Part 8: Memilih Kampus

Sambungan dari Part 7

Gak terasa sekarang sudah sekitar sebulan sejak gue dinyatakan diterima di dua kampus yang jadi incaran gue yakni di Weatherhead School of Management (selanjutnya gue sebut Weatherhead) serta di Alliance Manchester Business School (selanjutnya gue sebut AMBS). Ngomong-ngomong, gak terasa juga sekarang sudah mau masuk pertengahan 2016. Waktu bergulir begitu cepat.

Sebelum dapat pengumuman dari Weatherhead dan sebelum gue ngelamar AMBS, sebenernya gue udah selesai memasukkan berkas di University of Adelaide. Gue memang sengaja ngelamar sekolah ini sebagai safety net (jaring pengaman) karena gue masih belum bisa prediksi apa gue bakal diterima di Weatherhead dan apakah nanti lamaran gue ke AMBS bakal berhasil atau enggak. Kalau gue gak masuk di ke dua sekolah ini, paling gak gue udah lagi proses di Adelaide dan tinggal tunggu pengumuman. Gue gak akan bahas banyak tentang sekolah ini karena memang pengambilan keputusan gue hampir tidak melibatkan Adelaide di dalamnya.

Waktu pengumuman dari Weatherhead udah keluar dan lagi nunggu pengumuman dari AMBS, gue ngejalanin sesi wawancara via Skype dengan Admissions Director dari University of Adelaide. Waktu itu, tanggal 6 Mei 2016, gue ngejalanin wawancara di rumah karena lagi libur panjang. Karena sebelumnya udah mastiin bahwa wawancara akan berlangsung dalam video call, akhirnya gue terpaksa pakai kemeja, dasi, dan blazer di tengah udara yang panas. Sengaja gue arahkan kamera depan HP gue ke setengah badan aja karena gue males pake celana rapih-rapih, tambah mirip lemper nanti. Akhirnya jadilah gue wawancara waktu itu pakai kemeja, dasi, blazer, dan .. celana pendek. Papa dan mama sempat bercandaain, “Gimana kalo tiba-tiba disuruh berdiri sama profesornya? Ntar keliatan dong celana pendek kamu?” Elah, ngapain juga dia suruh berdiri? Wkwk.

Sekitar sebulan setelah admission offer dari Weatherhead dan AMBS, akhirnya kemaren gue dapat kabar dari Adelaide kalau gue diterima di sana. Komplit sudah. Total 3 universitas dari 3 benua yang berbeda udah menyatakan tawarannya pada gue.

Sebelum sampai pada 3 pilihan kampus ini, gue memang sebelumnya sudah buat beberapa rencana, bagaimana kalau lamaran gue berhasil, bagaimana kalau lamaran gue gagal, rencana cadangannya seperti apa, dan lain sebagainya. Gue udah melakukan riset yang cukup mendalam mengenai 3 kampus ini dan riset yang gue lakukan sangat membantu sebagai bahan pertimbangan gue untuk mengambil keputusan.

Ada beberapa kriteria yang jadi fokus gue dalam mengambil keputusan:

  1. Perbandingan peringkat University of Manchester vs Case Western University vs University of Adelaide
  2. Perbandingan peringkat AMBS vs Weatherhead vs Adelaide
  3. Peringkat spesialisasi AMBS, Weatherhead, dan Adeliade jika dibandingkan dengan sekolah bisnis ternama lainnya
  4. Perbandingan lingkungan
  5. Perbandingan kurikulum
  6. Manfaat-manfaat lain

Untuk perbandingan peringkat universitas dan sekolah bisnis, gue pakai perbandingan dari berbagai sumber meliputi QS World University Ranking, QS Ranking by Subject, QS MBA ranking, Times Higher Education, dan Financial Times. Hasilnya, AMBS konsisten lebih unggul dibanding Weatherhead dan Adelaide. Untuk kriteria spesialisasi, berdasarkan peringkat QS MBA ranking tahun 2014, AMBS bahkan mengungguli sekolah bisnis di University of Cambridge dan University of Oxford dalam spesialiasi operations management.

Selain ranking, satu hal yang menurut gue sangat penting adalah kurikulum. Gue sangat suka pendekatan learning by doing dan original thinking yang diterapkan oleh AMBS. It suits me very well. Gue dari dulu memang senang coba-coba hal baru. Bikin ini, bikin itu, sampai akhirnya tanpa sadar kemampuan gue meningkat. Dari waktu gue belajar tentang bisnis dan manajemen di Coursera, gue udah lumayan banyak menyerap konsep-konsep menarik, hanya saja gue belum bisa menerapkan sebagian besar konsep itu karena kesempatan yang terbatas. Belajar sambil terjun langsung menurut gue akan lebih susah namun sekaligus memberikan peningkatan kemampuan yang lebih cepat. Selain itu, gue juga mengamini pentingnya pemikiran orisinal dalam memecahkan sebuah masalah. Di era transformasi cepat seperti sekarang, kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan serta kemampuan menciptakan terobosan-terobosan baru akan jadi aset yang sangat berharga.

Di lain pihak, kurikulum dari Weatherhead juga sangat menarik. Sekolah ini mengambil pendekatan desain dalam seni lalu meleburkan konsep-konsepnya ke dalam dunia bisnis. Hasil dari peleburan ini kemudian melahirkan pionir-pionir dalam design thinking dan design for business innovation. Kombinasi yang sangat unik ini menjadi menarik karena gue sangat suka sesuatu yang liar dan mendobrak aturan seperti ini. Gue udah bisa membayangkan berbagai hal yang bisa gue kembangkan setelah gue belajar tentang konsep-konsep ini.

Waktu mempertimbangkan antara AMBS dan Weatherhead, gue inget lagi dengan pelajaran yang pernah gue ambil dulu di kelas kreativitas.

little-C big-C

Hubungan Little-C dengan Big-C

Dr. Cyndi Burnett dan Dr. John F Cabra dari State University of New York menjelaskan bahwa, secara garis besar, kreativitas bisa dibagi menjadi dua yaitu Little-C dan Big-CLittle-C berkaitan dengan ide-ide kecil yang memperkaya hidup kita, misal membuat resep baru dan sebagainya. Big-C adalah sesuatu yang langka dan berkaitan dengan terobosan yang signifikan.

Little-C dan Big-C memiliki satu kesamaan: sama-sama butuh bahan bakar berupa pengetahuan. Kita tentu tidak akan bisa membuat resep baru kalau kita tidak punya pengetahuan tentang rasa dari bawang, rasa dari daging, rasa dari sayuran, dan sebagainya. Kita juga tentu tidak akan bisa membuat format laporan baru kalau sebelumnya kita tidak mengetahui cara mengoperasikan komputer.

Oke, lalu apa hubungannya dengan AMBS vs Weatherhead? Menurut gue, pemikiran-pemikiran inovatif, lompatan ke Big-C, nanti juga akan terjadi secara alami seiring dengan berjalannya waktu dan naiknya pemahaman gue tentang dunia bisnis. AMBS jadi kendaraan yang ideal buat gue karena pengalaman praktis akan berjalan beriringan dengan berkembangnya konsep-konsep inovatif, sama seperti waktu gue otak-atik Excel dengan tujuan senang-senang dan akhirnya menghasilkan lompatan ke Big-C dengan mengembangkan berbagai platform yang belum pernah ada sebelumnya.

So, I’ll be going to Manchester!

mbs logo

-bersambung ke part 9-

===

Part-part sebelumnya:

===

Part 7: Kelley, Weatherhead dan Manchester

Sambungan dari Part 6

Untuk memenuhi syarat pendaftaran sekolah bisnis, selain skor IELTS, GMAT, resume, transkrip nilai waktu S1, ijazah, dan lainnya, salah satu persyaratan yang wajib dikumpulkan adalah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan esai yang diajukan oleh sekolah yang akan kita daftar.

Pertanyaan-pertanyaan esai ini, buat gue, cukup sulit untuk dijawab. Pertama, gue gak terbiasa merangkai kata dalam bahasa Inggris. Merangkai kata dalam bahasa Indonesia aja gue masih belepotan. Kedua, gue gak terbiasa menulis esai. Ketiga, pertanyaan-pertanyaannya udah kayak pertanyaan dari calon mertua. Susah cuy. Tapi ya namanya usaha. Mau gak mau harus dipelajari.

Ada beberapa sekolah yang jadi incaran gue. Karena gak mungkin mengerjakan persyaratan untuk semua sekolah sekaligus, gue harus buat prioritas berdasarkan deadline yang paling mepet. Setelah corat-coret di whiteboard, akhirnya tersusunlah jadwal gue untuk mengerjakan esai. Kelley Business School dari Indiana University jadi universitas yang pertama kali gue daftar karena deadline pendaftarannya paling cepat, yakni pada tanggal 1 Maret 2016.

Seperti segala sesuatu yang pertama kali dikerjakan, gue tentunya harus banyak belajar supaya dapat menghasilkan esai-esai yang berkualitas internasional. Waktu cari petunjuk tentang teknis mengerjakan esai, gue dapat informasi bahwa sebisa mungkin esai untuk sekolah yang benar-benar jadi incaran kita itu dikerjakan belakangan. Kenapa? Karena esai yang pertama kita hasilkan itu kualitasnya busuk banget. Esai kedua akan lebih baik dibanding esai pertama, dan esai ketiga akan lebih baik dibanding esai kedua.

Kelley Business School merupakan sekolah yang benar-benar jadi incaran gue. Gue sangat tertarik dengan kurikulum di Kelley Business School, terutama dengan mayor Business Analytics yang mereka tawarkan, sejak pertama kali gue mendengarkan presentasi dari Admissions Director sekolah tersebut di sebuah acara MBA Tour di Jakarta. Gue yang waktu itu gak ada pilihan, akhirnya dengan berat hati harus mendedikasikan rangkaian esai pertama gue untuk Kelley.

Singkat cerita, saran yang gue baca waktu itu ternyata benar. Waktu sekarang gue baca-baca lagi, esai yang berhasil gue rangkai waktu itu jadinya konyol banget. Secara keseluruhan, karena berkejaran dengan deadline pendaftaran, aplikasi yang gue susun untuk Kelley termasuk dalam kategori lemah. Gak heran, sekitar sebulan sejak pendaftaran, gue dapat surel dari Kelley yang isinya penolakan. I’m dinged without an interview.

Rangkaian esai kedua yang gue buat adalah 2 buah esai untuk Weatherhead School of Management dari Case Western University. Sekolah ini memiliki daya tarik tersendiri yakni fokus pada inovasi dan bisnis sebagai agen perubahan untuk dunia yang lebih baik. Esai-esai yang gue rangkai kali ini sudah lebih baik. Beberapa rangkaian bagus yang gue buat di untuk Weatherhead akhirnya gue daur ulang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan esai dari Manchester Business School.

Pendaftaran yang gue buat untuk Weatherhead akhirnya berbuah sebuah panggilan wawancara lewat Skype. Karena perbedaan waktu yang hampir 12 jam antara Amerika dengan Indonesia, jadwal wawancara mereka yang paling pagi di sana sama dengan malam hari di Indonesia. Dengan asumsi bahwa wawancara akan dilakukan dengan video call lewat Skype, gue sempat berpikir bahwa pencahayaan di kamar kost gue keliatannya akan kurang memadai kalau wawancara dilakukan pada malam hari. Akhirnya gue memutuskan untuk melangsungkan wawancara Skype di kantor.

Malam itu, gue menanti-nantikan jam 19.30 WIB dengan berdebar. Gue udah menyiapkan jawaban-jawaban dari pertanyaan yang kemungkinan akan ditanyakan selama wawancara supaya gue gak aiueo waktu disuruh menjelaskan. This is it. The last chance for my American dream. Ketika waktu sudah hampir menunjukkan pukul 19.30, gue udah duduk rapih di sebuah ruangan rapat dengan setelan blazer hitam, kemeja putih, dasi, dan celana bahan hitam.

Sebuah panggilan Skype tiba-tiba masuk. Julie DiBiasio. Gue langsung menganggkat panggilan tersebut. Tapi tiba-tiba gue bingung karena ternyata panggilan tersebut bukan merupakan video call seperti ekspektasi gue, melainkan panggilan suara biasa, tanpa gambar sama sekali. Setelah berminggu-minggu kemudian, gue baru sadar kalau itu kesalahan gue sendiri karena gue salah pencet, makanya jadi telepon biasa, bukan video call.

J: Hello, good morning!
G: Good morning! (padahal gue pengen bilang, cuy, di sini dah malem. wkwk)
J: How are you?
G: I am fine, thank you. How are you?
J: I’m doing just fine! Could you tell me your first name, please?
G: Yes. My first name is Yohanes (sambil mikir, lah ini orang nelpon gue tapi kok kagak tau nama gue? Buat verifikasi mungkin yak)
J: Okay, Yohanes, this wouldn’t take so long. I will ask you a couple of questions. Are you ready?
G: Yes, absolutely!

Percakapan kami kemudian berlangsung dengan tanya jawab. Semua berjalan lancar dan singkat. Sekitar 10 menit sejak dimulai, dia menyatakan kalau gak ada lagi pertanyaan untuk gue lalu gue dipersilakan untuk bertanya kepada dia. Gue waktu itu tanya-tanya tentang cuaca, tentang sebuah klub sosial bernama Net Impact, lalu bertanya kira-kira kapan keputusan mereka mengenai pendaftaran gue bisa diketahui. Dia berkata bahwa pengumuman akan dilakukan tanggal 9 Mei 2016 tapi ia akan mengusahakan pengumuman bisa keluar lebih cepat.

Sekolah selanjutnya yang gue pertimbangkan sebenarnya adalah Rotterdam School of Management dari Erasmus University. Gue bahkan udah mulai mengisi berkas-berkas ke dalam sistem pendaftaran online yang mereka miliki ketika akhirnya gue memutuskan untuk menunda pendaftaran. Ada beberapa hal yang ingin gue diskusikan lebih lanjut sebelum akhirnya memutuskan untuk melengkapi berkas-berkas lamaran gue ke sekolah ini.

Gue udah sempat janjian untuk ketemuan tanggal 30 April 2016 di lobby hotel Shangri-La dengan salah satu perwakilan sekolah tersebut. Naasnya, pada hari H, orang tersebut ga menampakkan batang hidungnya. Gue yakin kalau gue gak salah tempat dan gue datang sesuai jam yang ditentukan. Gue coba kontak nomor telepon yang dia berikan, tapi gak diangkat. SMS gue pun gak dibalas. Karena kebelet, sebelum gue memutuskan untuk cabut dari sana, gue akhirnya memutuskan untuk ke toilet terlebih dahulu. Muka orang tersebut akhirnya nampak sewaktu gue lagi dalam perjalanan ke toilet. Dia sedang duduk di sebuah sofa dan mengobrol dengan seseorang di salah satu sudut ruangan lobby. Wah, kacau ni orang. Gue celingak-celinguk dari tadi, rupanya dia lagi asik ngobrol sama orang lain. Akhirnya gue pergi dari situ dengan kecewa dan sejenak bersyukur karena gue belum jadi mendaftar ke sekolah itu. Gue sampai sekarang gak habis pikir sama kelakuan orang tersebut.

Fokus gue langsung beralih ke sekolah lain yaitu Alliance Manchester Business School (AMBS) dari University of Manchester. Berbeda dengan pengalaman-pengalaman gue yang sebelumnya, respon dari AMBS sangat cepat. Gak perlu menunggu terlalu lama, undangan wawancara dari AMBS sudah di tangan. Wawancara waktu itu berlangsung di lobby Intercontinental MidPlaza Jakarta pada tanggal 26 April 2016. Selain percakapan yang bertujuan untuk menggali lebih dalam tentang kepribadian dan kemampuan gue, kami juga ngobrol banyak hal termasuk kondisi pasar baja. Secara keseluruhan, gue sangat senang bisa ngobrol panjang dengan perwakilan dari AMBS. Hal yang paling gue suka dari AMBS adalah porsi praktik yang sangat besar serta proyek non-profit yang memberikan kesempatan kepada kami untuk memberikan dampak positif bagi orang lain.

Gue langsung merasa cocok dengan AMBS karena gue dari dulu mengamini bahwa belajar lewat terjun langsung lalu terus-terusan memperbaiki kesalahan yang pernah kita buat merupakan cara belajar yang paling cepat dan transformatif. Hal ini udah gue buktikan lewat proses belajar Excel yang gue lakukan. Awal-awal belajar, gue banyak melakukan kesalahan mendasar dalam menggunakan formula. Lewat belajar dari kesalahan, gue akhirnya menguasai berbagai jenis formula yang kemudian gue gabung-gabungkan jadi berbagai formula kompleks. Dengan sedikit hembusan imajinasi, formula-formula kompleks ini kemudian secara perlahan menunjukkan sejauh mana mereka bisa dikembangkan menjadi berbagai hal-hal ‘gila’. Karena hal itu, gue mulai mendambakan bisa sekolah di AMBS. Semakin gue tau lebih banyak, semakin gue kagum sama berbagai hal yang mereka rancangkan dalam kurikulum. Bahkan, saat ini AMBS serta beberapa fakultas lain di University of Manchester lagi berbenah dan membangun fasilitas-fasilitas baru. Artinya, sekolah ini aktif bertumbuh ke arah yang lebih baik.

28 April 2016, seperti biasanya, sekitar jam 4.30 gue udah bangun. Setelah benar-benar sadar, jam 5, gue menyalakan laptop lalu cek kotak masuk elektronik gue. Pandangan gue terpaku pada satu surel yang berjudul Weatherhead – Your Admissions Decision. What? Kok udah keluar aja pengumuman dari Weatherhead di tanggal segini? Begitu gue klik, rupanya bener. Pengumuman. Tapi isi pengumumannya gak langsung tertera di badan suratnya, gue harus klik satu link baru kemudian pengumuman itu keluar. Gue baca pengumuman itu secepatnya. Begitu yakin bahwa maksud surat itu memang benar-benar menyatakan bahwa gue diterima di Weatherhead, gue langsung menyambar HP gue lalu telepon ke rumah untuk ngasih kabar.
3 business schools

Setelah pengumuman dari Weatherhead keluar, artinya gue tinggal tunggu pengumuman dari Manchester. Sesuai dengan percakapan terakhir yang gue lakukan dengan perwakilan dari Manchester, tanggal 5 Mei adalah hari dimana mereka memberikan keputusan mengenai pendaftaran gue. Beruntung, saat itu bertepatan dengan libur nasional di Indonesia, jadi waktu itu gue menanti-nantikan pengumuman bersama dengan keluarga gue di Lampung.

Gue sempat menanti-nantikan pengumuman tersebut lewat kotak masuk elektronik gue sampai sekitar jam 11 malam tapi pengumuman tersebut tak kunjung datang. Akhirnya gue memutuskan untuk tidur, barangkali besok baru ada kabarnya. Orang tua gue waktu itu udah membesarkan hati gue, barangkali gue gak lulus karena gak datang-datang juga pengumumannya. Gapapa, yang penting udah dapat sekolah di Amerika. Begitu kata mereka pada waktu itu.

Pagi-pagi, jam 4.30, gue bangun lalu langsung cek HP. Ternyata pengumuman sudah keluar. Gue dinyatakan lulus. It feels so good to finally end a battle with victory. Akhirnya penantian dan kerja keras gue berbuah manis.

Kalau gue refleksikan lagi ke belakang, ada beberapa persimpangan besar yang harus gue ambil sebelum akhirnya bisa tiba di titik ini. Dari awal karir, gue diarahkan untuk ke Krakatau Posco. 3,5 tahun yang lalu, gue sama sekali gak tau apa yang akan terjadi ke depan. 2 tahun sejak gue mulai kerja di sana, gue ditawarkan beasiswa ke Korea Selatan oleh kantor dan gue memutuskan untuk menolak tawaran itu. Gue bahkan sempat buat sebuah tulisan yang mempertanyakan, apakah gue akan menyesal karena melewatkan begitu banyak kesempatan berharga. Sejauh ini gue beruntung. Gue sama sekali gak salah ambil keputusan.

Hari ini gue bersyukur sebesar-besarnya dan merayakan kehidupan manis yang gue cita-citakan karena langkah demi langkah, gue dapat tuntunan harus berjalan ke arah mana. I hope that kind of guidance would happen in your life too 🙂

===

Part-part sebelumnya:

===

My Business School Journey: Part 6

Sambungan dari Part 5

Banyak hal seru yang terjadi selama pra-PK dan PK LPDP. Salah satu hal yang tak terlupakan adalah saat gue mau menuju basecamp pra-PK di Depok dengan menggunakan bus dari Tangerang. Gue duduk di belakang supir. Di sebelah kanan gue ada seorang bapak setengah baya dengan pakaian yang cukup sederhana. Gak lama setelah gue duduk di samping bapak itu, tiba-tiba ia memiringkan badan lalu mendadak udara sekitar tercemar dengan bebauan mematikan. Kacau ni bapak! Kentut pula. Aseemmmmmmmm. Waktu gue pelototin, mukanya anteng banget. Seolah gak ada dosa.

Kejadian lain yang tak terlupakan selama pra-PK adalah pada saat gue harus kehilangan salah satu anggota penting dalam kelompok gue. Anggota gue di pindah begitu aja dari PK-56 ke PK-61 oleh PIC PK LPDP. Masalahnya, kepergian dia juga diiringi dengan larangan penggunaan ide dan konsep penampilan kelompok yang akan telah dia ajukan. Beruntung, gue kemudian segera menemukan satu anggota lain yang dapat dijadikan powerhouse ide-ide kreatif.

Gue berpikir, selama PK, waktu malam harinya gue bisa punya waktu untuk merangkai esai yang merupakan salah satu syarat untuk mendaftar ke sebuah sekolah bisnis. Rupanya gue salah total. Selama PK, setelah kegiatan berakhir, kami harus mengerjakan laporan harian. Alhasil, gue mengalami kurang tidur selama berhari-hari. Bisa tidur lebih dari 2 jam per hari merupakan kemewahan tersendiri.

Kami punya sebuah peraturan terkait tata tertib memasuki kelas. Kalau sebuah lagu class call berbunyi, artinya kami harus segera memasuki ruangan. Semua anggota harus sudah memasuki kelas dan menempel stiker di lembar absen sebelum lagu berhenti. Gue udah lupa cerita detailnya bagaimana, pokoknya suatu siang, gue ketiduran di ranjang sebelum sempat memasang alarm di HP. Alhasil, waktu lagu class call berbunyi, gue masih tidur di kamar. Waktu sadar bahwa ternyata gue gak ada, satu angkatan panik mencari-cari keberadaan gue. “Siapa yang sekamar dengan Yoto?! Woi, siapa yang sekamar dengan Yoto?! Buruan cek di kamar!”

Teman sekamar gue langsung melesat ke kamar pada saat itu. Dia lalu menemukan gue lagi terkapar di kamar dengan nistanya. Waktu dia membangunkan gue dan bilang lagu class call udah bunyi, gue langsung bangun dan lari-lari kayak orang kesetanan. Kejadian siang itu persis drama kejar-kejaran di film India dengan teman sekamar gue lari di depan dan gue lari terengah-engah di belakang.

Ketika gue akhirnya sampai depan pintu kelas, seorang ketua dari kelompok lain sudah menunggu dengan stiker yang sudah dikupas dan siap ditempel. Beberapa saat setelah gue masuk ruangan dan menempel stiker, lagunya berhenti. That was close! Gue utang budi banget sama temen gue itu sampai sekarang. Hahaha.

Gue sangat bangga dengan kelompok PK gue. Bukan karena gue telah mampu jadi teladan dan memimpin dengan baik, tapi karena anggota-anggotanya begitu luar biasa. Sebuah lagu yang begitu indah berhasil kami ciptakan untuk penampilan musikalisasi puisi kelompok, kedisiplinan anggota kelompok gue juga luar biasa. Banyak keberuntungan yang menyertai perjalan PK gue sampai akhirnya kami harus berpisah setelah menjalani 6 hari PK yang begitu luar biasa.

Selama PK, gue belajar banyak hal dari orang-orang luar biasa. Pemateri-pemateri yang dihadirkan bukanlah orang-orang sembarangan. Bupati Batang dan Bupati Bantaeng yang waktu itu hanya gue kenal lewat kisah di media-media, akhirnya bisa gue temui secara langsung. Mantan Menteri Perdagangan, Pak Gita Wiryawan, waktu itu juga menyempatkan diri untuk hadir dan memberikan kami masukan serta motivasi untuk tidak lupa mengabdi kepada negara setelah menyelesaikan studi. Sungguh sebuah pengalaman yang sangat berkesan.

foto di ismail marzuki pk 56

Sesi foto dengan tema perwayangan bersama para ketua kelompok + ketua angkatan pada saat penutupan acara PK

===

Part-part sebelumnya:

===

My Business School Journey: Part 5

Sambungan dari Part 4

Proses penyusunan aplikasi beasiswa LPDP sebenarnya sekaligus jadi momen buat gue untuk refleksi dan bertanya kembali sama diri gue, “Apa bener sekolah bisnis merupakan hal yang ingin gue ingin lakukan selama kurang lebih 2 tahun ke depan? Yakin akan meninggalkan semua ini dan mulai petualangan baru di rimba yang hampir gak gue kenal sama sekali?”

Walaupun gue merasa mantap dan akhirnya bisa menyusun rancangan studi yang solid, selama masa-masa penantian, gue sempat merasa pesimis dengan peluang gue untuk bisa tembus beasiswa. Man! Thousands of people are looking for the exact same thing! Latar belakang pendidikan teknik gue juga sempat menjadi kekhawatiran tersendiri karena gak terlalu linear dengan ilmu bisnis yang akan gue pelajari nanti. Tentunya rancangan studi lanjut di bidang teknik akan lebih mudah buat untuk disetujui oleh pihak pemberi beasiswa. Terlebih, saat gue melamar beasiswa LPDP, gue belum dapat kampus sama sekali.

Oleh karena pertimbangan-pertimbangan di atas, gue akhirnya sengaja lamar beasiswa LPDP di batch IV 2015 yang merupakan batch terakhir pada tahun itu. Jadi kalau misalnya gue gagal di batch IV, gue masih punya kesempatan satu kali lagi di batch I 2016. Di kesempatan ke dua, gue akan lamar beasiswa ke dalam negeri dengan tujuan ITB atau UI. Begitu pikiran gue waktu itu.

Kelulusan gue di batch IV 2015 merupakan hal yang gak gue sangka-sangka. Gue waktu itu masih santai-santai karena beranggapan kalau gue sepertinya gak lulus dan harus daftar sekali lagi di batch I 2016. Sesaat setelah pengumuman, gue langsung intens mencari sekolah. LPDP tidak mencarikan sekolah untuk para penerima beasiswa. Jadi, gue yang waktu itu belum punya sekolah dan melamar beasiswa hanya dengan modal konsep, akhirnya harus pontang-panting cari sekolah. Sempat terpikir untuk memakai jasa agen pendidikan untuk membantu gue dalam mendaftar ke sekolah-sekolah bisnis. Tapi, lagi-lagi, tinggal di Cilegon membawa hambatan tersendiri buat gue karena sama sekali tidak ada jasa agen pendidikan semacam IDP di sini.

Ada satu hal yang belakangan baru gue sadari, harusnya sembari menyusun aplikasi beasiswa, gue sambil proses melengkapi berkas dan melamar ke sekolah bisnis. Rasa pesimis gue waktu itu akhirnya membuat gue menunda untuk melengkapi syarat-syarat penting untuk melamar sekolah, salah satunya adalah skor tes bahasa Inggris. “Lumayan kan uangnya, kalau gak lulus beasiswa ini, gue gak perlu ambil tes TOEFL iBT atau IELTS segala”. Begitu isi pikiran gue pada waktu itu.

Waktu pengumuman kelulusan beasiswa tiba, gue sebenarnya udah pegang skor GMAT yang merupakan hasil tes resmi di UI Salemba. Sayangnya, skor gue waktu itu masih kurang memuaskan. I am caught off guard. Skor TOEFL atau IELTS belum ada dan skor GMAT masih di bawah target membawa masalah tersendiri karena itu artinya, gue harus menunda pendaftaran ke sekolah-sekolah sampai syarat-syarat tersebut lengkap.

Hal ini kemudian masih harus ditambah berat dengan rangkaian tugas pra-PK (Pra Persiapan Keberangkatan) dari LPDP yang membawa beraneka ragam tugas individu maupun kelompok. Beban ekstra juga harus gue jalani karena saat itu gue menjadi ketua dari salah satu kelompok.

overload

Karena begitu banyak yang harus gue kerjakan, akhirnya jadwal gue banyak yang keteteran. Awal Januari mau ambil tes IELTS, ternyata dimana-mana udah pada penuh. Beruntung di British Council saat itu masih buka sehingga langsung gue comot jadwal tes untuk Januari 2016 sementara tes GMAT ke 2 gue jadwalkan di awal Februari 2016.

Gue saat itu bahkan udah gak sempat belajar lagi untuk tes IELTS dan GMAT karena sebagian besar waktu gue habis di kantor, selain itu ada tugas-tugas dari LPDP serta amanah sebagai ketua kelompok yang harus gue jalanin. Sempat berkali-kali gue terpikir untuk mengundurkan diri dari posisi ketua kelompok tapi akhirnya urung karena sudah kepalang basah. Sekalian aja gue nyebur dan berenang.

Entah bagaimana, akhirnya gue berhasil melewati tes IELTS dengan skor yang jauh di atas ekspektasi gue. Padahal, gue udah sempat bikin rencana cadangan, jaga-jaga kalau harus mengulang tes IELTS karena skor yang belum memuaskan. Setelah tes GMAT yang ke 2 kalinya, skor gue juga naik 40 poin dibanding skor yang pertama. Ajaib. Gue juga gak ngerti kenapa bisa begitu. Pokoknya yang gue tau, skor gue udah lumayan memadai untuk mulai pendaftaran. Ini masih jauh dari akhir, ini baru awal dari perjuangan gue.

Permasalahan baru lagi-lagi muncul. Awal Februari, ternyata beberapa sekolah di Amerika sudah mulai menutup pintu untuk pendaftar internasional. Jadwal PK gue yang jatuh di bulan Februari juga gak membantu. Sempat terpikir untuk tukar jadwal PK, tapi Februari tetap pilihan terbaik yang gue punya. Saat-saat itu merupakan titik kritis dalam perjalanan gue menuju sekolah bisnis. Do anything wrong, and the whole thing will be blown up!

===

Part-part sebelumnya:

===

My Business School Journey: Part 4

Sambungan dari Part 3.3

Dengan berakhirnya tahapan seleksi wawancara, artinya gue tinggal tunggu pengumuman selanjutnya yaitu pengumuman hasil seleksi yang akan diberitahukan lewat surat elektronik pada tanggal 10 Desember 2015.

Semua upaya sudah dikerahkan, artinya tinggal pasrah sama hasilnya. Kelompok LGD kami waktu itu sempat buat grup whatsapp tapi grup itu gak terlalu rame. Mungkin karena baru mengenal satu dengan yang lainnya sehingga ada rasa canggung dalam interaksi kami. Tapi keadaan akhirnya jadi berbeda ketika hari yang dinanti-nantikan tiba juga. Grup whatsapp LGD kami mendadak rame. Gue dari pagi udah gak henti-hentinya refresh kotak masuk surat elektronik gue dan bolak-balik memeriksa kotak spam (barangkali nyelip masuk ke sana).

Ditunggu-tunggu sampai siang, masih belum ada juga pengumumannya. Gue waktu itu agak menyesal juga gak buat alamat surat elektronik khusus untuk LPDP. Terhitung ada sekitar 30 surat yang masuk pada siang itu. Tiap ada surat yang masuk, gue langsung deg-degan. Padahal begitu liat judulnya, yaelah, iklan gelas dari elevenia.. Untuk mengusir ketegangan, akhirnya gue sambil balas surat dari temen gue yang waktu itu ngajak diskusi tentang bitcoin.

Waktu menunjukkan sekitar pukul 4 sore lebih 20 menit waktu tiba-tiba, seorang teman di grup whatsapp LGD bilang kalau pengumuman sudah keluar. Whoaa!! Gue mendadak jadi super tegang. Gue yang waktu itu ada di depan PC kantor, berulang kali tekan tombol refresh supaya yakin kalau yang tertampil di monitor gue merupakan isi kotak surat yang terbaru.

Gak ada. Gak ada surat masuk saat itu. Gue mulai pasrah saat ada seorang teman menanyakan kepada yang lain, “Apa benar yang lulus saja yang dapat e-mail ? Kok saya gak dapat ya?”. Wah, kalau yang gak lulus itu gak dapat surat, artinya gue gak lulus dong? Begitu pikir gue dalam hati. Seorang teman membesarkan hati dengan bilang mungkin agak terlambat sedikit karena jumlah surat yang dikirim tidak sedikit.

Gue masih terus refresh sampai akhirnya sebuah surat dari LPDP nongol di kotak masuk gue.

penguman kelulusan LPDP

Waktu baca pengumuman itu, gue langsung mengepalkan tangan gue lalu berteriak YESSS!! yang besar di dalam hati. Beberapa teman langsung menanyakan gue perihal status beasiswa gue. Gue cuma jawab singkat, lalu langsung menuju ke luar ruangan untuk telpon orang tua gue.

Sore itu entah kenapa orang rumah sulit untuk dihubungi. Gue coba hubungi berkali-kali tapi gak diangkat. Setelah sekian kali gue hubungi, akhirnya panggilan gue itu diangkat oleh mama. Setelah mendengar kabar kalau gue lulus, mama langsung panggil papa yang lagi kerja di lantai dua rumah kami. “Pin! Telepon dari anes! Anes lulus beasiswa katanya!” Gue mendengarkan derap kaki papa terburu-buru menuruni tangga kayu sampai akhirnya terdengar suara papa berbicara lewat sambungan telepon.

“Halo, ya, kenapa nes?”

“Pa, ku lulus beasiswa..”

“Puji Tuhan! Puji Tuhan nak. Papa seneng sekali pokoknya.”

Mendengar pernyataan bahwa papa senang sekali merupakan hal yang istimewa buat gue. Seumur-umur, papa hampir gak pernah bilang puas atau senang atas apa yang gue buat. Gue menyadari bahwa memang dia sengaja melakukan itu supaya anak-anaknya tidak cepat puas dan membanggakan diri sendiri.

Sore itu jadi sore yang monumental buat gue, karena artinya gue selangkah semakin dekat dengan angan-angan gue untuk belajar lebih dalam soal administrasi bisnis.

===

Part-part sebelumnya:

===

Part 3.3: Pengalaman Tes GMAT dan Wawancara Seleksi LPDP

Sambungan dari Part 3.2

Awal 2015, gue mulai menyusun rencana tahunan. Salah satu rencana gue saat itu adalah mengenal lebih lanjut mengenai syarat-syarat mendaftar beasiswa LPDP dan syarat-syarat mendaftar sekolah bisnis.

Syarat-syarat pendaftaran beasiswa LPDP dengan mudah bisa gue akses lewat di sini. Untuk sekolah bisnis, umumnya pendaftaran dilakukan secara online dengan mengumpulkan jawaban pertanyaan essay, transkrip S1 dalam bahasa Inggris, skor TOEFL iBT atau IELTS, serta skor GMAT.

Nah, persyaratan terakhir bernama GMAT itu sama sekali asing buat gue. Setelah gue telusuri lebih lanjut, ternyata GMAT merupakan singkatan dari (Graduate Management Admission Test). Hampir semua sekolah bisnis mensyaratkan skor GMAT ini karena merupakan indikator yang cukup kuat untuk memperkirakan performa pemilik skor selama menempuh studi.

Pertanyaan-pertanyaan selanjutnya kemudian timbul. Format tesnya seperti apa? Soal-soal yang diujikan apa aja? Berapa lama durasi tesnya? Berapa biaya tesnya? Dan banyak lagi pertanyaan lainnya. Gue sempat berpikir untuk belajar secara mandiri mengenai GMAT ini. Tapi karena banyak hal yang sangat asing buat gue, akhirnya gue memutuskan untuk ambil les GMAT di Jakarta, tepatnya daerah Cikini.

Tinggal di Cilegon membawa tantangan tersendiri buat gue. Jarak yang cukup jauh membuat gue harus menginap di rumah teman gue atau di rumah bibi gue supaya bisa mengejar jadwal les yang mulai pagi-pagi. Gue sempat menginap di kost temen gue dan tidur di lantai dengan alas tikar waktu awal-awal les karena gue masih belum paham naik KRL. Setelah diajari dan akhirnya paham, gue memilih untuk menginap di rumah bibi gue.

Waktu ambil les, akhirnya gue baru mengerti bahwa secara umum GMAT dibagi menjadi 4 bagian yakni Analytical Writing Asessment (AWA), Integrated Reasoning (IR), Quantitative (Quant) yang terdiri dari problem solving dan data sufficiency, dan Verbal yang terdiri dari Reading Comprehension (RC), Sentence Correction (SC), dan Critical Reasoning (CR). Lebih detail mengenai GMAT bisa dibaca di sini.

Kalau penasaran dengan contoh soal GMAT, silakan klik link di bawah ini:

Selama ini gue cukup pede dengan kemampuan bahasa Inggris yang gue punya. Tapi seketika semua itu berubah ketika negara api menyerang GMAT menyerang. Hari pertama, di samping gue duduk seseorang yang merupakan lulusan S1 Akuntansi dari Amerika. Ketika menjelang makan siang, kami masuk ke pembahasan soal RC. Gue yang waktu itu udah kelaperan, dipaksa untuk menghadapi soal-soal RC yang bikin gue tambah laper. Waktu baca, gue banyak blank, gak paham sepenuhnya mengenai apa yang gue baca. Gue jawab sekenanya. Ketika tiba waktunya untuk memeriksa jawaban, orang disamping gue bener semua. Sementara gue? Gue bahkan sampe gak berani ngelirik lembar jawaban gue yang isinya salah semua itu.

Setelah makan siang, kami lanjut lagi belajar mengenai soal-soal GMAT. Kali ini kami membahas soal SC. Dari dulu, grammar merupakan kelemahan utama gue. Banyak kali, gue mengandalkan feeling untuk menjawab soal-soal grammar. Biasanya feeling gue lumayan tepat. Tapi, karena soal-soal verbal di GMAT yang jauh lebih susah dari soal TOEFL dan IELTS, gue tiba-tiba harus berhadapan dengan realita bahwa gue hanya bisa menjawab 2 dari 10 soal SC dengan benar. Hidup bisa sekeras ini ternyata.

Sampai akhir masa les, gue masih berjuang untuk bisa mengerjakan soal-soal verbal dengan baik. Karena verbal merupakan bagian terakhir dari GMAT, maka tantangannya berlipat ganda. Selain harus memiliki kemampuan yang mumpuni, kita juga dituntut untuk memiliki stamina pikiran yang luar biasa karena harus bisa mempertahankan fokus setelah berjibaku dengan soal-soal sebelumnya selama kurang lebih 2,5 jam.

Gue fokus mempelajari GMAT sampai sekitar awal bulan Agustus 2015. Setelah itu gue mulai mempersiapkan berbagai persyaratan untuk mendaftar LPDP termasuk ambil TOEFL ITP di UI Depok. Waktu itu gue milih tes di sana karena berdekatan jadwalnya dengan acara education fair di Jakarta. Gue masih berkutat dengan persyaratan LPDP sampai pertengahan Oktober 2015. Setelah selesai mengumpulkan berkas, gue dapat surel dari LPDP yang menyatakan bahwa berkas gue sudah tersimpan dalam sistem.

notifikasi submit pendaftaran LPDP

Selanjutnya, gue menunggu sekitar sebulan sebelum akhirnya keluar hasil seleksi dokumen di bulan November.

hasil seleksi dokumen LPDP
jadwal seleksi substantif

Ada beberapa orang yang harus menyediakan waktu selama 2 hari untuk melewati 3 tahapan selesi substantif yang meliputi penulisan esai, LGD, dan wawancara. Jadwal sudah diatur oleh LPDP. Gue termasuk beruntung karena dapat jadwal seleksi cuma 1 hari untuk menyelesaikan 3 tahapan tersebut.

Waktu hari H seleksi, gue datang kepagian. Jadwal gue harusnya setelah makan siang, tapi karena gak mau ambil resiko, akhirnya gue datang sekitar jam 11 di UNJ. Karena gak terlalu familiar dengan UNJ, walaupun udah tanya-tanya orang, gue masih nyasar. Gue bahkan sempat dicegat satpam saat gue masuk ke sebuah ruangan. “Lho, pak, mau ke mana? Bagaimana caranya bisa sampai di sini?” tanya seorang satpam itu ke gue. “Oh, gak tau pak. Saya cuma coba-coba masuk aja. Habisnya tadi saya tanya orang, diarahkan ke sini”. Wkwkwk, konyol banget deh.

Akhirnya setelah menemukan gedung serta ruangan yang benar, gue merasa tenang. Gue sempat ngobrol dengan beberapa orang pelamar beasiswa mengenai rencana studi, negara tujuan dan sebagainya.

Setelah makan siang, akhirnya gue dipanggil untuk menjalani proses penulisan esai yang disambung dengan LGD. Waktu itu gue dihadapkan dengan 2 pilihan topik. Gue akhirnya memilih topik mengenai pendidikan dan hubungannya dengan persaingan. Gue lebih memilih topik ini karena pilihan topik yang satu lagi lebih berat menurut gue, yaitu membahas mengenai nasionalisme yang mulai memudar. Beruntung, gue pernah nulis sebuah pemikiran yang menggambarkan sebagian kegelisahan gue mengenai pendidikan. Gue mengingat-ingat kembali tulisan yang pernah gue buat itu dan menjadikannya kerangka utama untuk mengembangkan esai.

Tahapan seleksi selanjutnya adalah LGD (Leaderless Group Discussion). Seperti namanya, di tahapan ini kita diberikan sebuah bahan bacaan berupa isu nasional yang selama beberapa bulan belakangan santer dibicarakan lalu mendiskusikannya. Waktu itu, kami mendapatkan topik mengenai permasalahan asap yang sampai mengganggu negara tetangga. Kami berdisuksi mengenai penyebabnya, serta langkah-langkah penanggulangannya. Diskusi kami berjalan cukup lancar dan konstruktif.

Tahapan selanjutnya adalah wawancara. Jeda waktu antara LGD dan wawancara ini cukup lama yakni sekitar 4 jam. Selama kurun waktu 4 jam tersebut, gue gak henti-hentinya menghela napas untuk mengusir ketegangan. Gue mencoba memfokuskan pikiran untuk menghapal rencana studi serta melatih kembali jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan umum yang kemungkinan besar ditanyakan.

Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore ketika gue akhirnya dapat giliran untuk wawancara. Gue dipanggil untuk menaiki tangga dan menuju ke sebuah meja wawancara. Di ruangan tersebut ternyata gak cuma gue yang akan di wawancara, ada beberapa meja lain sesuai dengan bidang keilmuan. Yang melamar bidang teknik akan menuju ke meja yang berbeda dengan yang dituju oleh pelamar beasiswa bidang ekonomi.

Saat gue menghampiri meja wawancara, hanya ada satu orang pewawancara di sana. Beliau mempersilakan gue untuk duduk sembari menjelaskan bahwa pewawancara yang lain sedang mengambil kopi. Gak lama kemudian, 2 orang lain datang, jadi total 3 orang yang mewawancarai gue pada saat itu.

Gue merasa rileks waktu wawancara. Karena sudah melakukan riset yang cukup mendalam, gue dapat menjawab dengan lancar pertanyaan-pertanyaan mengenai rencana studi, apa guna studi gue untuk Indonesia, dan pertanyaan-pertanyaan lain seputar perkuliahan yang akan gue jalani.

Rencana studi yang gue buat yaitu mengenai pengembangan sistem pelaporan otomatis dalam skala antar departemen serta hubungannya dengan inovasi dalam sebuah perusahaan. Menurut data dari kementerian perindustrian, sekitar 70% industri manufaktur di Indonesia punya daya saing lemah dan sangat lemah. Kunci utama daya saing sebuah usaha adalah efisiensi dan kecepatan. Gue mencoba menjelaskan secara sederhana mengenai keberhasilan gue mempercepat proses analisa manufaktur hingga 98 kali lebih cepat dengan mengembangkan sebuah sistem pelaporan otomatis. Gue melihat peluang sistem ini bisa ditarik ke skala yang lebih luas yakni skala antar departemen dalam sebuah bisnis. Dengan dikembangkannya sistem ini ke skala antar departemen, arus informasi bisa mengalir jauh lebih cepat. Tidak diperlukan lagi rapat untuk meminta data dari departemen lain. Apa yang dulu dicapai dalam waktu 3-4 hari, bisa dicapai dalam waktu 5 menit.

Belum sempat gue menjelaskan tentang Samsung yang berhasil jadi raksasa smartphone karena bergerak dengan inovasi yang sangat cepat, serta potensi sistem gue yang memungkinkan orang-orang marketing bisa langsung paham rangkuman kondisi yang terjadi di level operasional perusahaan, HRD bisa menyesuaikan kebijakan dengan berkaca pada informasi mengenai kondisi pasar terkini, serta banyak konsep-konsep lainnya, gue udah dipotong dan disodori pertanyaan lain. Keliatannya mereka sudah cukup menangkap garis besar dari inovasi yang gue tawarkan karena mereka sempat menyamakan apa yang mau gue kerjakan dengan pencapaian seorang iluwan Indonesia yang berhasil memecahkan persamaan Helmhotz dan menjadikan proses perhitungan persamaan tersebut menjadi 100 kali lebih cepat.

Yang banyak bertanya adalah bapak dosen di tengah dan bapak dosen di kanan gue. Hampir tidak ada pertanyaan mereka yang di luar prediksi gue kecuali pertanyaan mengenai apa itu integritas dan jelaskan contohnya seperti apa. Wawancara gue saat itu kurang lebih 80% bahasa Indonesia, sisanya bahasa Inggris. Gue juga gak ngerti kenapa, padahal waktu baca-baca kisah dari orang lain, bisa sampai 100% bahasa inggris.

Sampai akhir wawancara, seorang ibu di sebelah kiri gue sama sekali gak melontarkan pertanyaan. Di akhir, ibu tersebut hanya memberikan masukan mengenai hal yang harus gue lakukan untuk mengembangkan diri lebih lanjut terutama soal kontrol emosi. Waktu beliau berbicara seperti itu, barulah gue sadar kalau ternyata dari tadi beliau lagi membaca karakter gue lewat jawaban-jawaban yang gue lontarkan. Ternyata beliau adalah seorang psikolog. Gue yang tadinya sudah mau beranjak pergi dari sana, akhirnya kembali duduk untuk mendengarkan pertanyaan beliau.

Seorang bapak dosen di tengah berpesan sama gue, “Setelah lulus, akan banyak tawaran-tawaran luar biasa mendatangi kamu. Jangan lupa pulang dan mengabdi kepada Indonesia ya?”

“I will keep my integrity, sir. I will keep my integrity.”

===

Pemikiran-pemikiran lain:

===

My Business School Journey: Part 3.2

Sambungan dari Part 3.1

Beberapa saat setelah gue nolak tawaran dari manajer, gue dipanggil oleh kepala departemen untuk ngobrol di sebuah ruangan meeting. Dengan ditemani seorang teman yang bertindak sebagai penerjemah bahasa Korea, beliau kembali menyampaikan bahwa program beasiswa ini merupakan kesempatan yang sangat bagus untuk pengembangan karir gue. Sayang, lagi-lagi dengan berat hati gue harus menolak tawaran itu.

Beberapa orang mungkin menganggap gue sinting karena menolak tawaran yang sangat bagus itu. Mama termasuk orang yang menyayangkan keputusan gue untuk menolak tawaran untuk hidup enak serta terjamin. Gaji lebih dari cukup, disekolahin ke luar negeri, dan peluang karir yang sangat cerah begitu kembali dari luar negeri. Gak ada alasan buat gue untuk gak setuju dengan pendapat manajer, kepala departemen, dan mama gue. Memang mereka benar. Hanya saja, gue memilih untuk pegang sesuatu yang gue tau lebih benar: Bahwa Tuhan tau apa yang terbaik untuk hidup gue.

Bulan Oktober 2014, gue dapat kabar yang cukup mengejutkan. Salah satu teman gue sebentar lagi akan resign melanjutkan studi ke Australia. Gue banyak bertanya kepada dia tentang cara melamar beasiswa yang dia peroleh. Lewat dia, gue jadi tau tentang program beasiswa LPDP dari kementerian keuangan, sebuah program beasiswa yang kemudian mengantarkan gue mewujudkan angan-angan untuk sekolah bisnis di luar negeri.

Desember 2014, manajer kami mengadakan evaluasi kinerja masing-masing anggotanya selama setahun. Dia mengusahakan agar penilaian yang diberikan merupakan penilaian yang objektif. Kami dipanggil satu per satu ke dalam ruangan untuk menunjukkan rangkuman pekerjaan kami selama setahun. Sebuah usaha yang cukup baik.

Gue berdebar-debar menantikan giliran gue untuk masuk ke ruangan meeting. Setiap kali ada yang baru saja selesai, gue langsung menanyakan apa saja yang dibicarakan di dalam, bagaimana suasananya, seperti apa penilaian yang diberikan, dan sebagainya.

Singkat cerita, akhirnya tibalah giliran gue untuk masuk ke ruangan untuk menghadap sang manajer.

M: “Oh, Yoto! Come, sit down”
Gue: *cengar-cengir karena gugup lalu mengambil posisi di kursi yang telah disediakan
M: “Actually, you don’t need this evaluation”
Gue: “Huh? Why?”
M: “Because you are the best team member. You are very creative and innovative. I do not have any negative feedback for you”

Dia masih berbicara mengenai beberapa hal termasuk beasiswa yang gue lewatkan serta beberapa hal lain yang gak terlalu gue ingat. Gue saat itu lebih banyak diam sambil sesekali mengangguk-anggukkan kepala. Kurang lebih 10 menit kemudian, gue udah keluar dari sana.

Ada sebuah rasa yang mengganjal di dalam hati gue ketika gue dapat komentar semacam itu. Masalah utamanya adalah, gue gak merasa sudah berusaha dan bekerja dengan baik. Banyak juga kelakuan aneh-aneh yang gue buat di kantor.

Beberapa hal malah buat gue sedih dengan penilaian tahunan itu. Salah satunya adalah saat teman-teman gue yang loyalitas, kedisiplinan, serta semangat kerjanya sangat jauh di atas gue, malah minim apresiasi. Menurut gue, memberikan apresiasi atas kerja keras sama pentingnya dengan apresiasi atas hasil pekerjaan. Memang gue sudah berhasil mengembangkan sebuah terobosan yang cukup signifikan dengan menciptakan sebuah sistem pelaporan otomatis, tapi itu gak membuat gue otomatis jadi lebih baik dibanding yang lain. Terlalu banyak aspek yang luput dari penilaian.

Seorang teman bahkan cerita sama gue kalau dia langsung mencari tempat untuk menangis setelah keluar dari ruangan karena dia dibanding-bandingkan dengan gue dan disuruh mencontoh gue. Sore itu, seperti biasa yang gue lakukan saat pulang kerja, gue jalan sendirian ke parkiran motor dengan banyak hal di pikiran gue.

Everyone is a genius. But, if you judge a fish on its ability to climb a tree, it will live its whole life believing it is stupid – Albert Einstein

fish climb a tree

Kutipan pernyataan dari Albert Einstein serta gambar ilustrasi di atas menurut gue cukup menggambarkan apa yang gue yakini. Kalau kita ikan, kekuatan kita tentunya berenang begitu gesit di dalam air, atau kalau kita gajah maka tenaga luar biasalah kekuatan utama kita. Keberhasilan orang lain tentu baik untuk diamati, tapi tidak untuk ditiru mentah-mentah. Lebih baik berfokus sama kekuatan kita, lalu kembangkan kekuatan itu jadi sesuatu yang luar biasa. Jadilah perenang paling cepat, jadilah pemilik tenaga paling besar, jadilah pelari paling cepat, jadilah yang terbaik.

===

Pemikiran-pemikiran lain:

===

My Business School Journey: Part 3.1

Sambungan dari Part 2

Siang itu, di sekitar akhir 2014, manajer gue tiba-tiba manggil dan mengisyaratkan gue untuk ikutin dia jalan. Gue langsung curiga. Sepengetahuan gue, baru kali itu dia bertindak seperti itu. Gue akhirnya ikutin dia menuruni tangga dan berjalan ke luar gedung kantor sambil menebak-nebak apa yang akan dibicarakan nanti.

Yoto, what do you think about this company?“, tiba-tiba ia melontarkan pertanyaan seperti itu. Gue lalu menjawab sekenanya dengan mengatakan bahwa menurut gue perusahaan kita merupakan perusahaan yang besar namun masih banyak hal yang harus diperbaiki sehingga kita bisa jadi lebih baik lagi.

“Interesting! “. Dia lalu menjabarkan bahwa perusahaan pusat kami di Korea Selatan punya program tahunan untuk mengirimkan karyawan-karyawan dari anak perusahaan di berbagai belahan dunia untuk sekolah lagi. Menurut bos gue, ada beberapa orang yang direkomendasikan, salah satunya adalah gue.

Gue lalu bercerita bahwa orangtua gue akan sangat mendukung supaya gue lanjut sekolah lagi. Gue bertanya apa program sekolah yang ditawarkan termasuk studi di bidang bisnis? Ternyata enggak. Program yang ditawarkan adalah program magister teknik di salah satu kampus top di Korea Selatan (belakangan gue baru tau kalau ternyata kampus itu termasuk 10 kampus terbaik di Asia). Gaji pokok akan tetap dikasih + akan dikasih uang saku selama kuliah di sana. Ada masa ikatan dinas yang harus dijalani kalau gue ambil program ini, yaitu 6 tahun.

Dia kemudian mengajak gue masuk kembali ke kantor dan menunjukkan pilihan topik penelitian yang bisa gue ambil. Gue dikasih waktu satu hari untuk berpikir apakah akan menerima atau menolak tawaran itu. Siang itu bener-bener gak terasa nyata buat gue.

Beberapa saat setelah mendapat tawaran itu, gue mencoba menenangkan diri tapi gak berhasil. Akhirnya, gue cabut dari ruangan kantor lalu turun ke lantai bawah untuk telepon papa. Gue ceritakan apa yang barusan terjadi. Papa cuma bilang kalau pilihan ada di tangan gue. Apapun yang gue pilih maka papa akan dukung.

decision making

source: google.com

Waktu pulang kerja, gue cerita di beberapa grup pemuda gereja dan minta dukungan doa supaya gue bisa mengambil keputusan dengan bijak. Gak lama kemudian, seorang teman menyapa lewat chat. Gue bilang sama dia kalau gue lagi bingung, harus ambil keputusan seperti apa. Kalau dari gue, sebenernya gue gak mau ambil S2 di bidang metalurgi lagi. Gue udah memantapkan hati mau belajar lebih lanjut tentang bisnis. Tapi gue juga mikir, ini merupakan kesempatan yang sangat langka, terlalu sayang untuk disia-siakan begitu aja. Gimana kalau ternyata gue salah? Gimana kalau ternyata gue menyesal nantinya? Itu kan maunya gue, maunya Tuhan kayak apa sebenernya buat hidup gue?

Dia lalu cerita tentang pengalaman hidupnya. Dia bilang, intinya kalau memang Tuhan pengen kamu melangkah ke arah sana, Tuhan juga pasti akan kasih kamu keberanian untuk melangkah. Gue saat itu langsung teringat sebuah kisah yaitu kisah Daud vs Goliat (David vs Goliath). Kisah ini merupakan kisah yang sangat terkenal karena bercerita tentang Tuhan yang menyertai Daud sehingga ia yang begitu kecil dapat mengalahkan Goliat yang begitu besar hanya dengan sebuah ketapel.

Satu hal yang menginspirasi gue saat itu bukan perkara dia menang atau tidak, tapi lebih ke kisah pengambilan keputusan yang Daud lakukan. Menurut sejarah, Daud pada saat itu datang ke medan perang sebenarnya bukan untuk berperang tapi hanya untuk mengantarkan makanan kepada abang-abangnya yang sedang berjuang di medan perang. Waktu ia tiba di sana, Goliat sedang mengejek-ejek bangsa Israel. Singkat cerita, timbullah keberanian dalam hati Daud untuk melawan raksasa itu dan akhirnya menang. Memang ternyata benar kata teman gue, kalau Tuhan menghendaki kita melangkah ke sana, Tuhan akan berikan keberanian untuk melangkah. Where there is a vision, there is provision. Ketika Tuhan memberikan visi, Tuhan juga akan memperlengkapi kita sehingga kita dapat menjalaninya dengan baik.

Berdasarkan pemahaman itu, gue lalu mencoba untuk refleksi. Timbulkah keberanian dalam hati gue untuk ambil kesempatan ini? Ternyata enggak. Keberanian yang timbul malah keberanian untuk menolak tawaran beasiswa itu. Keesokan harinya, gue menghadap manajer gue lalu mengatakan bahwa gue sangat berterima kasih atas beasiswa yang telah ditawarkan. Gue sangat senang bisa terpilih jadi salah satu kandidat. Tapi, gue memutuskan untuk menolak tawaran tersebut. Dia lantas bertanya tentang alasannya dan berkata bahwa kalau menurut pepatah orang Korea ada 7 kesempatan besar yang bisa datang ke hidup seseorang. Menurut dia, tawaran beasiswa ini merupakan salah satu dari kesempatan besar itu.

Karena gue gak mungkin menjelaskan panjang lebar tentang Daud lawan Goliat, akhirnya gue cuma jelaskan salah satu alasan. Gue bilang kalau gue lebih memilih masa depan yang punya banyak opsi dibanding masa depan yang sudah jelas arahnya akan kemana. Gue masih mau coba banyak hal selama gue masih muda. Singkat cerita, akhirnya dia mengerti dan menghargai keputusan gue.

Beberapa saat setelah gue bilang begitu, hati gue terasa begitu damai. Sama sekali gak ada penyesalan. Gue merasa mantap dengan pilihan gue. Memang setelah nolak tawaran itu, gue masih belum tau harus melangkah ke mana. Yang gue tau cuma, toh Tuhan udah tuntun gue sejauh ini. Terserah mau jadi apa ke depannya.

===

Pemikiran-pemikiran lain:

My Business School Journey: Part 2

Sambungan dari Part 1

Waktu kuliah, selama tingkat 1 dan tingkat 2, gue bisa dibilang amburadul. Euforia diterima di ITB dan disebut-sebut sebagai putra terbaik bangsa ternyata gak berlangsung lama. Karena baru merasa bebas dari rezim semi militer yang biasa ditegakkan papa di rumah, waktu kuliah akhirnya gue sok bertindak semaunya. ABG banget pokoknya. Gue sempat keranjingan chatting waktu itu dan, sebagai akibatnya, sampai semester 4 IPK gue masih 2 koma sekian.

Keadaan mulai berbalik waktu 2 orang teman sejurusan mendapatkan beasiswa penuh dari salah satu perusahaan tambang besar di Indonesia dan setelah lulus dijamin langsung masuk kerja. Waktu itu gue bahkan gak memenuhi syarat untuk mendaftar karena IPK harus minimal 3. Kejadian itu jadi semacam wake up call untuk gue yang sudah terlalu lama santai.

Gue lantas putar otak dan teringat dengan program berbasis Macro Visual Basic di Excel yang diperagakan oleh salah satu dosen gue, Pak Zulfiadi Zulhan. Beliau merupakan alumni berprestasi dari RWTH Aachen dan beliau sempat memenangkan penghargaan Ludwig von Bogdandy yang merupakan penghargaan bergengsi di bidang besi baja. RWTH Aachen juga merupakan almamater dari mantan presiden kita, B.J. Habibie.

Gue masih ingat jelas bagaimana gue terpana saat hanya dengan beberapa sentuhan, sebuah titik di diagram ternary bisa muncul begitu saja, saat sebuah diagram keseimbangan fasa teoritis bisa terbentuk secara otomatis, dan banyak lagi program-program canggih yang beliau buat. It literally blew up my mind.

Suatu kali, seusai kuliah, gue menghampiri beliau dan menanyakan apakah beliau sempat belajar secara formal tentang pemrograman menggunakan Microsoft Excel. Beliau menjawab bahwa dia hanya mempelajari semua itu secara otodidak.

Gue melihat Excel merupakan alat yang bisa membantu gue untuk meningkatkan IPK. Karena IPK gue waktu itu jelek, artinya selain gue harus dapat nilai bagus di mata kuliah baru semester depan, gue juga harus mengulang beberapa mata kuliah. Supaya bisa mencapai target IPK, gue harus bisa hitung jadi berapa IPK gue kalau gue ulang mata kuliah ini, sebanyak sekian SKS, lalu nilainya berubah dari ini ke ini. Lalu gue juga harus bisa hitung berapa target IP gue per semester selanjutnya dan berapa nilai yang harus gue peroleh per mata kuliah supaya bisa mencapai target itu. Ribet pokoknya kalau mau hitung manual.

Karena gue punya gambaran jelas tentang apa yang mau gue buat, akhirnya mulailah gue mengerjakan program pertama gue di Excel. Berbekal ingatan yang karatan tentang fungsi-fungsi Excel, ubek-ubek informasi di internet, dan kegagalan berulang kali, singkat cerita, jadilah 2 program Excel pertama gue yang gue beri nama IPK Targeter dan IP Counter.

Kedua program ini akhirnya jadi tonggak sejarah baru buat gue. Pertama, karena sejak menggunakan dua program itu, IPK gue menanjak naik. Kedua, karena sejak saat itu gue mulai mengembangkan program-program yang jauh lebih rumit.

Waktu gue di Korea Selatan, gue sempat bikin program permainan yang membantu gue dan teman-teman untuk bisa hapal berbagai macam klausa di ISO 9001:2008, waktu keranjingan belajar online gue kembangin kuadran prioritas otomatis dan pengatur jadwal otomatis sehingga gue berasa punya asisten pribadi yang nyodorin gue hari ini harus ngapain, serta beberapa proyek gila yaitu pembuat laporan otomatis dan puisi otomatis.

Automatic Poetry

Salah satu contoh puisi yang dihasilkan secara otomatis dengan menggunakan analisa pola kalimat menggunakan Microsoft Excel

Pembuat laporan otomatis yang gue terapkan di kantor telah berhasil menghemat ribuan jam kerja dalam setahun. Gue melihat peluang untuk membangun program semacam itu karena tipe data yang dianalisa begitu-begitu aja, dan cara analisa datanya pun sebenarnya begitu-begitu aja. Kenapa gak lempar semua logika untuk menerjemahkan data mentah itu ke dalam Excel dan biarkan dia menghasilkan laporan buat kita? Jadi ibarat kita lembar ayam mentah, beras, dan bumbu-bumbu lainnya lalu tinggal klik satu tombol, keluar-keluar udah jadi bubur ayam. Kalau bisa begitu, ngapain capek-capek masak bubur dulu, lalu masak ayamnya dulu, baru kemudian dicampur dengan bumbu lain baru jadi bubur ayam kan?

Inovasi ini akhirnya mengantarkan gue menerima penghargaan dari kantor dan berbagai macam tawaran seperti yang pernah gue kisahkan di sini. Tawaran-tawaran yang datang begitu menggiurkan sehingga gue sempat minta pertimbangan dari orang tua serta tukar pikiran dengan beberapa teman.

Lebih lanjut tentang proses pengambilan keputusan gue waktu berhadapan dengan tawaran-tawaran luar biasa serta hubungan inovasi di kantor dengan aplikasi beasiswa gue akan dibahas di Part 3.

===

Pemikiran-pemikiran lain:

My Business School Journey: Part 1

Percaya atau tidak. Silakan.
100% kisah nyata, tanpa rekayasa

footprint.
Kisah perjalanan gue menuju sekolah bisnis bermula pada tahun 2012. Saat itu bahkan belum terlintas sama sekali di pikiran gue untuk sekolah lagi di bidang bisnis. Dulu yang sempat ada malah keinginan untuk ambil S2 di bidang metalurgi karena gue S1 Teknik Metalurgi. Keinginan ini berujung pada upaya melamar beasiswa dari pemerintah Australia bernama beasiswa ADS sesaat setelah gue lulus kuliah. Upaya ini akhirnya tidak membuahkan hasil seperti yang gue harapkan pada waktu itu.

Setelah berjibaku melamar kerja sana sini dan melewati peristiwa ini, akhirnya gue dinyatakan diterima di sebuah perusahaan baja terbesar di Asia Tenggara. Keluarga gue adalah saksi bahwa jauh sebelum gue melamar ke sana dan akhirnya diterima, gue dikasih tau lewat salah satu hamba-Nya kalau bakal terjadi sesuatu yang besar dalam hidup gue dalam waktu 6 bulan ke depan. Sesuatu yang gak pernah timbul dalam hati dan terpikirkan oleh gue.

Ternyata persis 6 bulan setelah janji itu, gue udah berada di Korea Selatan untuk menjalani pelatihan kerja. Sebuah negeri yang bahkan sama sekali gak pernah timbul dalam hati dan sama sekali gak pernah terpikir untuk gue injaki. Bingung? Heran? Sama! Sampai sekarang gue masih terheran-heran. Who could tell exactly what will happen in the next 6 months? Bahkan, waktu gue nulis draft kisah ini di kapal, anak kecil di sebelah gue tiba-tiba nyanyi balonku ada lima. Sesuatu yang gak bisa gue prediksi 1 detik sebelumnya. A Superior Being is in play, shaping my life’s story.

visa-korea-gue

Buat gue, bekerja di perusahaan yang sekarang merupakan langkah yang hanya didasarkan pada kepercayaan bahwa Tuhan tau yang terbaik untuk gue. Jujur, sempat terpikir masalah gaji awal yang sangat jauh dibanding teman-teman yang bekerja di sektor pertambangan. Namun, gue belajar untuk mengesampingkan hal itu dan memutuskan untuk melangkah walau gue gak bisa liat jelas ke depan akan seperti apa.

Waktu awal bekerja di perusahaan yang sekarang, keinginan gue untuk kuliah lagi di bidang metalurgi masih kuat. Waktu tau bahwa ke depan akan ada kesempatan bagi orang-orang terpilih untuk dikuliahkan di salah satu universitas ternama di Korea Selatan, sempat keluar pemikiran kalau gue dapat kesempatan itu, gue akan sambut dengan senang hati. Sempat terpikir juga untuk berkiprah sebagai seorang global engineer yang berkeliling ke berbagai negara untuk menerapkan keahlian gue.

Seiring dengan berjalannya waktu, gue yang saat itu sedang mencari jati diri akhirnya mulai meragukan semua pemikiran gue. Banyak waktu yang gue habiskan untuk bertanya-tanya. Gue harus melangkah ke mana setelah ini? Apa gue yakin kalau gue akan menekuni bidang metalurgi seumur hidup? Kelebihan gue apa sebenarnya? Gue sebenarnya orang seperti apa? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan membingungkan lainnya yang berputar-putar di kepala gue.

Gue memutuskan untuk terus melangkah, mencoba menikmati pekerjaan sembari belajar banyak hal untuk menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan gue. Salah satu hal yang gue syukuri dalam perjalanan gue selama 3 tahun ke belakang adalah kesempatan untuk belajar banyak hal secara gratis di Coursera. Gue tau tentang Coursera dari teman kantor. Dia menjelaskan waktu itu bahwa Coursera adalah website dimana kita bisa belajar mengenai berbagai hal keren dari berbagai universitas top dunia secara gratis. Malamnya, gue langsung buat akun di Coursera dan ambil kelas ini itu.

Belajar di Coursera membuat gue mampu memandang dunia dari sudut pandang yang sama sekali baru. Gue jadi mampu melihat hubungan banyak hal yang terjadi di sekeliling gue dari sudut pandang ilmu ekonomi, manajemen, bisnis, pemasaran, psikologi, dan lain sebagainya. Memang, pemahaman gue jauh dari sempurna tapi justru pemahaman yang belum sempurna itu membuat gue sangat bergairah untuk bisa belajar dan gali lebih dalam tentang hal-hal tersebut. Gue mulai menyadari bahwa ketika gue belajar tentang bisnis, gue merasa senang. Sebuah rasa yang jarang gue rasakan waktu belajar tentang hal lain.

Sejak saat itu gue memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di bidang bisnis kalau memang keadaan memungkinkan. Hal tersebut juga sempat gue nyatakan dalam korespondensi gue dengan Prof. Christian Terwiesch dari Wharton School of Management, University of Pennsylvania (berbagi peringkat dengan Harvard dan Stanford sebagai sekolah bisnis nomor 1 di Amerika).

wharton intro to ops mgmt

wharton intro to ops mgmt 2

Klik tombol di bawah ini untuk baca kisah selanjutnya
vvvvvv 

===
Pemikiran-pemikiran lain: