuk terus percaya akan adanya hari depan yang penuh harapan, walaupun saat itu rasanya gue sangat sulit untuk melihatnya. Apa yang Tuhan kerjakan terkadang sangat sulit untuk dipahami. Namun, kala itu, gue memutuskan untuk tidak marah, gue memutuskan untuk berfokus pada hal yang baik, dan gue memutuskan melepaskan pengampunan. Sejak itu, hidup gue gak sama lagi.

Semoga pilihan-pilihan yang kita buat hari ini membawa damai dan membawa kita menuju ke hidup yang lebih baik.

Hang In There

Hari ini gue lari 8 kilometer. Sudah hampir seminggu dari lari jarak jauh terakhir gue. Lari selalu jadi hal yang menyegarkan buat gue. Tiap ada kesempatan, gue menyempatkan diri untuk lari. Hari ini akhirnya gue punya kesempatan untuk lari lagi. Beberapa hari belakangan Manchester seringkali hujan. Kalaupun gak hujan, biasanya gue lagi di kampus, rapat bareng tim untuk bahas proyek konsultasi bisnis.

Waktu sampai kontrakan, waktu udah hampir jam 4 sore. Gue nekat-nekatin untuk lari walaupun diprediksi bakal hujan dan matahari 20 menit lagi akan tenggelam. Against all odds, I decided to run anyway. Biasanya Manchester toh kalau hujan cuma gerimis. Itu yang ada di pikiran gue saat itu.

Setelah upload rute lari ke smartwatch gue, pakai jaket parasut, celana pendek, sarung tangan 2 lapis, dan sweatband di kepala, gue langsung keluar rumah. Suhu saat itu 4 derajat celsius. It turns out that it wasn’t the wisest decision.

Waktu awal lari, ga ada hujan. Semuanya masih baik-baik aja. Di tengah perjalanan, hujan mulai turun dan hari mulai gelap. Hujan kemudian turun lumayan deras dan hari sudah menjadi gelap. Gue gak tau lagi berada entah di mana. Yang gue tau, gue berada di satu posisi yang masih jauh dari rumah. Satu-satunya yang gue andalkan waktu itu cuma penunjuk arah dari jam yang gue pakai. Kalau mendadak jam gue rusak atau habis baterai, alamat gue kedinginan.

Di tengah situasi seperti itu, gue berasa lagi diingetin kembali untuk mengandalkan hidup gue sepenuhnya pada Tuhan. Satu-satunya yang bisa diandalkan, yang gak bakal rusak atau habis baterai. Memang saat-saat sulit akan datang. Hujan terkadang datang di saat yang tidak kita harapkan. Namun, kita selalu punya pilihan untuk terus bergerak. Terus berlari sambil berserah penuh. Berlari sedikit demi sedikit sampai akhirnya saat sulit itu hilang dan kita bisa mendapatkan ketenangan kembali.

Kata hang in there biasanya dipakai sebagai bentuk dukungan supaya tetap bertahan walaupun situasinya sulit. Mungkin kita pernah mengalami, masa-masa dimana bertahan rasanya sangat sulit. Saat-saat dimana kita ga tau harus jalan kemana. Just hang in there. Cari petunjuk, berserah penuh dan tetap berusaha. Waktu gue lagi mengalami masa sulit, bokap gue bilang kalau tidak ada pesta yang tidak berakhir. Tidak ada sesuatupun yang tidak akan selesai. Semua hal di bawah langit ada masanya. Masalah juga akan pasti akan selesai. Semua akan selesai.

Just hang in there buddy.

1 Tahun Kemudian di Manchester

Manchester

Pemandangan di pusat kota Manchester

Gak terasa, 1 tahun 4 bulan telah berlalu sejak gue pertama kali mendarat di Inggris.

Minggu-minggu pertama gue di Manchester bukan hal yang mudah. Banyak banget hal yang harus gue pelajari: cara mengatasi jetlag, mengisi ulang kredit listrik dan gas, mengatur pembayaran air, cara berlangganan Sky (semacam Telkom Indiehome kalau di Indonesia), beli pulsa dan paket internet di HP, beli kartu bus, membuka rekening bank, menggunakan mesin self-checkout di supermarket, cari tahu rute transportasi dan penggunaan jalan, dan lain sebagainya.

Sebelum pergi, gue memang gak ribet mikirin ini itu. Waktu itu juga gue sudah dapat tempat tempat tinggal di Manchester, jadi beban pikiran gue ringan. Untung saat itu ada grup WhatsApp sebagai sarana ngobrol bareng teman-teman yang mau berangkat di tahun ajaran baru 2016. Yang gue pikirin tinggal cuma seputar mengurus visa, pesan tiket pesawat ke Manchester, beres-beres baju, terbang, dan sampai dengan selamat.

Sekarang, 1 tahun lebih kemudian, gue lagi beres-beres lagi. Bukan untuk pulang, belum saatnya. Gue sebentar lagi akan pindah kontrakan. Kontrakan gue yang sekarang akan habis di akhir bulan ini dan gue akan pindah ke kontrakan yang baru.

Kalau diingat-ingat lagi, sejak lulus SMA, gue sudah lumayan banyak pindah tempat tinggal. Pindahan pertama gue adalah pindah dari Lampung ke Bandung untuk kuliah. Itu kali pertama gue tinggal lama di kota selain kota kelahiran gue. Di Bandung, gue lalu berpindah kost sebanyak 2 kali. Setelah lulus kuliah dan dapat kerjaan, gue pindah ke Cilegon dengan membawa serta banyak bawaan gue dari Bandung. Di Cilegon, gue juga pindah kost 2 kali karena berbagai alasan. Dari Cilegon, gue pindah ke Lampung beberapa saat lalu kemudian gue pindah ke Manchester.

Terbiasa hidup berpindah-pindah membuat gue belajar menghargai esensi: membawa serta hal-hal yang penting dan membuang yang tidak perlu.

Tahun depan, entah apa yang akan gue kerjakan di bulan-bulan ini. Hopefully, next year will be a better year.

Merry Christmas and Happy New Year!

Road to 42.2 km Marathon

Lari

Waktu kecil, gue kerjanya lari tanpa henti. Untuk memuaskan hasrat berlarian tanpa arahpun gue seringkali harus manjat pagar rumah yg tingginya hampir 2 meter. Saat siang hari, bokap gue selalu mengunci pagar rumah supaya kami (gue dan adik laki-laki gue) tidur siang. Tapi memang dasarnya bandel, malahan kami manjat pagar. Bahkan sepeda kami juga pernah ikut diselundupkan lewat atas pagar saat kami kabur dari jadwal tidur siang.

Desember 2013, waktu menulis tentang 27 hal yang ingin gue lakukan sebelum meninggal, gue menuliskan “Finish 42k marathon” di nomor 24. Untuk gue yang saat itu lari 5 kilometer pun butuh perjuangan fisik dan mental yang luar biasa, sepertinya target tersebut hampir mustahil untuk dicapai.

Setelah sekian lama, belakangan ini gue ingat lagi akan target yang gue tulis hampir 4 tahun yang lalu itu. Sejak April tahun ini, gue mulai fokus untuk bisa menyelesaikan tantangan tersebut. Total lari sejauh 311,83 kilometer dan berbagai variasi latihan lari sudah gue tempuh sejak April hingga saat ini. Belum ada apa-apanya memang, tapi ini merupakan pencapaian tersendiri buat gue.

Total jarak yang gue tempuh vs total jarak teman-teman gue di Nike+

Setelah menyelesaikan lari 15 kilometer gue yang ke dua, lari 42.2 kilometer memang masih merupakan hal yang sulit namun ga lagi merupakan hal yang hampir mustahil. Tahun ini gue bakal fokus untuk bisa menyelesaikan lari half-marathon dan tahun depan gue akan mencoba untuk menyelesaikan full-marathon. Supaya semangat, gue bahkan sudah mendaftar untuk dua acara lari di Manchester, half-marathon (21.1 kilometers) tanggal 15 Oktober 2017 dan full-marathon (42.2 kilometers) tanggal 8 April 2018.

Wish me luck!

2 event lari yang akan gue ikuti di tahun depan dan tahun ini

What’s up with storytelling?

At some point, gue akhirnya berpikir kalau kemampuan bercerita adalah sesuatu yang harus gue pelajari lebih lanjut. Semua bermula dari kelas leadership yang baru saja selesai gue jalani. Di kelas itu, gue belajar bahwa salah satu kemampuan penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah kemampuan mengolah data dan angka dan membangun narasi (cerita) dengan fakta-fakta tersebut.

Ambil contoh di sebuah perusahaan. Kemampuan seorang pemimpin untuk bercerita menjadi penting karena banyak pihak yang menggantungkan keputusan berdasarkan penjelasan yang diberikan oleh mereka. Misalnya, investor membutuhkan informasi untuk memutuskan apakah akan meneruskan investasi di perusahaan tersebut atau menjual saham yang dimilikinya, masyarakat sekitar memerlukan penjelasan mengenai pencemaran air yang terjadi sejak perusahaan itu dibangun di dekat tempat tinggal mereka, dan sebagainya.

Jika seorang pemimpin di perusahaan salah memilih kata dalam menjelaskan situasi perusahaan maka dampaknya bisa sangat besar. Harga saham perusahaan bisa anjlok karena investor tidak mau lagi berinvestasi di perusahaan tersebut. Masyarakat bisa mengamuk, menutup jalan, dan merusak properti perusahaan, dan lain sebagainya.

Entah kenapa, buat gue, topik seputar narasi ini terasa seperti déjà vu. Gue jadi teringat dengan perkataan mantan bos gue yang mengatakan bahwa laporan yang gue buat harus mampu bercerita. Laporan gue harus memiliki alur. Waktu itu, gue ga begitu paham kenapa dia ngotot minta revisi laporan berulang-ulang. Laporan itu hal remeh yang ga terlalu perlu untuk dibuat sempurna. Masih banyak hal lebih penting yang bisa dikerjakan dibanding merevisi laporan. Begitu pikiran gue waktu itu. It turns out that he is right when he said that he wanted to teach us something.

Dampak dari sebuah kisah juga faktanya begitu besar terhadap pandangan dunia terhadap sebuah bangsa. Korea Selatan adalah contoh negara yang memanfaatkan narasi dengan baik. Paling tidak, di mata orang Indonesia, Korea Selatan adalah negara yang keren. Hallyu (한류) atau Korean Wave adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan naiknya popularitas kebudayaan Korea Selatan di mata dunia. Hal itu tentunya tidak lepas dari dampak narasi/kisah yang ditanamkan lewat berbagai variety show, drama, dan lain sebagainya. Jeju island mendadak nampak begitu keren di mata kita. Liburan ke Korea Selatan mendadak jadi sangat menarik. Sumpit besi seperti yang dipakai makan seperti di drama-drama Korea juga mendadak membuat kita penasaran.

Berbagai hal populer mengenai Korea Selatan

Jerman, di sisi lain, membangun narasi bahwa produk yang berasal dari negara mereka memiliki kualitas yang bagus. Hal ini tidak terlepas dari peranan mittelstand. Mittelstand adalah sebutan untuk perusahaan-perusahan skala kecil dan menengah asal Jerman yang telah mendunia. Perusahaan-perusahaan ini umumnya merupakan perusahaan keluarga, memiliki fokus pada pertumbuhan jangka panjang dan merupakan yang terbaik di dunia pada bidangnya. Salah satu karakteristik utama dari mittelstand adalah mereka bersaing dengan mengunggulkan kualitas, bukan harga yang murah. Contoh perusahaan Jerman yang terkenal dengan kualitasnya adalah Sennheiser lewat berbagai produk audionya.

Contoh produk Sennheiser

Gue saat ini memandang narasi sebagai cara dunia untuk memahami. Sebagai contoh, beberapa waktu yang lalu sempat populer kutipan esai yang ditulis oleh seorang gadis yang berhasil diterima di 8 universitas paling top di Amerika (silakan klik di sini kalau mau baca tulisannya). Kampus-kampus top di Amerika tentunya ingin mendapatkan calon mahasiswa yang memiliki potensi untuk melakukan hal-hal luar biasa di masa depan. Selain dari berbagai nilai tes, mereka menilai potensi seorang calon mahasiswa lewat esai yang ditulisnya sebagai bagian dari pendaftaran. Esai adalah cara mereka (kampus-kampus tersebut) untuk memahami potensi para kandidat.

Memang kalau dipikir, menilai karakter dan potensi seseorang melalui esai tentunya masih jauh dari sempurna. Banyak aspek dari kehidupan seseorang yang tidak dapat dituangkan begitu saja dalam selembar kertas. Akan tetapi, kita juga harus ingat bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini.

Kesimpulannya, kemampuan bercerita merupakan salah satu kemampuan yang penting untuk dikembangkan. Senada dengan tulisan gue tentang pemasaran, kualitas harus selalu didukung oleh pemasaran supaya dapat membuahkan hasil yang optimal.

Jika kita bisa bercerita dengan baik tentang keadaan sebuah perusahaan, walaupun sedang mengalami kesulitan, perusahan itu tentunya tetap dapat dipandang baik dan berpotensi. Demikian juga ketika kita mampu bercerita dengan baik tentang diri kita seperti yang dilakukan oleh para pelamar kampus-kampus top Amerika, tentunya potensi diri mereka bisa lebih terlihat dibanding para pelamar lainnya. Dampak dari kemampuan bercerita ternyata sangat besar.

=======

manchester business school

Baca cerita gue mengenai perjalanan masuk Manchester Business School di sini: