5 Cara Mengembangkan Diri Seperti Startup

Fenomena startup barangkali jadi lebih familiar belakangan ini berkat kehadiran berbagai perusahaan teknologi seperti Gojek, Uber, dan sebagainya. Seperti yang kita ketahui, startup adalah sebuah usaha yang berada di fase pertama. Startup punya potensi untuk berkembang jadi lebih besar jika ditangani dengan cara yang tepat.

Menurut gue, memandang pengembangan diri seperti perkembangan sebuah startup adalah sudut pandang yang unik. Setiap orang punya potensi untuk berkembang jadi pribadi-pribadi dengan pencapaian luar biasa jika berhasil mengembangkan diri dengan tepat. Penulis buku “Startup of You” berhasil membedah sudut pandang yang cukup unik ini menjadi beberapa poin yang menarik untuk disimak.

    1. Mindset Permanent Beta

      Dalam tahapan pengembangan barang atau jasa, fase beta adalah fase di mana rangkaian-rangkaian fitur sudah dapat berfungsi sebagaimana mestinya, tinggal di cek secara intensif dan menyeluruh sehingga ketika ketemu permasalahan, bisa diperbaiki. Setelah tahap beta, kita akan sampai ke tahap release candidate dan pada akhirnya konsep barang/jasa kita siap dipasarkan. Menjadi hal yang menarik ketika kita mengadopsi mindset permanent beta dan menerapkannya dalam hidup kita karena artinya kita memandang diri kita sebagai pekerjaan yang belum selesai dan terus aktif memperbaiki diri.

      .

    2. Competitive Advantage

      Supaya startup dapat berkembang secara berkelanjutan, dibutuhkan sebuah elemen yang bernama competitive advantage. Competitive advantage, atau keunggulan kompetitif, adalah sesuatu yang membedakan sebuah bisnis dibanding bisnis lainnya. Misal, ada dua toko sama-sama jualan mie tapi mie racikan toko A lebih enak rasanya dan harganya juga lebih murah dibanding toko B. Nah, rasa mie yang lebih enak dan harga yang lebih murah ini adalah keunggulan kompetitif toko A di banding toko B. Terang aja, kenapa juga harus beli mie di toko B kalau di toko A lebih enak dan murah?

      Untuk pengembangan diri juga demikian halnya. Apa keunggulan kompetitif kita? Hal apa yang membedakan kita dengan orang lain? Apa nilai lebih kita? Tentunya kita tidak perlu jadi lebih baik dibanding semua orang. Akan lebih mudah untuk mengembangkan kemampuan spesifik dan jadi ahli di sana. Kita bisa mulai dengan menyediakan waktu untuk mengerjakan proyek-proyek sampingan yang berguna sekaligus menarik minat kita.

      Dalam mengembangkan keunggulan kompetitif, ada 3 aspek penting yang harus diperhatikan:

      1. Aset (Aset lunak: kemampuan, pengetahuan, kenalan, dll. Aset keras: uang)
      2. Aspirasi (Apa yang ingin kita capai di masa depan)
      3. Kondisi Pasar (Seberapa berharga aset kita di mata pasar)

      .
      Ketiga hal ini saling berkaitan satu dengan yang lain. Kata pasar di sini bisa diterjemahkan menjadi pasar tenaga kerja, pasar beasiswa, pasar pasangan hidup, dan lain sebagainya.

      Kemampuan (aset) dan aspirasi yang tidak sesuai kondisi pasar tentu tidak dapat membawa kita berjalan terlalu jauh. Misal, kita kepengen banget punya pasangan (aspirasi), tapi kemampuan komunikasi kurang (aset komunikasi kurang). Kalau berhadapan dengan yang cakep sedikit langsung grogi, gak bisa ngomong. Ketemu calon mertua juga kurang ajar (aset etika kurang). Ya mana bakal laku kalau begitu (tidak sesuai dengan harapan pasar).

      Sebaliknya, terlalu fokus pada kondisi pasar tanpa memperhatikan aspirasi (kesukaan dan hasrat pribadi) juga tidak dapat membawa kita berjalan terlalu jauh karena tekanan psikologisnya akan semakin tinggi seiring dengan berjalan waktu. Misal, karena calon mertua menuntut calon menantunya adalah seorang pekerja kantoran supaya penghasilan lebih stabil, akhirnya bela-belain jadi pegawai supaya bisa menikah dengan anaknya. Padahal dia tidak terlalu senang bekerja di bawah orang dan lebih suka bertemu banyak orang ketimbang bekerja di belakang meja. Tentu hal semacam ini akan membawa beban mental tersendiri kalau dijalani dalam jangka waktu lama. Intinya, aset, aspirasi, dan kondisi pasar harus seimbang.

      Kalau dalam kasus gue, gue punya aset di Excel, kemampuan bahasa Inggris yang sangat baik, story telling, rekam jejak inovasi yang berdampak cukup besar, dll. Gue juga punya aspirasi untuk sekolah bisnis. Harapan pasar (pasar beasiswa dan pasar sekolah bisnis) sinkron dengan aspirasi serta aset yang gue miliki sehingga akhirnya gue berhasil mendapatkan kursi di sekolah bisnis dan juga meraih beasiswa dari LPDP.

      aset, aspirasi, kondisi pasar

      Contoh hubungan seimbang antara aset, aspirasi, dan kondisi pasar

      .

    3. Plan to Adapt

      Banyak nasehat berkata bahwa kita harus menentukan kita ingin jadi apa 10 tahun ke depan, lalu membangun rencana untuk mencapainya. Banyak juga nasehat yang berkata bahwa kita harus menemukan apa yang menjadi hasrat atau passion kita lalu mengejarnya.

      Pendekatan seperti itu tidak salah namun memiliki kekurangan yang cukup serius. Di dunia yang serba dinamis seperti saat ini, segala sesuatu berubah begitu cepat. 15 tahun lalu, layar ponsel masih satu warna, nada deringnya begitu sederhana serta hampir tidak ada ponsel yang memiliki kamera. Sekarang? Sudah tidak perlu dijelaskan lagi. Lihat saja sekeliling kita.

      Di tengah berbagai perubahan tersebut, banyak perusahaan ponsel ternama yang sekarang hampir tidak terdengar lagi bunyinya. Nokia dan Blackberry adalah contoh dari raksasa teknologi yang gagal beradaptasi lalu kemudian tenggelam ditelan kerasnya persaingan.

      Sekitar 9 tahun lalu, pada tahun 2007, sebagian besar mahasiswa di fakultas teknik pertambangan dan perminyakan ITB ingin masuk ke jurusan teknik perminyakan. Hampir tidak ada yang ingin melanjutkan ke teknik metalurgi. Wajar saja, dulu harga minyak melambung tinggi sehingga gaji lulusan baru di bidang teknik perminyakan sangat menggiurkan. Sekarang? Harga minyak dunia anjlok. Hampir tidak ada yang memperkirakan harga minyak bisa jatuh karena berasumsi bahwa minyak akan terus dibutuhkan. Banyak sarjana teknik perminyakan yang kena pemutusan hubungan kerja sementara lahan pekerjaan baru di bidang metalurgi semakin banyak. Tanpa bermaksud menjelekkan atau memuji salah satu jurusan, ini fakta yang harus kita hadapi. Siapa yang tidak siap menghadapi perubahan akan tergilas. Hal ini pula yang jadi salah satu dasar gue untuk melanjutkan studi ke administrasi bisnis.

      .

    4. Pursue Breakout Opportunities

      Pergerakan karir yang signifikan seringkali ditandai dengan kehadiran momen breakout. Momen breakout adalah momen dimana pergerakan karir akhirnya menemui momen akselerasi atau percepatan. Contoh: akselerasi karir seorang artis yang memenangkan Oscar, atau akselerasi karir seorang staf karena sukses besar dalam menangani proyek raksasa.

      Teman gue mendapat momen breakout ketika popularitas akun twitter yang dia kelola meledak. Banyak kesempatan berdatangan setelah itu. You name it, pendekatan dari partai politik, tawaran beasiswa, tawaran pekerjaan, dan lain sebagainya. Dia mengambil salah satu kesempatan itu lalu melakukan lompatan jadi seorang manajer di salah satu perusahaan besar di ibukota.

      Gue sendiri juga sempat mengalami momen breakout waktu gue sukses bikin terobosan dengan bikin sistem pelaporan otomatis. Gak lama setelah itu, gue dapat promosi dan tawaran beasiswa master di bidang teknik dari kantor.

      How do my friends and I do that? Just do something. Lakukan sesuatu. Manfaatkan waktu dengan baik. Semakin variatif kegiatan yang kita lakukan, makin besar kesempatan kita untuk menggabungkan ide-ide, orang, dan tempat yang tepat menjadi kesempatan-kesempatan baru. Dalami hal baru, pergi bertemu dengan orang-orang baru, pergi ke tempat baru. Sosialisasi gue dengan teman kantor kemudian mengantarkan gue mengenal Coursera, MBA, serta kesempatan beasiswa LPDP. Sosialisasi gue dengan komunitas pemuda gereja di Cilegon dan Serang mengantarkan gue pada kesempatan pengabdian masyarakat di desa Rancabuaya yang kemudian menjadi salah satu aset penting bagi gue untuk meraih beasiswa LPDP. Go pursue your breakout opportunities.

      .

    5. Take Intelligent Risks

      Resiko adalah bagian dari hidup. Cepat atau lambat, kita pasti akan berhadapan dengan berbagai resiko. Resiko bisa hadir dalam berbagai wujud. Memilih untuk pergi ke puncak dibanding jalan-jalan ke pantai? Ada resikonya. Bisa jadi jalan ke puncak macet total dan akhirnya malah sama sekali ga bisa menikmati perjalanan. Memilih untuk menerima tawaran kerja di perusahaan A dibanding perusahaan B? Ada resikonya. Bisa jadi memang gaji di perusahaan B lebih kecil tapi ternyata lingkungan kerjanya jauh lebih nyaman dibanding perusahaan A. Atau ternyata kita gak pilih kedua perusahaan itu, tidak A, tidak juga B. Tetap ada resikonya. Bisa jadi ternyata kita tidak dapat tawaran pekerjaan lagi selain dari A dan B karena mendadak situasi ekonomi menjadi sulit.See? Resiko ada di mana-mana. Bahkan diam sekalipun mengandung resiko.

      Mengambil resiko dengan bijak adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi sebelum akhirnya memperoleh breakout opportunities. Seorang artis harus memilih film yang akan dimainkan sehingga bisa benar-benar menampilkan karya terbaiknya. Gue sendiri harus berhadapan dengan resiko yang cukup besar ketika menolak tawaran beasiswa dan kesempatan training di Korea. Temen gue harus berhadapan dengan resiko juga ketika menolak pinangan dari partai politik dan beasiswa yang ditawarkan. It’s okay to take risks. Mungkin saat itu orang-orang melihat kami sebagai orang bodoh karena menolak berbagai kesempatan luar biasa. Ternyata? Di balik resiko yang kami ambil, kami mendapatkan hal yang jauh lebih baik.

Kesimpulannya, be a permanent beta. Mulailah berinvestasi dalam mengembangkan kemampuan-kemampuan baru, ambil resiko-resiko dengan bijak, kejar kesempatan-kesempatan untuk melejit, dan jangan pernah berhenti bergerak serta beradaptasi. Never stop starting!

glm wp

Iklan